Sekolah Literasi Indonesia Jadikan Literasi Jalan Pemberdayaan Masyarakat

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Literasi jalan pemnerdayaan masyarakat

Oleh Muh. Shirli Gumilang (Kadept. Sekolah Guru Literasi Transformatif)

Di tengah berbagai persoalan pendidikan di Indonesia—mulai dari rendahnya minat baca hingga kesenjangan akses informasi—literasi masih kerap dipahami secara sempit sebagai kemampuan membaca dan menulis. Padahal, literasi sejatinya merupakan fondasi penting dalam membangun masyarakat yang kritis, mandiri, dan berdaya.

Kesadaran inilah yang menjadi semangat dalam perhelatan Gelar Wicara yang diselenggarakan Sekolah Literasi Indonesia (SLI) pada 17 April 2026 di Gedung Perpustakaan Nasional. Melalui kegiatan tersebut, SLI menegaskan bahwa literasi tidak lagi cukup dipandang sebatas kemampuan teknis membaca dan menulis. Lebih dari itu, literasi harus menjadi gerakan transformasi sosial yang mampu menjawab berbagai persoalan masyarakat, menjadi jembatan menuju peradaban modern, sekaligus menjadi benteng terhadap degradasi moral bangsa.

Literasi memungkinkan seseorang memahami realitas, mengolah informasi, hingga mengambil keputusan yang berdampak pada kehidupannya. R. Brian Street melalui perspektif New Literacy Studies menegaskan bahwa literasi adalah praktik sosial yang berkaitan erat dengan konteks budaya dan relasi kekuasaan, bukan sekadar keterampilan teknis. Sejalan dengan itu, Paulo Freire dalam konsep critical literacy menempatkan literasi sebagai alat pembebasan yang memungkinkan masyarakat membaca realitas sosial secara kritis.

Di titik inilah literasi menemukan relevansinya sebagai gerakan transformasi sosial—tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga memberdayakan.

Sebagai wujud konkret dari gagasan tersebut, SLI menghadirkan 15 penggiat literasi Indonesia (Pelita SLI) yang berasal dari lima Taman Baca Masyarakat (TBM) di Kabupaten Bogor, Kabupaten Agam, Kabupaten Solok, Kabupaten Bantul, dan Kabupaten Ende. Para Pelita SLI ini akan mendapatkan pembinaan intensif untuk memperluas dampak pemberdayaan berbasis kawasan.

Melalui peran tersebut, TBM diharapkan tidak hanya menjadi tempat membaca, tetapi juga menjadi ruang tumbuh—tempat masyarakat belajar, berdiskusi, dan mengembangkan potensi diri. Lebih jauh, TBM diarahkan menjadi pusat informasi sekaligus pusat pemberdayaan masyarakat berbasis pengetahuan.

Namun, literasi di era saat ini tidak dapat berhenti pada buku semata. Perkembangan teknologi menuntut penguatan literasi digital—yakni kemampuan memilah informasi, memahami konteks, serta melawan arus disinformasi yang kian masif. Tanpa kemampuan ini, masyarakat justru berisiko menjadi korban informasi yang menyesatkan.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa program literasi yang efektif umumnya menggunakan pendekatan partisipatif. Dalam pendekatan ini, masyarakat tidak diposisikan sebagai objek, melainkan sebagai subjek yang aktif dalam proses pembelajaran. Mulai dari tahap pengenalan, penguatan kapasitas, hingga mencapai kemandirian, literasi berfungsi sebagai alat untuk membangun kesadaran sekaligus keterampilan hidup.

Dampaknya pun signifikan. Literasi mampu meningkatkan kualitas pendidikan, memperluas peluang kesejahteraan, serta memperkuat kapasitas sosial masyarakat. Lebih dari itu, literasi menumbuhkan budaya belajar sepanjang hayat—sebuah kebutuhan mendasar di tengah perubahan zaman yang begitu cepat.

Meski demikian, tantangan yang dihadapi masih besar. Rendahnya minat baca, keterbatasan fasilitas, serta belum optimalnya kolaborasi antar pemangku kepentingan menjadi pekerjaan rumah bersama. Tanpa komitmen yang kuat, gerakan literasi berisiko berhenti pada kegiatan seremonial semata.

Karena itu, literasi perlu ditempatkan sebagai agenda strategis bangsa. Pemerintah, komunitas, dunia pendidikan, hingga sektor swasta harus bergerak bersama dalam membangun ekosistem literasi yang berkelanjutan. Literasi juga perlu diintegrasikan dengan program pemberdayaan ekonomi agar manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat.

Pada akhirnya, literasi bukan sekadar kemampuan membaca teks, melainkan kemampuan membaca kehidupan. Masyarakat yang literat adalah mereka yang mampu berpikir kritis, bertindak bijak, dan menentukan arah masa depannya sendiri.

Jika kita sungguh ingin membangun Indonesia yang berdaya, maka jawabannya jelas: mulai dari literasi.