Potensi Rp 343 Triliun dan Tantangan Kepercayaan: Catatan Strategis Survei Nasional ZISWAF 2026

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Catatan Strategis Survei Nasional ZISWAF 2026

Forum Zakat – Temuan Survei Nasional ZISWAF 2026 mengungkapkan angka yang amat fantastis: estimasi total dana ZISWAF yang dikeluarkan oleh masyarakat Muslim Indonesia dewasa mencapai Rp 343,08 Triliun dalam setahun terakhir.

Namun di balik potensi raksasa ini, gerakan zakat formal, khususnya Lembaga Amil Zakat (LAZ) dan BAZNAS dalam menghadapi tantangan mendasar: 56,9% masyarakat masih memilih memberikan ZISWAF secara langsung kepada penerima/kotak amal ketimbang melalui lembaga resmi. Artikel ini mengulas secara mendalam potret perilaku warga, peta preferensi program, serta rekomendasi langkah strategis bagi Organisasi Pengelola Zakat (OPZ) anggota Forum Zakat.

Potensi Nyata ZISWAF Indonesia: Angka Fantastis Rp 343 Triliun 

Berdasarkan survei nasional yang mewakili 180,6 juta populasi Muslim Indonesia usia 18 tahun ke atas, estimasi dana filantropi Islam yang berputar dalam 12 bulan terakhir adalah sebagai berikut:

Jenis ZISWAF Estimasi Total Nilai (Rupiah) PDF Partisipasi Warga / Karakteristik PDF
infaq / Sedekah Rp 221,73 Triliun 74,8% warga berinfaq rutin sebulan terakhir (85,9% tunai; 63,2% khusus berinfaq di bulan Ramadan).
Qurban Rp 52,32 Triliun 15,3% keluarga Muslim menunaikan qurban (10,2% tingkat individu dengan rata-rata Rp 2,84 juta/orang).
Wakaf Rp 33,58 Triliun 5,8% warga berwakaf setahun terakhir (73,4% dalam bentuk uang tunai).
Zakat Maal Rp 27,04 Triliun 9,3% warga menunaikan (80,8% tunai; 72% didasarkan atas penghasilan/gaji).
Zakat Fitrah Rp 8,42 Triliun 98,5% partisipasi masif (59,3% berupa barang/beras, 38,4% tunai).

infaq dan sedekah menjadi kontributor terbesar (64,6% dari total ZISWAF). Momen paling umum masyarakat mengeluarkan infaq/sedekah adalah ketika menerima penghasilan (60,5%) dan pada hari Jumat (38,3%). Ini mengindikasikan bahwa instrumen infaq harian/kebiasaan (behavioral nudge) sangat efektif mendorong filantropi warga. 

Paradoks Formalisasi & Digitalisasi: Saluran Informal Masih Dominan 

Di tengah masifnya kampanye digitalisasi lembaga filantropi, survei merekam realitas lapangan yang kontras:

  1. Dominasi Kanal Informal & Non-Formal:
    Masyarakat paling banyak mengenal panitia zakat di masjid/RT/RW lingkungan tempat tinggal (92,1%), disusul BAZNAS (57,2%), tokoh agama perorangan (54,4%), dan LAZ Swasta (46,0%). Akibatnya, saluran utama pembayaran zakat/wakaf masih berpusat pada masjid lokal, pengurus agama, dan pemberian langsung.
  2. Gap Pembayaran Digital:
    Di antara warga yang membayarkan ZISWAF dalam bentuk tunai, tingkat transaksi online masih sangat rendah:

    • Zakat Fitrah tunai secara online: 1,6%
    • Wakaf tunai secara online: 4,5%
    • Zakat Maal tunai secara online: 6,4%
    • infaq/Sedekah tunai secara online: 4,1%

Lebih dari 93%–98% masyarakat masih bertransaksi secara offline/tatap muka.

Apa Faktor Penentu Utama Muzakki Memilih Lembaga Penyalur?

Mengapa publik memilih suatu lembaga atau tokoh agama tertentu? Hasil survei secara konsisten menunjukkan 3 pertimbangan utama:

  • Integritas & Kepercayaan (Trust) (38% – 40%): Kepengurusan yang teruji, memiliki rekam jejak baik, dan berpengetahuan agama yang mendalam.
  • Kedekatan Emosional & Ormas (Proximity) (27% – 31%): Kerekatan kultural dengan organisasi keagamaan yang dirasa dekat (seperti NU, Muhammadiyah, dll.).
  • Transparansi Keuangan (Transparency) (18% – 23%): Kejelasan pelaporan tentang ke mana dan bagaimana dana sumbangan dialokasikan.

Peta Preferensi Program: Apa yang Diinginkan Publik?

Masyarakat memiliki harapan khusus terkait bagaimana dana zakat maal dan imbal hasil investasi wakaf seharusnya dimanfaatkan:

  • Pengentasan Kemiskinan (Prioritas Utama):
    • 41,0% publik meminta bantuan tunai langsung (BLT) / kupon makanan untuk warga miskin.
    • 25,9% meminta penciptaan lapangan kerja.
    • 15,5% mendukung pelatihan keterampilan.
    • Kelompok penerima paling diprioritaskan: Buruh tani non-pemilik lahan, pekerja serabutan, dan pengangguran.
  • Pendidikan:
    • 38,0% – 39,1% memilih perbaikan fisik bangunan sekolah.
    • 17,1% – 20,2% memilih pemberian beasiswa.
  • Pemberdayaan Ekonomi:
    • 48,4% menekankan peningkatan keterampilan (petani, nelayan, pedagang).
    • 28,9% – 33,2% menekankan akses permodalan usaha.
    • Kelompok prioritas: Pedagang kecil, asongan, dan pedagang kaki lima.
  • Kesehatan:
    • 29,0% – 36,6% memilih subsidi akses kesehatan bagi masyarakat miskin serta perbaikan faskes dasar (Puskesmas)

Terlepas dari tantangan formalisasi, 66,9% responden optimis pembayaran ZISWAF mereka akan meningkat dalam setahun ke depan. Selain itu, terdapat 72,3% masyarakat yang tertarik berwakaf uang, meskipun saat ini baru 5,8% yang pernah melakukannya. Data tabulasi silang juga menunjukkan bahwa perilaku berwakaf bersifat repeat behavior (60% pembayar wakaf tahun ini adalah mereka yang pernah berwakaf sebelumnya). 

*) Bersumber dari survei nasional ZISWAF – Kemenag 2026