
Forum Zakat – Forum Zakat (FOZ) kembali menggelar diskusi strategis di CEO OPZ Forum 2025 pada Rabu (3/12), mempertemukan lebih dari 190 pimpinan Organisasi Pengelola Zakat (OPZ) dari seluruh Indonesia untuk membahas penguatan kolaborasi dalam pengentasan kemiskinan ekstrem.
Pertemuan yang berlangsung sejak siang hingga malam ini menegaskan kembali penempatan OPZ sebagai aktor penting dalam mendukung target nasional pengurangan kemiskinan ekstrem, khususnya melalui strategi terintegrasi yang menghubungkan pemerintah, lembaga zakat, sektor swasta, dan komunitas.
Sekretaris Umum FOZ, Udhi Tri Kurniawan, membuka sesi dengan menekankan bahwa Kerangka Acuan Kerja (KAK) OPZ disusun sebagai pedoman operasional yang menghubungkan tujuan, ruang lingkup, desain, hingga mekanisme implementasi program dalam satu kerangka nasional.
Ia menegaskan pentingnya penggunaan data resmi seperti DTKS dan DTSEN yang diverifikasi berlapis agar sasaran tepat dan tumpang tindih penerima manfaat dapat dihindari. Udhi juga memaparkan arah intervensi yang harus diperkuat OPZ, mulai dari peningkatan pendapatan, pengurangan beban pengeluaran, hingga pengurangan kantong kemiskinan, yang seluruhnya ditujukan untuk menjawab gap antara standar hidup dan kemampuan masyarakat miskin dalam memenuhinya.
Validasi mustahik disebut sebagai salah satu tantangan utama, mengingat had kifayah di berbagai daerah masih berada di atas UMP, sementara garis kemiskinan berada jauh di bawah kebutuhan riil rumah tangga.
Dalam forum yang sama, Associate Expert FOZ, Citra Widuri, memaparkan hasil riset kontribusi OPZ terhadap pengentasan kemiskinan ekstrem. Dari 702 OPZ di Indonesia, hanya 69 lembaga yang menyumbang 80 persen dari total penghimpunan zakat nasional, bahkan 10 lembaga terbesar menyumbang lebih dari separuhnya.
Dari analisis terhadap 59 laporan penyaluran, ditemukan bahwa mayoritas program OPZ masih berfokus pada pengurangan beban pengeluaran dengan pola intervensi yang setara program PKH, sementara porsi program peningkatan pendapatan relatif kecil. Namun secara proporsi, porsi intervensi produktif OPZ tercatat lebih besar dari pemerintah, meski secara nominal APBN jauh lebih besar.
Citra menilai bahwa pemerintah masih melihat kontribusi OPZ sebatas besaran alokasi dana, padahal dinamika di lapangan jauh lebih kompleks dan sangat dipengaruhi konteks lokal. Ia mengingatkan bahwa kemiskinan tidak bisa diseragamkan, bahkan dalam satu provinsi sekalipun. “Tolong jangan disamaratakan,” tegasnya, seraya menekankan pentingnya intervensi berbasis karakteristik daerah.
Forum kemudian berlanjut ke sesi malam untuk membahas ko-kreasi program OPZ di delapan provinsi prioritas kemiskinan ekstrem. Udhi kembali memimpin sesi dan mengajak para pimpinan OPZ menyampaikan usulan kolaborasi yang dapat diterapkan pada wilayah-wilayah prioritas tersebut. Ia menegaskan bahwa forum ini dirancang bukan hanya untuk membahas program, tetapi juga sumber pendanaan yang dapat dihimpun secara kolektif. Data persebaran titik kemiskinan ekstrem turut ditampilkan sebagai dasar eksplorasi potensi sinergi antar lembaga.
Diskusi ditutup dengan sejumlah kesepakatan strategis dari 133 OPZ yang hadir. Pertama, OPZ akan melakukan pendataan program eksisting yang terkait ekonomi dan pengentasan kemiskinan untuk kemudian diselaraskan dengan rencana pemerintah dalam P3KE, dilengkapi petunjuk teknis dan dashboard pemantauan. Kedua, forum menyepakati pembentukan Program Matching antar OPZ guna menemukan kecocokan program dan menyusun kolaborasi bersama yang saling melengkapi. Ketiga, disepakati penetapan titik prioritas sebagai rujukan kolaborasi OPZ dalam implementasi P3KE ke depan. Keempat, forum menyetujui pembentukan forum lanjutan untuk membahas aspek teknis, integrasi data, koordinasi, serta monitoring dampak secara berkala.
CEO OPZ Forum 2025 menegaskan komitmen kolektif OPZ dalam menyatukan langkah untuk memperkuat kontribusi zakat dalam pengentasan kemiskinan ekstrem. Dengan kolaborasi yang lebih solid, pemetaan data yang lebih akurat, serta orientasi pada kemandirian mustahik, FOZ berharap intervensi zakat dapat memberikan dampak yang lebih terukur dan berkelanjutan bagi masyarakat miskin ekstrem di Indonesia.









