FOZ Jatim Dorong Transformasi Lembaga Zakat, Kolaborasi dan Kepercayaan Jadi Penentu Masa Depan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Leader Insight FOZ Jatim

Forum Zakat, Surabaya – Forum Zakat (FOZ) Jawa Timur menggelar kegiatan Leader Insight bertajuk “The Future of Zakat Institutional” di Kantor BSI Maslahat Regional VIII Jawa Timur, Surabaya, Rabu (29/07/2026). Kegiatan ini menjadi ruang penguatan kapasitas bagi para amil zakat dalam menghadapi tantangan pengelolaan filantropi Islam yang terus berkembang.

Lebih dari 50 peserta dari berbagai Organisasi Pengelola Zakat (OPZ) anggota FOZ Jawa Timur mengikuti forum tersebut. Hadir sebagai narasumber utama, Ketua Forum Zakat Nasional periode 2015–2018, Nur Efendi, yang memaparkan arah perkembangan kelembagaan zakat Indonesia hingga 25 tahun mendatang.

Ketua FOZ Jawa Timur, Ziyad, mengatakan peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditunda. Menurutnya, amil zakat harus terus meningkatkan kompetensi agar mampu menjawab tantangan zaman sekaligus memperkuat peran lembaga dalam melayani masyarakat.

“Kegiatan Leader Insight menjadi wadah untuk meningkatkan kapasitas para amil. Harapannya, lembaga zakat dapat terus bertumbuh, saling menguatkan, dan menghadirkan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat,” ujarnya.

pelatihan FOZ Jatim

Dalam paparannya, Nur Efendi mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki potensi dana filantropi yang mencapai Rp664 triliun, yang berasal dari zakat, infak, sedekah, wakaf (ZISWAF), dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), serta berbagai sumber dana keagamaan lainnya.

Namun, menurutnya, besarnya potensi tersebut hanya dapat dioptimalkan apabila seluruh pemangku kepentingan mampu membangun kolaborasi yang kuat dan memperkuat tata kelola kelembagaan.

Ia menegaskan bahwa paradigma pengelolaan zakat perlu bergeser. Jika selama ini lembaga zakat lebih banyak dipandang sebagai organisasi yang berdiri sendiri, ke depan zakat harus dibangun sebagai sebuah ekosistem yang saling terhubung.

“Dalam ekosistem zakat, setiap pihak memiliki peran masing-masing. Yang dibutuhkan bukan sekadar lembaga yang besar, tetapi kemampuan untuk berkolaborasi, membangun kepercayaan, dan menciptakan dampak bersama bagi masyarakat,” jelas Nur Efendi.

Ia juga menekankan bahwa trust, transparansi, dan jejaring menjadi tiga faktor utama yang akan menentukan keberhasilan pengelolaan zakat pada masa depan.

“Bukan siapa yang besar, tetapi siapa yang terhubung. Trust, transparansi, dan network akan menjadi penentu keberhasilan ekosistem zakat Indonesia, baik hari ini, lima tahun ke depan, maupun dua puluh lima tahun mendatang,” tegasnya.

Melalui kegiatan ini, FOZ Jawa Timur berharap lahir semakin banyak pemimpin lembaga zakat yang adaptif terhadap perubahan, terbuka terhadap kolaborasi, dan mampu mengoptimalkan potensi filantropi Islam untuk menjawab berbagai persoalan sosial di tengah masyarakat.