Forum Zakat – Malam itu, Masti tidak menyangka rumahnya akan berubah menjadi ruang interogasi. Sepulang dari kajian, perempuan asal Medan itu harus duduk di tengah keluarganya untuk menjawab satu pertanyaan besar: mengapa memilih menjadi seorang muslim? Hingga akhirnya, satu keputusan dijatuhkan, ia diminta keluar dari rumah.
Peristiwa tersebut terjadi pada tahun 2017. Masti memutuskan untuk memeluk Islam secara diam-diam. Keputusannya tidak datang dalam semalam. Sejak kecil, ia sudah bersentuhan dengan ajaran Islam karena bersekolah di madrasah ibtidaiyah. Alasannya sederhana, sekolah itu paling dekat dari rumah. Namun dari situ, Islam menjadi ajaran yang akrab dengannya. Ia belajar akidah, fiqih, dan sejarah Islam sejak usia dini, meskipun tumbuh dalam keluarga non-Muslim.
“Waktu kecil, saya ikut kegiatan keputrian. Awalnya hanya untuk menambah nilai pelajaran, tapi bahasannya menarik. Sejak itu belajar Islam jadi kegiatan rutin,” ungkap Masti.
Ketertarikannya tidak padam seiring waktu. Saat dewasa, ia mulai mempelajari perbandingan agama, membaca ulang konsep ketuhanan, namun belajar sendiri cukup membuatnya bingung.
Uniknya, sebuah mimpi menjadi pemantik penting dalam perjalanan spiritualnya. Ia mencari tempat yang bisa membimbingnya memahami Islam lebih dalam hingga akhirnya menemukan Masjid Lautze Bandung, tempat yang dikenal terbuka bagi para calon mualaf. Di sana, Masti belajar kembali mengenai dasar-dasar Islam, mulai dari tata cara wudhu, salat, puasa, hingga tadabbur Al-Qur’an.
Namun, menjadi muslim bukan tanpa ujian. Di tempat kerja, ia sempat dikucilkan. Di rumah, ia dilarang pulang. Masti benar-benar menghadapi semuanya seorang diri. Beruntung, pengurus Masjid Lautze mencarikan tempat tinggal sementara untuknya.
“Masa paling menyedihkan adalah Idulfitri pertama. Karena sudah diusir, saya hanya berlebaran dengan pengurus masjid. Saya lihat teman-teman mualaf dikunjungi keluarganya, mereka foto dan makan bersama. Saya iri, tapi tak bisa apa-apa,” kenangnya.
Dua tahun berselang, hubungan Masti dengan keluarganya perlahan membaik. Meski masih dengan keyakinan yang berbeda, mereka saling bertoleransi. “Saya tetap datang saat Natal. Kami ngobrol, makan bareng. Tidak bicara soal agama. Kami menjaga damai,” ujarnya.
Kini, Masjid Lautze menjadi rumah keduanya. Ia tetap belajar mengaji dan memperdalam Islam yang ia peluk bukan karena paksaan, tetapi karena pilihan yang disadari. “Saya sempat merasa minder karena tidak bisa mengaji, tapi saya berdoa terus. Tiga bulan kemudian, saya sudah bisa baca Al-Qur’an,” kata Masti.
Kini Masti tinggal di Bandung. Sehari-hari, ia berdagang sayuran secara online atau sesekali juga mengantar pesanan ke restoran milik temannya. Kehidupannya sederhana, namun perjalanan spiritualnya luar biasa. Baginya, menjadi mualaf bukan akhir, tapi awal dari perjalanan panjang yang penuh ujian dan pembelajaran.
Sebelum menutup cerita, ia menitipkan pesan penting yang perlu menjadi perhatian bersama, katanya jika ada orang mau mempelajari Islam, mereka memerlukan pendampingan. “Kalau ada orang baru masuk Islam, tolong dampingi. Dengarkan cerita mereka, temani proses belajarnya, karena tidak semua bisa memahami keinginan kita untuk menjadi mualaf, orang terdekat sekalipun belum tentu memahami,” pungkasnya.









