Empat Pintu yang Membisu

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Empat Pintu yang Membisu

Oleh Mince Lestari, Amil LAZ OPSEZI JAMBI (Pemenang Lomba Menulis Spesial Milad FOZ)

Pagi itu udara sangat cerah. Secerah harapanku. Aku berangkat dengan doa yang sama, doa yang menjadi penguat bagi perahuku yang oleng ditengah lautan yang penuh amanah ini.

“Ya Allah lancarkan ikhtiarku hari ini.”

Di dalam tas telah aku siapkan, lima proposal untuk hari ini dengan dua program yang berbeda. Yang pertama ada Annisa, adik yatim yang menunggu keberadaan orang tua asuh dalam kehidupan sehari-harinya. Dan proposal yang kedua ada Bu Yanti yang sedang berjuang untuk melawan penyakit kanker otaknya, yang menggerogoti kinerja seluruh anggota tubuhnya. Aku sudah berjanji kepada mereka, “InsyaAllah akan kita ikhtiarkan Bu”.

Annisa adik berumur 6 tahun yang ditinggal ayahnya karena sakit, sedangkan ibunya harus berjuang mencukupi seluruh kehidupannya bersama dengan kakaknya Annisa, mimpi nya sederhana ia hanya ingin sekolah hingga lulus SMA karena ibunya hanya lulus SD. Saat ini ibunya bekerja sebagai buruh panen di kebun milik orang lain. Sedangkan Bu Yanti wanita berusia 50 tahun itu terkena sel-sel ganas yang bisa menggerogoti mimpinya untuk membahagiakan anak-anaknya, suaminya yang hanya bekerja sebagai tukang ojek pangkalan. Membutuhkan 70 juta untuk meng-cover biaya kehidupan sehari-harinya di luar kota tanpa saudara ketika akan melaksanakan operasi dan juga untuk membiayai kedua anaknya yang ia tinggal di kota asalnya. Bu Yanti adalah seorang penerima jaminan kesehatan dari pemerintah (KIS) tetapi biaya tersebut hanya menanggung biaya operasi dan sebagian obat saja.

Pintu pertama

Aku memasuki sebuah toko emas milik Pak Nadi. Sehari sebelumnya kami telah menyepakati untuk bertemu membicarakan masalah umat. Aku melihat mentari kekayaannya sedang di puncak. Berjejer perhiasannya dari nominal terkecil hingga perhiasan edisi terbatas. MasyaAllah aku bergumam, “Mungkin satu perhiasan ini sudah bisa meng-cover biaya tambahan pengobatan bagi Bu Yanti”.

“Silahkan masuk dan duduk Mbak Yani”, sapanya dengan penuh ramah. Akhirnya aku mulai menceritakan kehidupan Bu Yanti terlebih dahulu kepada Pak Nadi, Pak Nadi mendengarkan ceritaku sambil matanya menari-nari diatas layar jam tangannya.

“Mohon maaf Mbak Yani sepertinya aku belum bisa fokus untuk bantu Bu Yanti. Kondisi toko aku hari ini masih sangat sepi. Jauh penurunan nya jika dibandingkan dengan bulan lalu” ucap Pak Nadi. Harapanku gugur seperti daun kering yang diterpa angin.

Pintu Kedua

Aku tidak putus asa untuk kedua kalinya. Kali ini masih dengan semangat yang sama dan doa yang sama, untuk Bu Yanti dan adik Annisa. Kulihat lagi pada proposal yang ku bawa ada foto mereka, semoga ada rezeki untuk mereka.

Aku belum membuat janji, aku nekat saja menemui Ibu Wati salah satu owner dari toko busana terkenal yang sudah memiliki banyak cabang di Kota Jambi. Akhirnya setelah menunggu beberapa menit, Bu Wati muncul dengan senyum khasnya.

Aku tidak banyak cerita. Aku menanyakan kabar dan perkembangan usahanya. Bu Wati bercerita panjang lebar, bahwa ia sedang butuh support seseorang yang menguatkan tentang takdir beberapa hari yang lalu, bahwa beliau ditipu dan butuh dana juga untuk perkembangan usaha di cabang-cabangnya. Aku menelan ludah. Aku berusaha menjadi orang terkuat di mata Bu Wati agar jangan ikut larut dalam kesedihannya. Semoga Allah memberikan yang terbaik untuk Bu Wati.

“Ibu sangat senang sekali Mba Yani mau bersilaturahmi ke sini, mau mendengarkan curhat ibu, semoga sehat selalu ya Mbak Yani, aamiin.

Pintu Ketiga

Setelah dua jam di sana, akhirnya, aku pergi ke sebuah kantor yang telah aku temui beberapa hari yang lalu untuk membuat jadwal. Waktu menunjukan pukul 11.00 WIB. Waktu merangkak seperti siput yang sangat kelelahan, sangat lama sekali. Hingga terdengar Adzan, belum juga ada tanda-tanda Bapak itu muncul. Kemudian stafnya keluar dan mengatakan “Bapak meeting mendadak”, aku paham sebenarnya ini adalah penolakan yang dibungkus sutra, tetapi tetap saja ada luka di hati ini.

Mentari kini tepat diatas ubun-ubunku panas sekali, bersamaan dengan kumandang adzan yang menggema, mengingatkan kepada manusia agar segera bersujud kepada-Nya, kuadukan semua perjalanan hari ini semoga ada hikmah di setiap perjalanan yang penuh dengan lubang-lubang kecil ini.

Pintu Keempat

Aku telusuri lagi perjuangan untuk meringankan beban saudara kita. Semangatku kembali 100 persen lagi, setelah sholat dan makan. Aku baru teringat ada bahwa ada salah satu Bengkel Mobil yang lumayan besar dan sukses. Milik orang Muslim, dan karyawannya juga banyak. Hari ini, aku akan memperkenalkan opsezi dengan sebaik mungkin. Aku mulai menata setiap pembicaraan, kata demi kata, semoga nanti ada titik terang untuk aktivitas harian aku hari ini.

Baru dua menit aku berbicara, dan belum ada penawaran, hanya memperkenalkan dari salah satu lembaga zakat di Jambi, ibu paruh baya itu langsung menyela, “aku tahu kalau lembaga zakat itu mau mencari dana ke tempat usaha aku kan, tapi aku tidak ada dananya. Masyarakat tidak perlu dibantulah, nanti jadi manja. Kehidupan itu masing masing aja mba, kan ada pemerintah,” katanya sambil ketus.

Kata kata itu meledak seperti petasan di dadaku. Hatiku remuk. Dan semangatku hancur, seperti kaca yang jatuh dari atas langit. Aku sadar, aku hanyalah seperti kertas yang bisa diremas dan digunting gunting. Selama perjalanan, aku sesenggukan. Untung pakai helm rapat dan pakai masker.

Di atas Beat Hitam ini, helm ku menjadi saksi bisu air mata yang tumpah ruah. Yang aku tahan sejak tadi pagi. Bukan malu yang aku rasa, tapi ada beban amanah yang besar yang menghimpit dada ini, yang semakin sesak. Bagaimana aku harus menatap Bu Yanti yang kepalanya sudah di bor dan diisi selang untuk mengeluarkan cairan menjelang operasi, dan matanya sudah buta sebelah, bagaimana aku akan menatap Adik Nisa yang berjanji akan ada yang membiayai untuk melengkapi kebutuhan sekolah, karena ibunya hidupnya harus mengontrak dan sakit sakitan. Apa yang harus aku ucapkan untuk mereka?

Akhirnya aku menepi. Bukan ke gedung tinggi dan bukan ke gedung pemerintahan yang mewah. Tapi aku ke warung papan Bu Lastri. Niatnya mau membeli air minum dan paket kuota hpku. Warungnya hanya berukuran 2X3 meter, tapi selalu penuh berisi minuman, makanan dan beberapa bahan sembako.

“Kenapa Nak? Kok wajahnya sembab dan mendung seperti langit mau hujan,” ucap Bu Lastri. Tidak ada orang lain, selain empat mata kami. Akhirnya aku ceritakan semuanya, agar aku tidak menyimpan beban sendirian. Bu Lastri tidak menjawab dengan kata kata. Matanya pun berkaca kaca. Dia masih sangat bersyukur dengan keadaannya sekarang, dibandingkan dengan kondisi Bu Yanti dan Adik Anisa.
Tangannya yang kasar, tiba tiba menari berputar dengan pelan membuka kaleng biskuit . Isinya tidak banyak, hanya lembaran lembaran harapan yang dilipat rapi. “Nak, ibu turut prihatin dengan keadaan Bu Yanti dan Adik Anisa. Ini Ibu ada sedikit uang Rp500.000 untuk Bu Yanti dan Rp50.000 untuk Adik Nisa. Jangan lihat kecilnya ombak, tapi lihatlah luasnya lautan doa di dalamnya ya.”

Masyaallah, ini seperti setetes embun di tengah gurun pasir. Ketulusan Bu Lastri sangat menggelegar melebihi kerasnya petir. Di warung reot inilah, aku yang untuk untuk menguatkan, justru dikuatkan oleh samudra keikhlasan. 

Bu Lastri tersenyum, senyumnya adalah obat lelah hari ini. “Nak, tugasmu itu hanya mengetuk dan mengajak orang lain. Biarkan Allah yang membukakan pintu. Jika empat pintu hari ini terkunci, berarti Allah sedang menyiapkan pintu yang lebih indah. Jangan berhenti mengetuk dan mengajak orang lain ya Nak. Hati yang lelah itu wajar, tapi jangan biarkan langkah kaki ini berhenti.”

Sore itu, aku pulang ke kantor dengan membawa hikmah yang sangat luar biasa. Ketika kita mengajak orang lain dan mereka menolaknya, bukanlah akhir dari segalanya, melainkan pupuk bagi jiwa agar tidak sombong dan tidak bersandar kepada manusia, tetapi bersandar kepada Allah Yang Maha Kaya.

Menjadi amil adalah jembatan dan jembatan itu harus rela diinjak, terkena panas matahari, diguyur hujan penolakan, namun tetap juga harus kuat dan kokoh agar bisa dilewati oleh manusia.

“Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu sebelum
kamu meng-infaqkan sebagian harta yang kamu cintai. Apapun yang kamu infakkan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui tentangnnya.”(Q.S. Al-Imran 92)