
Forum Zakat – Potensi zakat nasional yang mencapai Rp427 triliun kembali menjadi sorotan dalam Talkshow Zakat Goes To Campus Chapter Banten di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) pada Rabu (10/12). Para narasumber dari Kemenag Banten, FOZ Banten, akademisi, hingga media sepakat bahwa salah satu penyebab utama jarak besar antara potensi dan realisasi adalah rendahnya literasi zakat masyarakat. Karena itu, peningkatan literasi di kalangan generasi muda dinilai menjadi kunci untuk menjembatani gap yang terus melebar.
Dosen Ekonomi Syariah Untirta, Mohamad Ainun Najib, Lc., MA, menjelaskan bahwa pemahaman masyarakat tentang zakat masih berada pada level paling dasar: mengetahui definisi zakat, kapan wajib ditunaikan, dan siapa penerimanya. Sementara wawasan lanjutan seperti cara kerja lembaga zakat, pola pendayagunaan, serta dampak pemberdayaan jangka panjang belum banyak dipahami.
Kondisi ini membuat banyak umat Islam yang sebenarnya sudah wajib zakat, namun belum menunaikannya secara tepat karena tidak memiliki gambaran utuh mengenai mekanisme serta peran strategis zakat dalam pembangunan sosial-ekonomi.
Padahal, menurut Ainun Najib, Al-Qur’an memberikan narasi yang sangat lengkap dan rinci tentang zakat, mulai dari perintah hingga mekanisme distribusinya. Namun penjelasan yang sudah begitu jelas tidak otomatis membuat masyarakat memahami praktik zakat apabila literasinya masih lemah. Di sinilah pentingnya edukasi yang lebih intensif, sistematis, dan dekat dengan keseharian masyarakat, agar potensi zakat dapat dioptimalkan secara nyata, bukan sekadar angka penelitian.
Pembahasan mengenai literasi zakat semakin mengerucut ketika unsur media memberikan pandangan. Maksuni Husen, Pimpinan Redaksi Kabar Banten, menegaskan bahwa media terutama platform digital memiliki peran strategis dalam membentuk pemahaman zakat generasi muda.
Lebih dari separuh penduduk Indonesia adalah anak muda dan mereka menghabiskan 8 hingga 13 jam per hari di internet. Dengan perilaku digital seperti ini, media menjadi pintu masuk paling relevan untuk menyebarkan edukasi zakat secara berkelanjutan.
Menurutnya, isu zakat memiliki nilai sosial, spiritual, dan kemanusiaan yang sangat kuat sehingga sebenarnya mudah dikemas menjadi konten edukatif yang menarik. Video pendek, ilustrasi visual, storytelling, hingga kolaborasi dengan influencer dinilai mampu membuat pesan zakat lebih mudah diterima.
Tantangannya justru berada pada kemampuan lembaga zakat mengolah pesan menjadi bentuk yang ringan, relevan, dan tidak menggurui, sehingga dapat bersaing dengan banjir konten digital lainnya.
Dengan cara ini, media tidak lagi sekadar menjadi penyampai informasi, tetapi penggerak perubahan perilaku. Media dapat membantu membangun kebiasaan baru, memperkuat kepercayaan kepada lembaga zakat, sekaligus mendorong masyarakat khususnya generasi muda untuk menunaikan zakat secara teratur dan terstruktur.
Bila literasi zakat terus ditingkatkan melalui kolaborasi akademisi, media, lembaga zakat, dan kampus, maka jarak antara potensi dan penghimpunan zakat bukan hanya dapat diperkecil, tetapi juga dapat bertransformasi menjadi kekuatan yang benar-benar hadir bagi pemberdayaan umat.









