Forum Zakat, Jakarta — Data tidak cukup hanya dikumpulkan. Bagi organisasi pengelola zakat, data perlu diolah menjadi dasar pengambilan keputusan, diterjemahkan ke dalam tindakan, dan pada akhirnya menghasilkan perubahan yang nyata bagi masyarakat.
Pesan tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan Sekretaris Umum Forum Zakat (FOZ) sekaligus GM Program Dompet Dhuafa, Udhi Tri Kurniawan, M.Si., saat menjadi narasumber pada ZEDX 2026 yang digelar Sekolah Amil Indonesia di Paragon Community Hub, Jakarta Selatan, Rabu (23/9/2026).
Dalam sesi bertajuk “Reimagining Program: Mengubah Tantangan Menjadi Gagasan dan Dampak”, Udhi mengajak para amil melihat kembali proses perumusan program. Menurutnya, program perlu berangkat dari kemampuan membaca situasi secara tepat, bukan sekadar merespons gejala yang terlihat di permukaan.
Pertanyaan tentang apakah organisasi telah membaca situasi secara benar berbasis data menjadi titik awal pembahasan. Hal ini penting karena pengelola program berisiko terjebak pada gejala kemiskinan, sementara persoalan utama dan potensi yang dimiliki masyarakat justru terlewatkan.
Karena itu, data perlu ditempatkan sebagai bagian dari proses berpikir dalam merancang intervensi. Pengelola program perlu memahami kondisi masyarakat, mengenali persoalan yang hendak diselesaikan, sekaligus melihat potensi yang dapat dikembangkan.
Udhi juga mengajak peserta mempertanyakan kembali ukuran keberhasilan sebuah program. Dalam menentukan arah intervensi, terdapat pertanyaan penting mengenai standar ideal yang digunakan dan siapa yang menjadi rujukan dalam menentukan titik tujuan program.
Pendekatan berbasis data kemudian perlu berjalan bersama metodologi dan pengetahuan yang terus berkembang. Materi yang disampaikan menekankan bahwa tidak ada metode program yang benar-benar paripurna. Karena itu, pengelola program perlu terus memperkaya strategi, memperkuat metodologi, membaca literatur, memahami relevansi situasi, serta menggunakan data empiris dalam proses perumusan program.
Pada tahap inilah data tidak berhenti menjadi angka dan informasi. Data harus bergerak menjadi keputusan, keputusan diterjemahkan menjadi tindakan, dan tindakan menghasilkan dampak sosial.
“Organisasi masa depan bukan organisasi yang paling banyak memiliki data, tetapi organisasi yang paling mampu mengubah data menjadi keputusan, keputusan menjadi tindakan, dan tindakan menjadi dampak,” menjadi salah satu pesan utama Udhi dalam sesi tersebut.
Bagi gerakan zakat, cara pandang tersebut menjadi semakin penting ketika lembaga dituntut menghadirkan program yang relevan dengan persoalan masyarakat sekaligus dapat dipertanggungjawabkan dampaknya.
Melalui ZEDX 2026, Sekolah Amil Indonesia mempertemukan perspektif dari berbagai sektor untuk mendorong penguatan kapasitas amil dan profesionalisme lembaga zakat. Sesi Udhi menjadi bagian dari rangkaian pembelajaran yang mengajak peserta tidak hanya menghasilkan gagasan program, tetapi juga memastikan gagasan tersebut lahir dari pembacaan masalah yang tepat dan diarahkan pada perubahan yang terukur.









