Indonesia Berdaya Resmi Diluncurkan, Perkuat Kolaborasi Percepatan Kemiskinan Ekstrem

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Indonesia Berdaya

Forum Zakat, Jakarta — Gerakan kolaboratif pengentasan kemiskinan melalui zakat, infak, dan sedekah kembali diperkuat. Kamis, 12 Februari 2026, program Indonesia Berdaya resmi diluncurkan di Masjid Istiqlal sebagai momentum menyatukan langkah gerakan zakat, filantropi, pemerintah, dan berbagai mitra menjelang Ramadan.

Peluncuran ini menjadi penanda bahwa pengelolaan zakat serta dana umat diarahkan tidak hanya untuk merespons kebutuhan sesaat, tetapi membangun kemandirian jangka panjang masyarakat penerima manfaat.

Dalam pelaksanaannya, Indonesia Berdaya melibatkan partisipasi luas dari anggota Forum Zakat di berbagai daerah. Sejumlah lembaga yang terlibat antara lain Rumah Zakat, Dompet Dhuafa, Inisiatif Zakat Indonesia, LAZISMU, BSI Maslahat, YDSF, Nurul Hayat, PPPA Daarul Qur’an, serta puluhan organisasi pengelola zakat lainnya yang memiliki jaringan layanan hingga tingkat desa.

Keterlibatan banyak pihak ini mempertegas bahwa Indonesia Berdaya dibangun di atas semangat gotong royong, integrasi data, dan penyelarasan program agar manfaat zakat semakin luas dan tidak berjalan sendiri-sendiri.

Ketua Umum Forum Zakat, Wildhan Dewayana, menyampaikan bahwa Indonesia Berdaya merupakan bentuk penguatan ikhtiar bersama agar zakat mampu menghadirkan dampak yang lebih terukur dan berkelanjutan.

“Kita bukan hanya memberi makan hari ini, tetapi memastikan mereka tidak kelaparan di masa depan. Kita ingin membangun senyum kemandirian,” ujarnya.

Menurut Wildhan, peran zakat saat ini semakin strategis. Jika sebelumnya sering dipandang hanya sebagai pelengkap, kini pengelolaan ZIS telah menjadi bagian dari agenda pembangunan nasional. Karena itu, dibutuhkan tata kelola yang transparan, integrasi data, serta kolaborasi luas agar intervensi benar-benar tepat sasaran.

Melalui Indonesia Berdaya, gerakan akan difokuskan pada ratusan kabupaten/kota dengan kantong-kantong kemiskinan, terutama di wilayah dengan tingkat kemiskinan ekstrem. Program yang dijalankan mencakup pemberdayaan ekonomi, penguatan akses pendidikan dan kesehatan, hingga dukungan bagi masyarakat terdampak bencana.

Ketua Perhimpunan Filantropi Indonesia, Rizal Algamar, menyebut kerja bersama ini penting agar potensi besar filantropi Indonesia tidak berhenti pada angka penghimpunan.

“Bukan sekadar bantuan, tetapi bagaimana masyarakat memiliki akses dan sistem untuk keluar dari kemiskinan. Ini amanah bersama, bukan tugas satu lembaga,” katanya.

Dukungan pemerintah turut menguatkan langkah tersebut. Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat, Abdul Muhaimin Iskandar, berharap kolaborasi melalui Indonesia Berdaya menjadi energi baru dalam kerja pengentasan kemiskinan.

“Melalui kebersamaan ini kita harus semakin yakin bisa menanggulangi kemiskinan. Mari saling mendukung, berbagi data, dan memperjelas wilayah kerja,” pesannya.

Hal senada disampaikan Menteri Ketenagakerjaan Yassierli. Ia menilai sinergi multipihak membuka peluang lahirnya transformasi nyata, termasuk melalui penguatan pelatihan, kewirausahaan, dan perlindungan tenaga kerja.

Peluncuran Indonesia Berdaya kemudian ditutup dengan penyerahan komitmen dukungan dari berbagai pihak. Menjelang Ramadan, forum ini diharapkan menjadi awal dari kerja kolaboratif yang semakin kuat, sehingga zakat benar-benar hadir sebagai instrumen perlindungan sosial sekaligus jalan menuju kemandirian masyarakat.