Wadah Berhimpunnya Lembaga Amil Zakat Dan Badan Amil Zakat

    Cerita Hari Kelima di Cox’s Bazar

    Cerita Hari Kelima di Cox’s Bazar

    Bagikan Ini :

    Penulis: Amin Sudarsono (Kepala Sekretariat FOZ Nas)

    Ini hari kelima saya di Bangladesh. Saya diutus Forum Zakat membawa titipan para anggotanya yang tersebar di seluruh Indonesa. Besarnya berbeda, ada yang Rp 1 miliar sampai Rp 10 juta. Akan jadi apa di sini nanti? Untuk bantuan pangan. Untuk membangunkan sesuatu yang menolong dan meringankan hidup kaum Rohingya.

    Apa kegiatan saya selama ini? Pertama, melakukan koordinasi dengan para mitra. Kenapa mitra penting? Sebab saya bergerak di negara orang, bukan di Indonesia. Maka keberadaan mutlak diperlukan, saya nggak bisa bahasa Bengali, bahasa Inggris pun tak terlalu lancar. Sekalipun saya bisa lancar, lawan bicara tidak mudah pula menangkap, sama sulitnya saya memahami dialeknya.

    Selain itu, mitra lokal adalah lembaga yang akan menghubungkan kita dengan segala kerumitan distribusi bantuan untuk Rohingya. Mereka memberesi izin dengan pemerintah, dengan komunitas lokal dan terutama penerima manfaat. Maka mencari mitra lokal yang tepat ini agak panjang prosesnya. Alhamdulillah, dengan bantuan relawan Aliansi Kemanusiaan Indonesia yang telah berangkat tebih dahulu, proses kerjasama menjadi lebih mudah.

    Untuk distribusi pangan dan logistik kami menggandeng HELP Cox’s Bazar, LSM yang sebetulnya berpengalaman pada isu human traficking dan advokasi pengungsi. Namun mereka belajar pula melakukan distribusi yang sifatnya charity. Sementara untuk rencana shelter dan hunian sementara pengungsi, kami berencana menggandeng Allama Fazlullah Foundation, ini lembaga keagamaan yang besar di Bangladesh. Mereka berpengalaman pada konstruksi masjid dan bangunan semacam Islamic Center.

    Kegiatan kedua, mencoba diskusi dengan mitra internasional. Rohingya membuka mata internasional. Banyak lembaga hadir di sini, baik dari PBB dan anak organisasinya, maupun LSM dari negara lain. Seperti Turki, Malaysia, Saudi, Qatar, juga Jerman, Denmark, Inggris, dan sebagainya. Kemarin mencoba diskusi dengan UN OCHA, dan berencana masuk dalam koordinasi kemanusiaan global bersama lembaga lain.

    Kegiatan ketiga, tentu adalah ke kamp pengungsian. Luasnya berpuluh kilometer. Bentang alam yang ditempati pengungsi ini sangat luas. Bukit-bukit digundulkan, jalan dibangun, dan tenda plastik berdiri tiba-tiba. Tanah tapak batas negara penuh oleh manusia Rohingya yang jumlahnya mencapai satu juta.

    Banyak kisah harus dituliskan. Banyak cerita dimunculkan, banyak berita perlu dikabarkan. Persoalan Rohingya ini tidak akan selesai dalam sepuluh tahun ke depan. Entah bila Allah menggariskan takdir yang lain bagi bangsa yang teraniaya ini.

    Baiklah. Baru lima hari dan masih panjang lagi waktu saya di sini. Sepuluh hari hari lagi batas visa saya. Dan pejuang kemanusiaan lain akan menyusul, merentangkan estafet kemanusiaan bangsa Indonesia yang sudah ditorehkan di negeri Bangla untuk kaum Rohingya.[]

    Bagikan Ini :

    Leave a Reply

    Close Menu