Forum Zakat, Jakarta — Forum Zakat (FOZ) kembali menggelar diskusi rutin Ruang Tengah bertajuk “Resiliensi Gerakan Zakat di Tengah Krisis” secara daring pada Jumat (24/07/2026). Forum ini menjadi ruang diseminasi riset dari amil Yatim Mandiri yang sukses mengimplementasikan program ASA Anak Indonesia, sebuah wadah kolaborasi masyarakat sipil dalam merespon lonjakan jumlah anak yatim akibat pandemi Covid-19.
Dalam sambutannya, Ketua Bidang V Inovasi dan Literasi FOZ, Dr. Eko Muliansyah, menekankan pentingnya membangun rasa percaya diri para amil untuk menyampaikan riset dan hasil kerja lapangannya ke publik.
“Sejauh ini kita kekurangan wadah dan kepercayaan diri untuk menyampaikan riset amil. Ruang Tengah ini menjadi upaya untuk membuka kesempatan selebar-lebarnya bagi siapa saja yang memiliki riset yang sudah diujikan. Melalui Bidang V, kami berharap dapat memfasilitasi publikasi ilmiah demi membesarkan ruang lingkup gerakan perzakatan,” ujar Dr. Eko Muliansyah.
Narasumber menambahkan bahwa pandemi Covid-19 menghadirkan krisis kesehatan yang memicu timbulnya “pandemi tersembunyi” (hidden pandemic), yakni melonjaknya anak yatim baru akibat meninggalnya orang tua di usia produktif. Menurut data global, dari 5 juta kematian akibat Covid-19, terdapat sekitar 5,2 juta anak yang kehilangan pengasuhnya. Di Indonesia sendiri, Litbang Kompas (2021) mencatat lebih dari 30.000 anak menjadi yatim, piatu, atau yatim piatu.
Membaca Dinamika Kolaborasi Melalui Modal Sosial
Peneliti riset sekaligus Brand Manager Yatim Mandiri, Try Sujatmiko Ramadhani, S.Si., membedah efektivitas Gerakan Zakat merespon krisis melalui skema modal sosial: bonding (ikatan internal), bridging (jembatan antarlembaga), dan linking (hubungan vertikal ke pemerintah).
Miko menjelaskan bahwa pada tahap awal (bonding), setiap Lembaga Amil Zakat (LAZ) bergerak secara mandiri merespon dampak pandemi. Per 17 Agustus 2021, tercatat 35 LAZ anggota FOZ telah menyalurkan bantuan bernilai lebih dari Rp16,6 miliar kepada 37.364 anak.
“Fondasi utama dari gerakan di internal lembaga adalah pelembagaan budaya altruisme dan identitas keagamaan. Amil, donatur, dan relawan bergerak atas dasar empati serta keyakinan bahwa bekerja di jalur kemanusiaan adalah bentuk ibadah. Namun, ikatan eksklusif (bonding) yang terlalu kuat di masing-masing internal lembaga sempat menimbulkan tantangan tersendiri, seperti terjadinya double campaign maupun double intervensi bantuan di lapangan,” ungkap Try Sujatmiko Ramadhani.
Untuk mengatasi overlapping data dan penyaluran bantuan tersebut, dibentuklah platform kolaborasi ASA Anak Indonesia di bawah naungan Forum Zakat sebagai bentuk jembatan (bridging). Melalui Standar Operasional Prosedur (SOP) yang disepakati bersama, intervensi bantuan dipetakan menjadi empat klaster: bantuan hidup dasar, bantuan psikososial, beasiswa pendidikan, dan bantuan ekonomi.
Menghubungkan Sektor Sipil dan Pemerintah (Linking)
Kolaborasi ini meluas (linking) dengan menggandeng pemangku kepentingan vertikal seperti Kementerian Agama RI, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), serta mitra profesional seperti Asosiasi Psikologi Islam (API) dan Kampoong Hening.
Meski kolaborasi ini berhasil mengintegrasikan ratusan data anak dari 22 provinsi di Indonesia, Miko menguraikan sejumlah tantangan strategis ke depan, di antaranya integrasi data antara LAZ dan pemerintah yang belum sepenuhnya sinkron, penanganan keberlanjutan (follow-up) bagi mustahik yang telah terdata, serta formulasi skema reaktivasi kolaborasi agar semangat kerja sama ini tetap terjaga tanpa harus menunggu terjadinya krisis atau bencana baru.
Melalui diseminasi ini, Forum Zakat berharap riset-riset praktis dari para amil dapat terus didorong untuk melahirkan kebijakan gerakan zakat yang berbasis data (data-driven) serta memperkuat keterlibatan masyarakat sipil dalam pembangunan nasional.








