
Forum Zakat – Kementerian Agama melalui Direktorat Pemberdayaan Zakat dan Wakaf bersama Forum Zakat (FOZ) memperkuat koordinasi tindak lanjut penanganan bencana di wilayah Sumatra, khususnya menjelang bulan Ramadhan. Penguatan koordinasi tersebut dibahas dalam rapat yang digelar di Ruang Rapat Lantai 9 Direktorat Pemberdayaan Zakat dan Wakaf, Jakarta, Rabu (8/1/2026).
Rapat dihadiri oleh Direktorat Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kemenag, Forum Zakat, POROZ, serta sejumlah Pimpinan Lembaga Amil Zakat (LAZ). Dalam pertemuan tersebut terungkap total komitmen penyaluran bantuan dari Forum Zakat beserta anggotanya mencapai Rp100 miliar, sementara POROZ dan anggotanya sebesar Rp54 miliar, yang difokuskan pada fase tanggap darurat hingga transisi pemulihan.
Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kemenag, Prof. Waryono, menegaskan bahwa tantangan utama saat ini adalah memastikan koordinasi nasional berjalan kuat agar intervensi bantuan tidak tumpang tindih dan selaras dengan kebutuhan di lapangan.
“Menjelang Ramadhan, kebutuhan paling mendesak adalah hunian dan kesiapan layanan ibadah berbasis masjid. Ini perlu dipastikan berbasis data yang terverifikasi agar bantuan tepat sasaran dan tidak menumpuk pada satu jenis bantuan saja,” ujar Prof. Waryono.
Ia menambahkan, Kemenag melalui Bimas Islam telah menyiapkan dukungan untuk masjid terdampak, masing-masing sebesar Rp50 juta untuk kategori rusak ringan dan sedang yang terdata dalam sistem zakat nasional. Selain itu, BAZNAS juga menyatakan kesiapan membantu sekitar 500 masjid dengan nilai Rp25 juta per masjid. “Masjid harus menjadi pusat layanan ibadah dan sosial selama Ramadhan, terutama di wilayah terdampak bencana,” tegasnya.
Rapat juga menyepakati fokus wilayah prioritas penanganan bencana di Sumatra, yakni Aceh (Aceh Tamiang dan Bener Meriah), Sumatera Utara (Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah), serta Sumatera Barat (Agam dan Tanah Datar). Selain hunian, kebutuhan lain yang menjadi perhatian adalah air bersih dan sanitasi, logistik pangan, layanan kesehatan, pendidikan darurat, serta dukungan ibadah Ramadhan seperti Al-Qur’an, sarung, mukena, dan sajadah.
Ketua Umum Forum Zakat, Wildhan Dewayana, menyampaikan bahwa FOZ sepakat mendorong pendekatan berbasis perencanaan kolektif dan data terintegrasi. Menurutnya, fase transisi menuju pemulihan membutuhkan peta kebutuhan yang jelas agar peta aksi dapat dijalankan secara efektif.
“FOZ mendorong pendataan terpusat dan pelaporan berkala agar jelas siapa melakukan apa dan di mana. Program Ramadhan ke depan akan difokuskan pada layanan berbasis masjid dan madrasah, dengan memastikan intervensi yang sudah dan akan dilakukan tercatat dan terkoordinasi,” kata Wildhan.
Dalam rapat tersebut juga disepakati bahwa opsi hunian sementara menjelang Ramadhan perlu dipilih secara hati-hati. Sewa rumah bagi warga dengan kategori rusak berat dan relokasi dinilai lebih aman dan cepat, sementara bantuan renovasi ringan serta aktivasi kembali MCK dan sumur diprioritaskan bagi rumah rusak ringan hingga sedang. Pembangunan huntara yang tidak berbasis rencana kolektif disepakati untuk dihindari karena berisiko tidak terpakai atau kembali terdampak bencana.
Selain itu, perhatian khusus juga diarahkan pada distribusi Al-Qur’an untuk wilayah terdampak, dengan rencana penyaluran puluhan ribu eksemplar melalui lembaga zakat. Isu tradisi lokal menjelang Ramadhan, seperti pemenuhan kebutuhan daging dalam tradisi meugang, turut dibahas sebagai bagian dari penguatan layanan sosial dan ibadah masyarakat terdampak.
Rapat ditutup dengan kesepakatan untuk menggelar pertemuan lanjutan pada 15 Januari 2026 guna memfinalisasi data kebutuhan, prioritas wilayah, serta mekanisme koordinasi harian. Sinergi Kemenag dan FOZ diharapkan mampu memastikan respons bencana yang lebih terarah, terintegrasi, dan berkelanjutan, khususnya dalam menyongsong Ramadhan di wilayah Sumatra.









