Wadah Berhimpunnya Lembaga Amil Zakat Dan Badan Amil Zakat

    Di Tengah Wabah Covid-19, Global Zakat Bantu Biaya Hidup 15 Guru Honorer

    Di Tengah Wabah Covid-19, Global Zakat Bantu Biaya Hidup 15 Guru Honorer

    Bagikan Ini :

    ForumZakat – Global Zakat ACT yang merupakan anggota Forum Zakat bersama Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Jawa Tengah kembali mengimplementasikan Program Sahabat Guru Indonesia. Program ini dilakukan di tengah wabah Covid-19 dengan harapan agar para guru honorer tetap mampu memenuhi kebutuhan hidupnya.

    Sebanyak 15 guru honorer di Kota Semarang mendapatkan bantuan biaya hidup pada Jumat (27/3/2020) lalu. Kepala Cabang GZ-ACT Jateng, Giyanto mengatakan implementasi dilakukan dengan tetap mengindahkan kaidah social distancing dimana penyerahan bantuan SGI ini dilakukan kepada satu per satu guru dan terjadwal.

    “Seperti arahan dari pemerintah, dengan menjaga jarak dan meminimalisir adanya kerumunan. Tidak lupa setiap orang mengenakan masker dan disediakan hand sanitizer dalam prosesi penyerahan bantuan ini,” ucap Giyanto.

    Sementara, rasa senang dipanjatkan oleh para guru penerima bantuan, salah satunya adalah Ibu Sunarti. Diketahui, Ibu Sunarti adalah guru yang mengabdikan diri menjadi guru honorer di SD Negeri Candisari, dan setiap sore mengajar anak-anak di TPQ Rumah Jati, Jatingaleh, Kota Semarang.

    “Dengan bantuan ini Alhamdulillah saya merasa terbantu sekali dalam hal finansial untuk kebutuhan sehari-hari dan dapat saya sisihkan sebagian untuk membayar sekolah anak-anak,” kata Sunarti.

    Menurutnya, adanya wabah Covid-19 berdampak sekali terhadap perputaran perekonomian di keluarga mereka. Penuturan selanjutnya datang dari Ibu Sutrisni, seorang guru Pos Paud Menur dan Pos Paud Harapan Bangsa, desa Jabungan, Gajahmungkur, Kota Semarang.

    “Bantuan biaya hidup dalam kondisi wabah virus Corona ini sangat bermanfaat buat keluarga saya. Saya termasuk relawan sekaligus guru honorer, sistemnya kalau di tempat saya mengajar mendapatkan honor harian,” kata Sutrisni.

    “Sehingga kalau tidak berangkat  ke sekolah tidak mendapatkan uang transport. Jadi sangat kerasa sekali apalagi dalam 1-2 minggu seperti imbauan dari pemerintah untuk tidak mengadakan kegiatan belajar mengajar, praktis kami tidak mendapatkan pemasukan,” imbuh Sutrisni. (*)

    Bagikan Ini :

    Leave a Reply

    Close Menu