
Forum Zakat, Jakarta – Dompet Dhuafa menyelenggarakan Indonesia Humanitarian Summit di Nusantara TV, Kamis (15/01/2026), sebagai ruang temu gagasan lintas sektor dalam merespons krisis kemanusiaan, bencana, dan ketimpangan sosial. Forum ini mengusung tema “Empowerment to the Next Level”, yang menegaskan arah filantropi Indonesia menuju pemberdayaan yang lebih berdampak dan berkelanjutan.
Ketua Bidang Inovasi dan Literasi Forum Zakat (FOZ), Dr. Eko Muliansyah, hadir sebagai panelis dalam diskusi bertajuk “Lembaga Filantropi dalam Pemberdayaan Berdampak Selaras dengan Asta Cita”. Dalam pandangannya, lembaga zakat tidak cukup hanya berfokus pada penyaluran bantuan, tetapi juga harus menempatkan edukasi dan pendampingan mustahik sebagai bagian utama dari strategi pemberdayaan.
“Memberikan bantuan itu penting, tetapi membantu mustahik keluar dari kemiskinan, bahkan dari perasaan sebagai orang miskin itu membutuhkan pendampingan yang serius dan berkelanjutan,” tegas Dr. Eko dalam sesi diskusi panel.
Ia menekankan bahwa pendekatan edukatif dan pendampingan berbasis komunitas menjadi kunci agar mustahik mampu bertransformasi menuju kemandirian. Menurutnya, pengelolaan zakat ke depan harus semakin adaptif, inovatif, dan berpihak pada penguatan kapasitas manusia, bukan semata pemenuhan kebutuhan jangka pendek.
Indonesia Humanitarian Summit dibuka dengan opening speech oleh Rahmad Riyadi, Anggota Pembina Dompet Dhuafa, yang memaparkan capaian Dompet Dhuafa sepanjang tahun terakhir. Ia menyampaikan bahwa pertumbuhan penghimpunan Dompet Dhuafa meningkat sekitar 9 persen, disertai dengan perluasan dampak penerimaan dan penyaluran yang semakin terukur. Dompet Dhuafa juga menegaskan komitmen untuk mendorong empowerment to the next level, yakni memastikan satu bantuan berujung pada kemandirian masyarakat melalui tata kelola sosial yang kuat.
Dalam forum tersebut, Prof. Waryono menilai Dompet Dhuafa sebagai lembaga yang tetap konsisten dan terus bertumbuh di tengah semakin banyaknya lembaga filantropi. Menurutnya, ukuran besar sebuah lembaga bukan ditentukan oleh besarnya penghimpunan dana, melainkan oleh luasnya manfaat yang dirasakan masyarakat. Ia juga menyoroti peran Dompet Dhuafa sebagai pionir pengelolaan ZISWAF modern sekaligus pembentuk sumber daya manusia yang membawa nilai-nilai kemanusiaan.
Sejumlah tokoh nasional turut memperkaya diskusi. Anis Matta menegaskan bahwa filantropi memiliki peran penting sebagai perekat kohesi sosial. Yudi Latif mengingatkan posisi Indonesia yang berada di antara anugerah dan bencana di kawasan ring of fire, serta tantangan bencana modern yang banyak dipicu oleh ulah manusia. Ia mendorong lahirnya filantropi global yang berfokus pada isu lingkungan dan keberlanjutan.
Sementara itu, Agung Pardini menyoroti pentingnya inovasi dan industri sebagai kunci pengentasan kemiskinan, sekaligus mengingatkan adanya kelompok rentan miskin yang kerap luput dari perhatian. Menurutnya, banyaknya lembaga zakat justru menjadi peluang untuk menjangkau kantong-kantong kemiskinan, selama disertai audit dan pendampingan dengan melibatkan pemimpin lokal.
Diskusi juga menyinggung pentingnya spiritualitas dalam pengelolaan zakat. Kiai Wahfi mengingatkan bahwa para pengelola zakat tidak boleh “dhuafa” secara nilai, dan spiritualitas menjadi fondasi utama dalam menjaga amanah dan keberlanjutan gerakan zakat.
Forum ini ditutup dengan kesimpulan bahwa pemerintah membutuhkan sinergi yang kuat dengan filantropi, sehingga kolaborasi lintas sektor menjadi keniscayaan. Indonesia Humanitarian Summit menegaskan kembali bahwa pengelolaan zakat tidak berhenti pada memberi bantuan, tetapi membangun sistem sosial yang memungkinkan masyarakat berdiri di kaki sendiri melalui inovasi, pendampingan, dan kolaborasi multipihak.









