Forum Zakat – Tim Pengabdian Masyarakat Institut Teknologi Bandung (Pengmas ITB) di bawah naungan Tim Pengmas Direktorat Kemahasiswaan ITB menyelenggarakan program pengembangan sistem pengolahan air minum di Desa Karyasari, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Program ini bertujuan mengatasi persoalan krisis air bersih yang telah lama dihadapi masyarakat setempat akibat kondisi geografis yang menyulitkan akses terhadap air layak konsumsi.menyelenggarakan program pengolahan air bersih di Garut.
Agenda ini termasuk ke dalam program pengabdian masyarakat dari Tim Pengmas ITB yang berjudul “Water Solution for Pesantren (WASTREN): Desiminasi Sistem dan Teknologi Pengolahan Air Minum untuk Kemandirian Ekonomi Pesantren.”
Program pengmas ini juga bekerja sama dengan Pondok Pesantren Manba’ul Ulum lokasi yang dipilih untuk penerapan program dan Rumah Amal Salman sebagai donatur dan fasilitator. Program ini sudah berlangsung selama Februari 2025.
Pengabdian masyarakat tersebut dibimbing oleh Prof. Yedi Purwanto dan Manajer Program Abdul Aziz, S.T., berfokus pada penerapan sains, teknologi tepat guna dan terciptanya karya seni/desain/arsitektur/ perencanaan wilayah binaan misalnya metoda, alat, desain, purwarupa (prototipe).
Adapun kegiatan utama dari pengmas ini, dilaksanakan di Pesantren Mambaul Ulum, Dusun Curug Pesantren, yang selama ini menjadi sumber utama air bersih bagi warga sekitar, terutama saat musim kemarau. Melalui pemanfaatan teknologi filtrasi dan desinfeksi sederhana, mahasiswa merancang sistem pengolahan air berbasis mata air lokal yang dapat dijalankan secara mandiri oleh pihak pesantren.
“Sebenarnya potensi air di Desa Karyasari ini besar terbukti dengan adanya beberapa sumber mata air alami. Akan tetapi letak geografis desa berada di atas sungai, sehingga hal ini menjadi tantangan tersendiri, untuk membangun infrastruktur,” kata Hanif Miftakhul Huda, Ketua Koordinasi Program.
Ia menambahkan, kebutuhan air bagi warga sudah cukup mendesak, warga tidak bisa terus menerus mengandalkan mengambil air secara manual, dengan jarak yang cukup jauh, sehingga pengabdian masyarakat ini difokuskan untuk membangun infrastruktur dengan menerapkan teknologi filtrasi air agar masyarakat bisa segera mendapatkan akses air minum yang lebih sehat dan nyaman untuk kebutuhan sehari-hari.
Teknologi yang diterapkan menggunakan teknologi filter RO 200 GPD yang nantinya dihubungkan ke drinking fountain. Teknologi ini mencakup sistem penyaringan berlapis, pemurnian menggunakan sinar ultraviolet (UV), serta desain yang hemat energi dengan memanfaatkan gaya gravitasi. Dengan sistem ini, air dari mata air “Kiara” yang berada di sekitar pesantren dapat diolah menjadi air minum yang aman dikonsumsi tanpa perlu dimasak terlebih dahulu.
Selain menyediakan akses air bersih, program ini juga bertujuan untuk meningkatkan kemandirian ekonomi pesantren. Para mahasiswa menggagas untuk pendirian depot isi ulang air minum yang nantinya dapat dikelola langsung oleh para santri. Sebanyak 20 santri terlibat dalam pelatihan produksi, pengemasan, hingga distribusi air minum. Selain itu, kegiatan sosialisasi tentang pentingnya konsumsi air bersih dilakukan kepada sekitar 50 warga desa.
“Pesantren ini memiliki potensi besar, baik secara sosial maupun geografis. Kami berharap teknologi ini dapat menjadi cikal bakal usaha mandiri berbasis air bersih, sekaligus memperkuat peran pesantren dalam pembangunan masyarakat,” imbuh Hanif.
Desa Karyasari dihuni lebih dari 4.800 penduduk, mayoritas bekerja sebagai buruh tani. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kabupaten Garut tahun 2021, sekitar 34 persen penduduknya hanya menempuh pendidikan hingga taman sekolah dasar. Program ini diharapkan dapat menjadi salah satu upaya memperbaiki kualitas hidup masyarakat, khususnya dalam hal kesehatan dan akses air minum layak.









