Oleh : M. Muchtar Nurdin, Amd. MI. (Fundraising Pondok Sedekah Indonesia)
Forum Zakat – Lebih dari 4000 tahun yang lalu, pada mulanya Siti Hazar dan Nabi Ibrahim, AS jalan berdampingan di tengah lembah yang luas dan tandus. Menelusuri setiap butiran pasir yang sesekali terhempas angin dibawah terik matahari yang membara.
Ada risalah agung yang hendak Allah SWT ciptakan melalui keduanya untuk kemudian hari menjadi bukti cinta kepada Allah SWT adalah Pengorbanan yang maha dahsyat. Ialah bukit Shafa dan Marwah yang menjadi saksi bisu pengorbanan dahsyat itu, diantara kedua bukit itulah keyakinan cinta wanita tangguh Siti Hajar kepada Allah SWT menghadapi ujiannya.
Siapa yang mengira seorang suami tercinta Nabi Ibrahim, AS akan rela meninggalkannya bersama buah dambaan hati yang masih bayi di tengah lembah Mekkah yang tandus. Dengan berlinang air mata Siti Hajar berusaha meneguhkan keyakinan cintanya kepada Allah SWT dengan menerima takdir itu dengan ikhlas.
Belum juga kering air matanya terdengar tangisan bayi mungil Nabi Ismail, AS yang kehausan membutuhkan secercah air. Ia berlari sebanyak tujuh kali diantara bukit Shafa dan Marwah mencari sumber mata air demi kelangsungan hidup buah hati tercinta. Dalam kondisi ketidak mungkinan dan kesulitan yang dihadapinya itu, sekuat tenaga dan sebesar cintanya kepada Allah SWT ia membuktikan ikhtiar dan doanya Pasti dikabulkan Allah SWT.
Allah SWT ingin melihat keteguhan, keyakinan dan seberapa besar usaha yang dilakukan Siti Hajar sampai batas limit maksimal kempuannya dalam pempertahankan cinta dan kehidupan. Hingga pada akhirnya mata air mengalir dari hentakan kedua kaki Nabi Ismail, AS yang bernama air zamzam. Peristiwa itu menjadi risalah abadi dalam syariat haji dan umroh melalui ibadah Sa’i.
Waktu telah berlalu sejarah itu mengajarkan banyak hal tentang seni mempertahankan cinta, kehidupan, ketaatan, usaha, dan tawakal kepada Allah SWT ditengah himpitan dan dinamika kehidupan saat ini yang semakin kesini semakin kesana. Ialah Filantropi sebagai mediator bukan hanya untuk saling membantu dan menguatkan antar sesama manusia tapi jauh dari itu adalah merubah keadaan menjadi lebih baik dari tidak mampu menjadi mampu.
Seiring perkembangan jaman cara saling membantu antar sesama manusia telah mengalami perubahan yang signifikan tidak lagi harus bertatap muka dan saling barter. Cukup dengan hentakan jari dengan mode lembut pada layar aplikasi bantuan akan langsung tersampaikan melampaui jarak dan waktu.
Kehadiran filantropi sejatinya adalah sarana amanah bagi para dermawan untuk menghadirkan sumber-sumber mata air baru di tengah-tengah lembah kegersangan hidup bagi masyarakat yang kurang beruntung agar kehidupannya menjadi lebih baik lagi. Jangan biarkan ada manusia lain yang merasa sendirian membutuhkan pertolongan karena mereka belum tentu seperti Siti Hajar yang mampu melampaui semua ujian kehidupan.
Tujuh kali Siti Hajar seorang diri berlari antara bukit Shafa dan Marwah untuk menyambung kehidupan dirinya dan bayi kecilnya Nabi Ismail, AS. Maka filantropi harus lebih dari tujuh kali berlari memegang amanah penghimpunan dan menebar manfaat agar kehidupan mereka yang tidak baik-baik saja menjadi lebih baik-baik saja karena filantropi tidaklah sendirian.
Belajarlah dari masa lalu, pelajari masa kini, dan ciptakan masa depan. Melalui sinergi dan kolaborasi lintas sektor, filantropi bergerak pada semua bidang ekosistem kehidupan menciptakan dampak perubahan positif jangka panjang, bukan hanya sekadar bantuan sesaat.









