Wadah Berhimpunnya Lembaga Amil Zakat Dan Badan Amil Zakat

    Sinergi Dan Enam Modal Akhlak

    Bagikan Ini :

    Klise ya, ngomongin sinergi? Gak apa-apa lah. Lha wong kata Adolf Hitler (1889-1945), kedustaan yang diulang-ulang saja akhirnya dapat dianggap kebenaran. Apalagi kebenaran atau kebaikan, seperti sinergi, harus terus diulang-ulang, disosialisasikan. Jangan pernah bosan mengeja sinergi.

    Allah SWT dalam firman-Nya, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS Al-Maidah: 2).

    Juga disitir dalam ayat: “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS Ash Shof : 4).

    Inti sinergi adalah give and take. Giving, sekali lagi dengan menghadirkan faktor Allah SWT, rumusannya bukan bukan 10-1 = 9, melainkan 19.

    Sebab, merujuk kepada Quran Surat Al-An`am ayat 160, “Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).

    Dari ayat di atas kita bisa ambil kesimpulan sederhana. Allah menjanjikan balasan 10 kali lipat bagi mereka yang berbagi (sedekah).

    Bahkan Giving bisa mencapai 10-1 = 709, sebagaimana disebutkan dalam Quran Surat Al-Baqarah ayat 261 bahwa Allah menjanjikan balasan sedekah hingga 700x lipat. “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah [166] adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

    Kekuatan Organisasi Pengelola Zakat (OPZ) saat ini menunjukkan pergerakan yang positif, baik dilihat dari sisi pengembangan program maupun strategi fundraising. Kreativitas yang muncul menunjukkan kedinamisan para amilin yang secara komprehensif terus berevolusi seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi. Masyarakatpun semakin sadar dan antusias untuk terus menyalurkan zakat serta sedekahnya melalui OPZ. Terbukti perolehan ZIS masing-masing OPZ semakin hari-semakin meningkat.

    Inilah kekuatan, di saat masing-masing lembaga mempunyai basis sumber daya yang berbeda-beda namun semua pergerakan dalam rangka fastabiqul khairat. Kekuatan ini pun akan semakin menguat dan akan menjadi full power dan akan mempunyai kekuatan daya dobrak dalam ikhtiar menuju perubahan masyarakat kearah yang lebih baik. Itu akan terjadi jika diantara OPZ bisa bersinergi.

    Apakah Lembaga Amil Zakat atau Amil Sedekah saat ini sudah bersinergi? Kita sudah melakukan koordinasi namun belum banyak bentuk sinergi yang bisa diwujudkan. Namun koordinasi pun bisa berwujud sebagai bentuk sinergi. Di sisi lain masih banyak yang lebih senang membicarakan masalah dibanding merumuskan peluang dan potensi. Boleh ada masalah, namun jangan larut dalam masalah. Lebih baik kita membicarakan masa depan daripada kita balik ke belakang.

    Sinergi adalah energi yang mempunyai kekuatan hebat, jika sinergi bukan sekedar basa-basi. Artinya, sinergi yang secara jujur dan bermakna. Maksudnya adalah sinergi harus diimplementasikan di hati, pikiran dan amal. Jika sudah seperti ini, maka peluang besar telah menanti. Peluang untuk membesar kekuatan  untuk mendorong dan memperbaiki perzakatan di tanah air.

    Sinergi hati, pikiran, dan amal, itu akan terwujud bila kita menerapkan enam modal akhlak yang disebutkan Dr. Yusuf Qaradawi dalam Fiqhul Ikhtilaf.

    Pertama, ikhlas lillahi ta’ala. Syaikh Qaradawi mengingatkan, seringkali rivalitas dan perselisihan terjadi karena faktor-faktor pribadi dan popularitas, sekalipun dibalut dengan kepentingan umat bahkan kepentingan Islam.

    Kedua, meninggalkan fanatisme terhadap individu, mazhab, dan golongan. Di antara akhlak meninggalkan fanatisme terhadap individu, mazhab dan golongan ialah sikap melihat kepada perkataan bukan kepada orang yang mengatakannya. Hendaknya ia punya keberanian untuk mengkritik diri sendiri, mengakui kesalahan, menerima dengan lapang dada kritik orang lain. Ia tidak segan meminta nasehat dan evaluasi dari orang lain, memanfaatkan ilmu dan hikmah yang dimiliki orang lain, memuji orang yang tidak sependapat jika memang pendapatnya baik, dan membelanya apabila dia dituduh dengan tuduhan yang batil atau dilecehkan dengan tidak benar.

    Ketiga, berprasangka baik kepada orang lain. Di antara cabang iman yang terbesar ialah: berprasangka baik kepada Allah dan manusia. Keempat, tidak menyakiti dan mencela. Bila ada kontroversi atau konflik, lakukan musyawarah untuk  tarjih, yakni mengadu argumen terbaik untuk menemukan kompromi terbaik.

    Kelima, menjauhi jidal (debat kusir) dan permusuhan sengit. Syaikh Qaradhawi mengingatkan, masih banyak pekerjaan besar umat ketimbang melakukan konfrontasi dalam masalah-masalah furu’iyah (cabang/teknis) dan sektoral. Dan keenam, dialog dengan cara yang ahsan sebagaimana firman Allah SWT: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl, 16: 125).

    Semua yang disebutkan di atas adalah adab yang bagus untuk kita memulai bersinergi. Selama kita punya akhlak-akhlak itu, sinergi hanyalah urusan membuat makanan. Campur sini, tambahin bumbu ini, tambahin bumbu itu, dan jadilah masakan yang enak.
    Dengan perkembangan teknologi saat ini, maka dunia kita menjadi flat, nggak ada sekat, nggak ada dinding, semua bisa diakses, semua bisa berkomunikasi. Dan jika konsolidasi antara OPZ semakin intensif melalui media apapun, maka berbagi informasipun bisa menjadi salah satu bentuk sinergi.

    Jadi bukanlah masalah ketiadaan waktu atau yang lainnya. Sinergi ini hanya masalah mau atau nggak. Mau atau nggak, kita mengefisiensikan waktu dan tenaga kita dalam meraih sesuatu dengan bersinergi. Mau atau nggak, kita mencapai tujuan secara bersama-sama untuk kebaikan. Mau atau nggak kita mempercepat kebaikan itu tersebar dengan bersinergi. Mau atau tidak kita bersinergi membantu umat untuk mengurangi masalah-masalah yang dihadapinya dalam kehidupannya. Semuanya hanya masalah kemauan saja.

    Tentu peluang sinergi lainnya masih terbuka sangat lebar, masih banyak yang bisa dikembangkan, masih banyak lahan garapan, maka silahkan melakukan sinergi sekecil apapaun termasuk sinergi program besar, maka yang tidak mungkin menjadi mungkin bahkan semakin mudah dan ringan untuk dilaksanakan.[]

    Bagikan Ini :

    Leave a Reply

    Close Menu