Forum Zakat, Jakarta — Ruang Tengah Kolaborasi kembali menggelar Multi Stakeholder Forum (MSF) sebagai bagian dari upaya memperkuat kolaborasi lintas pihak dalam pengentasan kemiskinan. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom ini menjadi ruang berbagi perkembangan implementasi program sekaligus konsolidasi antar pemangku kepentingan.
Forum ini menitikberatkan pada progres implementasi MSF di tiga desa prioritas, yang menjadi lokasi percontohan pendekatan kolaboratif dalam penanggulangan kemiskinan berbasis komunitas. Ketiga desa tersebut dipilih karena memiliki tantangan kemiskinan yang kompleks, sekaligus potensi untuk dikembangkan melalui intervensi terpadu lintas sektor.
Dalam sambutannya, Udhi Tri Kurniawan menegaskan bahwa MSF bukan sekadar forum diskusi, melainkan platform kerja bersama (co-creation) yang mendorong integrasi program antar aktor, mulai dari pemerintah, lembaga zakat, sektor swasta, hingga masyarakat sipil. Ia menekankan pentingnya memastikan bahwa setiap intervensi yang dilakukan tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling menguatkan.
“MSF ini menjadi ruang untuk memastikan bahwa upaya pengentasan kemiskinan dilakukan secara terarah, terukur, dan kolaboratif. Kita ingin memastikan dampaknya nyata di tingkat desa,” ujarnya.
Sejauh ini, implementasi di desa prioritas menunjukkan beberapa capaian awal, antara lain:
- Penguatan koordinasi antar pemangku kepentingan di tingkat lokal, termasuk pemerintah desa dan mitra program
- Pemetaan kondisi sosial-ekonomi masyarakat secara lebih terintegrasi, sebagai dasar perencanaan intervensi
- Mulainya sinkronisasi program antar lembaga, sehingga mengurangi tumpang tindih bantuan dan meningkatkan efektivitas
Selain itu, forum juga membahas berbagai tantangan yang dihadapi di lapangan, seperti keterbatasan data terpadu, kapasitas kelembagaan desa, serta kebutuhan penguatan peran fasilitator lokal.
Ruang Tengah Kolaborasi menegaskan bahwa ke depan, MSF akan terus difungsikan sebagai mekanisme monitoring dan evaluasi bersama, sekaligus ruang belajar antar desa untuk mereplikasi praktik baik yang telah berjalan.
Melalui pendekatan kolaboratif ini, diharapkan upaya pengentasan kemiskinan tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi mampu menciptakan perubahan yang berkelanjutan dan berbasis kebutuhan riil masyarakat di tingkat akar rumput.









