Wadah Berhimpunnya Lembaga Amil Zakat Dan Badan Amil Zakat

    Achmad Noe’man Layak Dapat Bintang Mahaputra
    Achmad Noeman

    Achmad Noe’man Layak Dapat Bintang Mahaputra

    Bagikan Ini :

    Siapa tidak kenal Masjid Salman ITB Bandung?. Itu adalah masjid kampus pertama di Indonesia. Setiap orang yang mengerti dunia arsitek dan seni arsitektur pasti terkesan dengan karya unik Ir H Ahmad Noe’man, sang maestro arsitektur masjid kebanggaan bangsa Indonesia.

    Achmad Noe’man dikenang sebagai salah satu tokoh penggagas berdirinya Masjid Salman ITB dan arsitek yang merancang Masjid Salman, masjid tanpa tiang tengah yang pertama di Tanah Air itu.

    Tokoh yang taat beragama, santun dan rendah hati itu telah berpulang keharibaan Allah SWT pada Senin (4/4) lalu di Bandung. Mengenang sosok arsitek pejuang kelahiran Garut Jawa Barat 10 Oktober 1925 itu, pemerhati filantropi Islam M Fuad Nasar, menuturkan, almarhum Ir Achmad Noe’man layak mendapat tanda kehormatan dan penghargaan Bintang Mahaputera dari Pemerintah.

    Sesuai proseduralnya, hal tiu dapat diusulkan kepada Presiden melalui kementerian atau lembaga yang terkait dengan bidang atau pengabdian beliau. “Achmad Noe’man adalah seorang ilmuwan, arsitek pejuang dan pelopor arsitektur masjid modern. Bangunan sejumlah masjid yang dirancang Achmad Noe’man memberi makna tersendiri bagi perkembangan dunia arsitek pada umumnya dan arsitektur masjid di Nusantara khususnya. Karya Pak Noe’man tidak hanya dinikmati oleh umat Islam di dalam negeri, tapi telah mengharumkan nama bangsa Indonesia di luar negeri,” katanya, umat (8/4).

    Ada begitu banyak masjid rancangannya. Beliau sendiri tak pernah menghitung berapa banyak masjid besar maupun kecil hasil karyanya. Karena karyanya yang tak terhitung agi itu, dia dijuluki arsitek ‘seribu masjid’.

    Fuad Nasar mengungkapkan dalam riwayat hidupnya, Achmad Noe’man semasa kuliah ikut berjuang membela kemerdekaan. Lulusan SMA Muhammadiyah Yogyakarta dan aktivis HMI itu menempuh pendidikan di Fakultas Teknik Universitas Indonesia (kemudian menjadi Institut Teknologi Bandung).

    Sekitar tahun 1948-1949 dia sempat menjadi perwira TNI dan kemudian mengundurkan diri dari kemiliteran. Diamemilih kembali ke kampus menuntut ilmu pada jurusan arsitektur.

    Dalam suatu forum Achmad Noe’man mengutarakan jangan terjadi pemborosan dalam membangun masjid. Ia kurang setuju masjid yang terlalu mewah. Menurut pakar itu, akan lebih bermanfaat jika uang untuk itu disalurkan buat keperluan lain yang bermanfaat bagi umat.

    Achmad Noe’man menjalani profesinya secara lurus, bersih, konsisten dan profesional. Ia seorang yang tidak berambisi mengejar materi atau jabatan.

    Sosok pejuang Muslim yang idealis dan memiliki jiwa dakwah sejak usia muda. Profesi dan keahlian sebagai arsitek tidak digunakannya untuk menumpuk harta benda. Beliau memberi nilai dan sumbangan terhadap dakwah dan kerja mengharumkan Islam. Semasa hidupnya Achmad Noe’man memperoleh penghargaan Satyalencana Kebudayaaan dari Pemerintah.

    Fuad mengatakan, adalah kewajiban pemerintah atas nama negara dan bangsa untuk menganugerahkan tanda jasa dan tanda kehormatan kepada putra terbaik bangsa ini. Ahmad Noe’mang telah memberikan darmabakti dan karya luar biasa yang bermanfaat bagi masyarakat.

    Meski kini dia telah tiada, idealisme, karakter dan semangat kepeloporan almarhum menjadi teladan bagi bangsa. “Semua itu diharapkan menginspirasi generasi muda di tengah fenomena resesi moral kepemimpinan dan harga diri bangsa dewasa ini, ” kata Fuad Nasar yang tercatat sebagai Konsultan The Fatwa Center Jakarta.

    Bagikan Ini :

    Leave a Reply

    Close Menu