Monev Jadi Kunci Perbaikan Kualitas Lembaga Zakat di Road to Zakat Awards 2025

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Monev Jadi Kunci Perbaikan Kualitas Lembaga Zakat

Forum Zakat — Forum Zakat (FOZ) menegaskan bahwa pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi (Monev) merupakan kunci utama dalam memastikan program zakat berjalan efektif, akuntabel, dan berdampak nyata bagi mustahik. Penegasan ini muncul dalam kegiatan Ruang Tengah Road to Zakat Awards bertajuk “Apakah lembaga kita sudah akuntabel dan memiliki kinerja yang berdampak pada mustahik?” yang digelar sebagai bagian dari rangkaian menuju Zakat Awards 2025.

Kegiatan yang dimoderatori oleh Raden M. Budi H., Project Officer Sekolah Amil Indonesia, ini menghadirkan dua narasumber dari MONEV Studio, yakni Umi Hanik, SE, ME, MSc (Chief of Evaluation and Operations) dan Qurratul ‘Uyun (Inayah) (Technology and Innovation Officer).

Dalam sambutannya, Humairoh Anahdi, Wakil Ketua Bidang Inovasi dan Literasi FOZ, menegaskan bahwa Road to Zakat Awards bukan hanya wadah penghargaan bagi lembaga zakat, melainkan momentum refleksi dan pembenahan kualitas pengelolaan program.

“Kegiatan ini bukan sekadar forum berbagi, tapi bentuk refleksi bersama. Monev bukan hanya soal laporan, tapi soal amanah. Kita perlu tahu apakah lembaga benar-benar berdampak bagi mustahik,” ujar Humairoh.

Ia menekankan pentingnya prinsip Good Amil Governance yang terdiri dari transparansi, akuntabilitas, partisipasi, independensi, keadilan, dan kepatuhan terhadap syariah. Enam prinsip ini, katanya, harus diterapkan secara nyata agar lembaga zakat tetap dipercaya publik.

“Kalau prinsip-prinsip ini tidak kita hidupkan, lembaga zakat akan kehilangan kepercayaan publik. Padahal kepercayaan adalah modal terbesar bagi amil,” tegasnya.

Monev Sebagai Tolak Ukur Dampak Nyata Program

Narasumber dari MONEV Studio, Qurratul ‘Uyun (Inayah), menyoroti pentingnya Monev sebagai alat untuk menilai sejauh mana program zakat membawa perubahan bagi mustahik.

“Zakat bukan sekadar menyalurkan dana, tapi memastikan bahwa dana itu membawa perubahan. Di sinilah peran Monev menjadi sangat penting,” jelasnya.

Menurut Inayah, banyak lembaga zakat masih terjebak pada laporan capaian angka seperti jumlah penerima manfaat, padahal yang paling penting adalah outcome dan impact. Ia juga menekankan perlunya budaya evaluasi berbasis data.

“Data bukan sekadar angka di laporan, tapi cermin dari kerja nyata lembaga,” ujarnya.

Monev, kata Inayah, tidak boleh berhenti di tumpukan dokumen. Hasilnya harus menjadi dasar pengambilan keputusan dan perbaikan berkelanjutan.

Membangun Budaya Evaluasi dari Dalam Lembaga

Sementara itu, Umi Hanik, Chief of Evaluation and Operations MONEV Studio, menjelaskan bahwa Monev terdiri atas dua aspek utama: monitoring yang memantau pelaksanaan, dan evaluasi yang menilai hasil dan dampak program.

“Monitoring itu ibarat CCTV yang memastikan kegiatan berjalan sesuai rencana. Evaluasi menilai apakah kegiatan benar-benar membawa perubahan bagi mustahik,” paparnya.

Menurutnya, Monev yang efektif tidak bergantung pada besar kecilnya sumber daya, tetapi pada kemauan lembaga untuk belajar dari data dan melakukan perbaikan berkelanjutan.

“Monev bisa dimulai dari yang sederhana. Tidak harus pakai sistem besar, yang penting ada kemauan untuk belajar,” ujarnya.

Umi juga menegaskan bahwa akuntabilitas dalam zakat memiliki makna spiritual.

“Akuntabilitas bukan hanya soal lembaga kepada publik, tapi juga tanggung jawab kita sebagai amil di hadapan Allah SWT. Karena zakat adalah amanah umat,” tegasnya.

Melalui Road to Zakat Awards, FOZ mendorong seluruh lembaga zakat untuk menjadikan Monev sebagai alat perbaikan berkelanjutan dan bukan sekadar formalitas laporan tahunan. Proses pendaftaran hingga penilaian Zakat Awards kini mengintegrasikan aspek Monev sebagai tolok ukur utama keberhasilan lembaga.

Zakat Awards bukan hanya ajang penghargaan bagi lembaga terbaik, tetapi juga ruang evaluasi bersama demi memperkuat akuntabilitas, transparansi, dan dampak nyata program zakat di Indonesia.

“Zakat Awards diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat budaya evaluasi dan kolaborasi antarlembaga dalam menghadirkan program yang semakin berdampak bagi mustahik,” tutup Humairoh.