Forum Zakat, Jakarta – Forum Zakat (FOZ) bersama Aliansi Kemanusiaan menyampaikan kecaman keras atas penculikan 9 Warga Negara Indonesia (WNI) yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0. Para delegasi tersebut terdiri dari jurnalis dan pegiat kemanusiaan, termasuk amil dari lembaga anggota FOZ seperti Rumah Zakat dan Dompet Dhuafa.
Dalam konferensi pers yang digelar di kawasan Sabang, Jakarta Pusat, FOZ menegaskan bahwa peristiwa ini bukan sekadar insiden penahanan, melainkan bentuk pelanggaran serius terhadap prinsip kemanusiaan dan hukum internasional, terlebih karena terjadi di perairan internasional dalam misi kemanusiaan yang sah.
Sekretaris Umum FOZ, Udhi Tri Kurniawan, dalam pembukaan menyampaikan bahwa forum ini menjadi ruang untuk menyampaikan perkembangan situasi terkini, sekaligus menguatkan langkah bersama dalam mengupayakan perlindungan dan pembebasan para delegasi. Hingga saat ini, tercatat terdapat 9 WNI yang ditangkap, di mana sebagian di antaranya merupakan amil dan pegiat kemanusiaan yang selama ini aktif dalam misi kemanusiaan global.
Perwakilan Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) dari Rumah Zakat, Irvan Nugraha, menjelaskan bahwa misi kemanusiaan melalui jalur laut merupakan upaya yang sah dan dilindungi hukum internasional, khususnya ketika jalur darat mengalami pembatasan. Ia menegaskan bahwa misi ini merupakan bagian dari gerakan global yang melibatkan puluhan negara, dengan tujuan utama membuka akses koridor kemanusiaan bagi masyarakat Gaza.
“Bantuan yang dibawa adalah amanah masyarakat, mulai dari makanan hingga obat-obatan. Tujuan utamanya adalah membuka akses kemanusiaan, bukan kepentingan politik,” ujarnya. Ia juga menyampaikan bahwa salah satu relawan dari Rumah Zakat, Angga, termasuk dalam rombongan yang ditangkap pada 18 Mei 2026.
Sementara itu, Ahmad Juwaini menyoroti tantangan diplomasi yang dihadapi Indonesia, mengingat tidak adanya hubungan diplomatik formal dengan Israel. Meski demikian, berbagai upaya terus dilakukan melalui jalur tidak langsung, termasuk koordinasi dengan negara-negara seperti Yordania dan Turki, serta advokasi melalui jaringan internasional dan lembaga hukum.
FOZ sebagai representasi lembaga zakat nasional menegaskan sikap tegasnya dalam merespons situasi ini. Ketua Umum FOZ, Wildhan Dewayana, menyampaikan bahwa kehadiran empat asosiasi kemanusiaan dalam forum ini menunjukkan soliditas gerakan masyarakat sipil Indonesia.
FOZ secara resmi:
- MENGECAM KERAS PEMBAJAKAN MISI KEMANUSIAAN: Mengutuk sekeras-kerasnya tindakan pencegatan dan pembajakan terhadap 40 kapal kemanusiaan di perairan internasional. Kami menuntut agar seluruh armada beserta muatan amanah bantuan dari rakyat Indonesia dikembalikan utuh agar misi kemanusiaan untuk rakyat Palestina dapat segera dilanjutkan.
- MENUNTUT PEMBEBASAN SEGERA 9 AKTIVIS KEMANUSIAAN INDONESIA: Mendesak otoritas penjajah Israel untuk segera dan tanpa syarat membebaskan lebih dari 100 delegasi kemanusiaan yang ditahan, khususnya 9 aktivis kemanusiaan Indonesia. Keselamatan fisik dan mental mereka merupakan tanggung jawab mutlak pihak yang saat ini menahan mereka.
- MENDESAK TINDAKAN DARURAT PEMERINTAH RI: Meminta Pemerintah Republik Indonesia, melalui Kementerian Luar Negeri, untuk segera mengambil langkah diplomasi darurat, tegas, dan progresif di berbagai forum global guna memastikan keselamatan dan pembebasan para aktivis kemanusiaan tersebut, sebagai wujud nyata pelaksanaan amanat konstitusi dalam Pembukaan UUD 1945 untuk “melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia”.
- LANGKAH KOORDINASI PROAKTIF ALIANSI: Forum Zakat bersama elemen kemanusiaan lainnya telah dan akan terus melakukan koordinasi secara intensif dengan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia dan tim Global Sumud Flotilla untuk memantau perkembangan situasi dan mengupayakan pembebasan segera bagi seluruh aktivis.
- MENDESAK PERLINDUNGAN AKSES KEMANUSIAAN GLOBAL: Meminta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan komunitas internasional untuk mengambil langkah nyata guna menghentikan segala bentuk intimidasi terhadap aktivitas kemanusiaan, serta menjamin dibukanya koridor kemanusiaan laut dan darat yang aman.
- SERUAN SOLIDARITAS DAN PENGAWALAN BERSAMA: Mengajak seluruh masyarakat dan elemen gerakan kemanusiaan untuk memanjatkan doa terbaik, tetap menjaga soliditas, dan terus mengawal pembebasan aktivis kemanusiaan Global Sumud Flotilla serta tetap mendukung seluruh upaya pengiriman bantuan kemanusiaan bagi rakyat Palestina, baik melalui jalur laut maupun darat.
Pernyataan ini juga menegaskan bahwa keselamatan para amil, pegiat kemanusiaan, jurnalis, dan delegasi global lainnya merupakan tanggung jawab bersama, serta tidak boleh diabaikan dalam situasi konflik sekalipun.
Ketua Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI), Rizal Algamar, menambahkan bahwa gerakan filantropi merupakan wujud cinta kasih lintas batas yang harus terus diperjuangkan, termasuk dengan menjaga perhatian publik terhadap krisis kemanusiaan di Gaza.
Senada dengan itu, Humanitarian Forum Indonesia (HFI) menyoroti pentingnya perlindungan terhadap pekerja kemanusiaan dan jurnalis di wilayah konflik, sementara POROZ menegaskan komitmennya untuk terus mendukung berbagai upaya pembebasan delegasi melalui jalur kemanusiaan dan diplomasi.
Dalam sesi tanya jawab, FOZ dan asosiasi kemanusiaan lainnya juga menyampaikan bahwa berbagai langkah konkret telah dilakukan, mulai dari komunikasi dengan Kementerian Luar Negeri, pengiriman surat kepada pemerintah, hingga konsolidasi #AksiBerisikGaza sebagai bentuk aksi ajakan publik untuk memperkuat tekanan dan dukungan terhadap pembebasan delegasi WNI.
Forum Zakat menegaskan bahwa peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kerja-kerja kemanusiaan masih menghadapi tantangan serius di tingkat global. Namun demikian, FOZ memastikan bahwa komitmen untuk terus mengirimkan bantuan, memperjuangkan akses kemanusiaan, dan membela para relawan tidak akan surut.
“Ini bukan hanya tentang sembilan orang WNI, tetapi tentang menjaga nilai kemanusiaan itu sendiri,” tegas FOZ.









