Dari Buruh Pabrik ke Pengusaha Kuliner: Perjalanan Ryan Azhar Membangun Seafood Receh

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
seafood Ryan Azhar

Forum Zakat — Ryan Azhar tak pernah menyangka, keputusan besar yang diambilnya untuk meninggalkan pekerjaan sebagai buruh pabrik pada 2019 justru mengantarkannya menjadi pengusaha yang mulai meraih kesuksesan. Bersama istrinya, ia merintis bisnis kuliner Seafood Receh, sebuah usaha makanan laut yang kini menghasilkan omzet puluhan juta rupiah per bulan.

Awalnya, Ryan mencoba peruntungan dengan berjualan sate cumi. Namun, pandemi COVID-19 yang melanda pada akhir 2019 mengubah arah bisnisnya. Konsep Seafood Receh yang semula tidak direncanakan justru berkembang pesat dan diminati banyak pelanggan.

“Dulu saya bekerja sebagai buruh pabrik selama delapan tahun di perusahaan manufaktur nasional. Pada 2019, saya memutuskan untuk resign dan mulai berjualan sate cumi, dengan Seafood Receh sebagai sampingan. Tak lama, pandemi datang, dan justru Seafood Receh yang berkembang,” ujar Ryan.

Namun, perjalanan bisnisnya tidak selalu mulus. Tahun 2022 menjadi titik terendah ketika transisi dari pandemi ke era normal mengubah perilaku konsumen. Omzet yang semula mencapai Rp 60-70 juta per bulan anjlok drastis hingga hanya Rp 5 juta per bulan.

“Seafood Receh ini konsepnya ghost kitchen. Waktu pandemi, konsep ini sangat diminati, tapi setelah new normal, pola belanja konsumen berubah. Penjualan turun drastis sampai 70-80 persen,” kenang Ryan.

Di tengah keterpurukan, Ryan menemukan titik terang melalui program Rumah Bertumbuh yang diinisiasi oleh Rumah Amal Salman. Awalnya, ia hanya mencari pendanaan untuk mempertahankan usahanya. Namun, program tersebut justru mengantarkannya ke dalam dunia mentoring bisnis yang mengubah cara pandangnya dalam mengelola usaha.

“Para mentor yang dihadirkan benar-benar memberikan cara pandang baru kepada saya dan rekan-rekan UMKM lainnya untuk mengelola usaha. Bahkan yang paling berkesan, bisnis saya mendapatkan mentor tersendiri yang membimbing kami selama kurang lebih 6 bulan,” kata Ryan.

Ryan menambahkan, mentor bisnisnya ini tidak pelit ilmu. Bahkan sang mentor tidak segan berbagi strategi yang bisa diterapkan langsung pada bisnisnya. Melalui program Rumah Bertumbuh, ia juga diajarkan bagaimana membuat product-market fit, manajemen stok, termasuk pengelolaan keuangan secara mendetail.

Perlahan, Seafood Receh kembali bangkit. Kini, omzetnya stabil di kisaran Rp 28-32 juta per bulan. Bahkan, pada November lalu, Ryan juga mulai membuka cabang baru di Bekasi. Ia juga menargetkan untuk membuka lima cabang tambahan dalam waktu dekat.

Tidak berhenti di situ, ia juga memiliki visi besar untuk mengembangkan Seafood Receh hingga memiliki 100 outlet di berbagai daerah. Secara tidak langsung, ia juga memiliki cita-cita untuk bisa ikut serta memberdayakan nelayan pesisir sebagai pemasok utama bahan baku bagi bisnisnya.

Hal ini diamini oleh Kepala Program Rumah Bertumbuh, Muhammad Akbar Fajar Siddiq, yang menilai profil Ryan sebagai pemilik bisnis memiliki kriteria yang diharapkan oleh program Rumah Bertumbuh. Seafood Receh yang dikelola Ryan memiliki potensi bisnis yang sangat baik. Terlebih, pribadi Ryan beserta istrinya yang sepanjang program mentoring sangat aktif dan progresif dalam melaporkan perkembangan bisnisnya.

“Kang Ryan ini selain getol dan bersemangat membangun bisnisnya, ia juga memiliki visi mulia, yakni bagaimana bisnisnya ini juga bisa ikut memberdayakan para nelayan pesisir yang selama ini menjadi supplier Seafood Receh,” pungkas Fajar.