Forum Zakat – Isu kesehatan ibu dan anak kembali menjadi sorotan dalam forum daring Ruang Tengah Kesehatan Ibu dan Anak yang digelar pada Kamis, 26 September 2025. Acara ini merupakan kolaborasi antara Forum Zakat (FOZ), UNFPA Indonesia, dan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) yang bertujuan memperkuat sinergi lintas sektor dalam upaya menurunkan angka kematian ibu dan memperbaiki kualitas hidup generasi mendatang.
Ketua Bidang V Inovasi dan Literasi FOZ, Eko Muliansyah, dalam sambutannya menegaskan bahwa isu kesehatan reproduksi merupakan bagian tak terpisahkan dari upaya pengentasan kemiskinan yang selama ini menjadi fokus gerakan zakat. Ia menilai bahwa kemiskinan sering bersifat struktural dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya akibat rendahnya akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, serta dukungan ekonomi yang layak.
Menurutnya, lembaga zakat memiliki peran strategis dalam memperkuat program pembangunan berkelanjutan, terutama melalui kolaborasi lintas sektor. FOZ yang saat ini menaungi 189 organisasi pengelola zakat terus mendorong anggotanya untuk menjalankan program-program berbasis kesehatan dengan pendekatan terintegrasi dan berstandar global. Eko juga menyoroti pentingnya keterlibatan lembaga zakat dalam program kesehatan ibu, anak, dan remaja karena ketiga kelompok ini sangat rentan terjebak dalam siklus kemiskinan.
Paparan data yang disampaikan oleh Dr. Sandi dari UNFPA Indonesia menguatkan urgensi tersebut. Ia menyampaikan bahwa saat ini di Indonesia, satu ibu meninggal setiap jam akibat komplikasi kehamilan atau persalinan. Meski Indonesia telah masuk kategori negara berpendapatan menengah, angka kematian ibu (AKI) masih tergolong tinggi di kawasan Asia Tenggara. Situasi ini diperparah oleh rendahnya akses terhadap layanan kesehatan di daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar), tingginya angka perkawinan usia anak, serta kehamilan yang tidak direncanakan.
UNFPA memandang lembaga zakat sebagai mitra strategis dalam memperluas jangkauan layanan kesehatan. Dr. Sandi menjelaskan bahwa dengan kekuatan jaringan akar rumput yang dimiliki OPZ di seluruh Indonesia, program-program seperti edukasi keluarga berencana, pendampingan ibu hamil, serta intervensi pencegahan kematian ibu dapat dilakukan lebih merata dan efektif. Ia juga mencontohkan program Kawal Bumil, hasil kolaborasi UNFPA, PKBI, dan Rumah Zakat yang telah berjalan sejak Mei 2025 di 10 desa, sebagai salah satu pendekatan komprehensif yang menggabungkan edukasi, pendampingan, dan pelatihan.
Pemaparan teknis mengenai program tersebut disampaikan oleh Faizal Rifai dari PKBI DKI Jakarta. Ia menjelaskan bahwa Kawal Bumil tidak hanya menyasar ibu hamil, tetapi juga remaja dan pasangan usia subur melalui edukasi kesehatan reproduksi, kelas ibu, senam hamil, pendampingan risiko tinggi, serta pelatihan kader dan tenaga kesehatan. Dalam skema pelaksanaan program, Forum Zakat berperan sebagai penghubung antara OPZ pelaksana di lapangan dan tim teknis dari PKBI serta UNFPA. FOZ juga melakukan verifikasi laporan programatik dan keuangan dari para OPZ untuk memastikan akuntabilitas program.
Keterlibatan FOZ dalam tata kelola ini dinilai penting untuk menjaga standar pelaksanaan program serta mendukung replikasi ke wilayah lain. Pada tahap awal, program ini dijalankan oleh lima OPZ di lima wilayah, dengan target diperluas ke 20 hingga 30 wilayah pada tahun berikutnya. Setiap kegiatan telah disiapkan dengan dukungan logistik, modul pelatihan, serta pendampingan teknis dari para mitra.
Wakil Ketua Bidang V FOZ, Humairoh Anahdi, menutup rangkaian diskusi dengan penekanan bahwa lembaga zakat harus memandang program kesehatan ibu dan anak sebagai bagian dari amanah besar untuk menjaga kehidupan dan memastikan hadirnya generasi yang kuat secara fisik dan ekonomi. Ia mengutip Surah An-Nisa ayat 9 sebagai pengingat pentingnya memastikan bahwa umat tidak meninggalkan generasi yang lemah. Dalam pandangannya, keluarga yang sehat adalah fondasi dari kesejahteraan umat.
Humairoh juga mengingatkan bahwa tantangan ke depan bukan hanya soal infrastruktur kesehatan, tetapi juga literasi masyarakat, terutama di kalangan remaja. Tanpa edukasi yang memadai, arus informasi yang tidak terfilter dapat memicu kehamilan tidak diinginkan, yang pada akhirnya menciptakan mata rantai kemiskinan baru. Oleh karena itu, FOZ mendorong seluruh anggotanya untuk menunjuk penanggung jawab program kesehatan, menjalin kerja sama aktif dengan stakeholder lokal, serta berkomitmen pada pelaporan dan monitoring program secara berkelanjutan.
Forum ini menjadi titik awal dari sebuah gerakan kolaboratif yang menjadikan zakat bukan hanya sebagai instrumen bantuan langsung, tetapi sebagai pendorong transformasi sosial jangka panjang. Dengan memperkuat sinergi antara zakat dan sektor kesehatan, para pemangku kepentingan berharap dapat mempercepat penurunan angka kematian ibu, mengurangi stunting, serta membangun fondasi kuat menuju Indonesia Emas 2045.









