Forum Zakat, Jakarta – Di tengah geliat pertumbuhan komunitas Muslim global, sebuah percakapan hangat lintas negara terjadi dalam ruang virtual. Bidang III Jaringan & Kolaborasi FOZ menghadirkan Ruang Tengah bertajuk “Kolaborasi Menilik Kehidupan Muslim di Jepang & Inisiasi Rumah Umat di Chiba” pada Kamis, 23 Juli 2026. Forum ini bukan sekadar diskusi, tetapi menjadi jembatan empati sekaligus ajakan nyata untuk menghadirkan solusi.
Kegiatan ini menghadirkan dua sosok yang berada di garis depan dakwah di Jepang: Dr. Kyoichiro Sugimoto, Chairman Chiba Islamic Cultural Center, dan Dr. H. Ach Firman Wahyudi, Founder & Advisor RUUMUICHI sekaligus Executive Director Dompet Dhuafa Japan.
Ketua Bidang III FOZ, Kholaf Hibatulloh, dalam sambutannya menyoroti fakta yang jarang terdengar: Muslim di Jepang baru sekitar 0,3% dari populasi, namun pertumbuhannya cukup signifikan. Sayangnya, pertumbuhan ini belum diiringi dengan ketersediaan tempat ibadah yang memadai.
Dari Chiba, Dr. Sugimoto berbagi kisah panjangnya selama lebih dari 30 tahun berdakwah di Jepang. Ia bukan hanya mengajar, tetapi juga membangun jembatan pemahaman, lebih dari 6.000 kelas telah ia jalankan untuk mengenalkan Islam kepada masyarakat Jepang. Bahkan, ia memiliki misi besar: mendistribusikan 1 juta terjemahan Al-Qur’an dalam bahasa Jepang.
“Kami membutuhkan lebih banyak masjid dan pusat kebudayaan Islam. Ini bukan hanya untuk Muslim, tapi juga untuk masyarakat Jepang agar bisa mengenal Islam dengan lebih baik,” jelas Dr. Sugimoto.
Salah satu fokus utama yang dibahas adalah inisiasi Masjid Al-Muttaqin di Chiba, sebuah harapan baru bagi Muslim setempat. Saat ini, keterbatasan ruang sholat, minimnya akses pendidikan Islam, hingga tantangan administratif menjadi realitas yang dihadapi sehari-hari.
Meski demikian, harapan tetap tumbuh. Dr. Firman Wahyudi menegaskan pentingnya kolaborasi lintas negara dan peran Indonesia sebagai model keberhasilan pengelolaan masjid dan filantropi Islam.
Diskusi juga menyinggung berbagai tantangan, termasuk resistensi terhadap pembangunan masjid. Namun, menurut Dr. Sugimoto, hambatan tersebut tidak merepresentasikan mayoritas masyarakat Jepang dan lebih bersifat politis. Dengan pendekatan yang tepat, transparansi, dan kepatuhan terhadap regulasi, peluang tetap terbuka lebar.
Lebih dari sekadar forum berbagi, Ruang Tengah kali ini menegaskan satu hal: dakwah di Jepang membutuhkan dukungan global. Wakaf produktif, kolaborasi antar lembaga zakat, hingga pertukaran pengetahuan menjadi kunci untuk menghadirkan perubahan yang berkelanjutan.
Di akhir sesi, semangat kolaborasi terasa semakin kuat. Dari ruang virtual itu, lahir satu kesadaran bersama bahwa membantu Muslim minoritas di Jepang bukan hanya tentang membangun masjid, tetapi juga merawat harapan, memperluas pemahaman, dan menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi semesta. FOZ mengajak seluruh lembaga zakat, filantropi, dan masyarakat luas untuk menjadi bagian dari gerakan ini.









