Zainal Abidin
Direktur Mandiri Amal Insani Foundation
Dalam senyap, tak sedikit amil zakat yang menua bersama kenangan —tentang hari-hari mengantar bantuan, merangkul harapan, dan membisikkan kepada mustahik bahwa suatu hari nanti, engkau akan menjadi muzakki. Namun, hidup memang kadang membiarkan idealisme terhenti di ujung masa bakti dan menyelesaikan masalah yang dihadapinya sendiri.
Di tengah gegap gempita dakwah pemberdayaan, ada kisah-kisah sunyi dari para amil yang telah purna tugas. Mereka yang pernah menjadi jembatan harapan, kini terpuruk sendiri —beberapa karena sakit, terbelit utang, atau sebab lainnya. Bagaimanapun, hidup tak pernah memberi kesempatan kedua. Pertanyaannya: mengapa bisa begitu?
Jawabannya tidak bisa disederhanakan, tapi satu hal mesti kita sepakati: tidak sepantasnya dana zakat yang dititipkan untuk fakir, miskin, dan mereka yang benar-benar tidak berdaya —dipakai untuk menyelesaikan urusan purna tugas amil. Mereka sudah menerima haknya selama bertugas: gaji, fasilitas, dan pelatihan. Maka, segala ikhtiar untuk hidup layak setelah masa tugas adalah tanggung jawab pribadi, bukan beban lembaga yang pernah memekerjakan mereka.
Namun demikian, ini bukan berarti kita tutup mata. Justru ini menjadi cermin serius bagi lembaga-lembaga zakat: apakah selama ini sistem pengembangan SDM-nya sudah berpihak pada masa depan para amil? Apakah mereka hanya diposisikan sebagai pekerja lapangan, ataukah sebagai insan yang tengah dibina untuk menjadi mandiri —seperti mustahik lainnya.
Purna tugas amil harusnya menjadi tonggak kemandirian amil, bukan titik nadir. Lembaga yang bijak akan menyiapkan skema transisi atau persiapan purna tugas yang tidak membebani dana penghimpunan. Semuanya dimaksudkan untuk menjadikan amil sebagai teladan: bukan mustahik terhormat, tetapi muzakki yang bermartabat.
Pada akhirnya, tugas amil bukan hanya menyampaikan amanah zakat, tapi juga menjadikan dirinya contoh nyata dari transformasi sosial. Itu hanya bisa terjadi jika sejak awal, ia menanamkan satu keyakinan dalam dirinya: Saya tidak hanya akan membantu orang lain keluar dari kemiskinan —saya pun harus bisa keluar dengan kaki saya sendiri.









