CEO Forum 2025: Pimpinan OPZ Anggota FOZ Komitmen Kuatkan Kolaborasi untuk Bencana Sumatra

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Anggota FOZ Kuatkan Kolaborasi Bencana Sumatra

Anggota FOZ Kuatkan Kolaborasi Bencana Sumatra

Forum Zakat – Pembukaan CEO OPZ Forum 2025 pada Rabu, 3 Desember 2025 menjadi momentum penting ketika para pimpinan Organisasi Pengelola Zakat (OPZ) anggota FOZ menyatakan komitmen bersama untuk memperkuat kolaborasi dalam respon bencana Sumatra. Acara resmi dibuka oleh Ketua Umum Forum Zakat (FOZ) Wildhan Dewayana, Direktur Zakat dan Wakaf Kemenag Prof. Waryono, Sekum FOZ Udhi Tri Kurniawan, serta Ketua Juri Zakat Awards dr. Samhari Baswedan.

Sebelum prosesi pembukaan, Ketua Umum FOZ mengajak seluruh peserta forum untuk mengheningkan cipta dan berdoa bagi korban banjir bandang dan longsor di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh. Ia menegaskan bahwa CEO OPZ Forum bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi ruang untuk menyatukan perspektif dan langkah besar gerakan zakat. “Tujuan kita satu: kejayaan bangsa melalui gerakan zakat,” ungkapnya.

Dalam laporannya, Wildhan menyampaikan bahwa hingga Senin malam tercatat komitmen bantuan tahap pertama mencapai 155 miliar rupiah, hasil kolaborasi Kemenag, BAZNAS, FOZ, dan mitra. Dari total tersebut, lebih dari 31,6 miliar rupiah berasal dari komitmen anggota FOZ. “Angka ini bukan sekadar nominal,” ujarnya. “Ini bukti persaudaraan. Ketika satu bagian tubuh bangsa ini sakit, gerakan zakat adalah tangan yang pertama kali mengusap dan mengobatinya.”

Kolaborasi Pengentasan Kemiskinan Ekstrem

Selain respon bencana, Ketua Umum FOZ menyoroti tema utama CEO OPZ Forum tahun ini: kolaborasi pengentasan kemiskinan ekstrem. Ia memaparkan realitas bahwa 70 persen penduduk miskin ekstrem berada di pedesaan didominasi petani buruh, nelayan kecil, dan buruh kasar yang minim akses sumber daya produktif. Sementara itu, 65 persen penduduk miskin nasional terkonsentrasi di delapan provinsi besar.

Menurutnya, tantangan terbesar bukanlah keterbatasan sumber daya, melainkan fragmentasi program. “Program pemerintah jalan sendiri, lembaga zakat jalan sendiri. Ada exclusive error dan inclusive error,” jelasnya. Karena itu, ia mengajak gerakan zakat mengakhiri ego kelembagaan. “Bendera lembaga boleh berbeda, tapi visi kita satu: kesejahteraan umat.”

Arah Strategis Gerakan Zakat 2024–2027

Dalam kerangka visioning 2024–2027, FOZ merumuskan empat kesepakatan:

  1. Fokus bersama pada kantong kemiskinan ekstrem berbasis data P3KE.
  2. Perancangan dashboard kolaboratif antar-OPZ.
  3. Desain graduation pathway mustahik menuju muzakki.
  4. Konsolidasi respon bencana, yang pada saat ini berfokus bencana Sumatra.

Beliau juga mengumumkan rencana Zakat Impact Summit 2026 sebagai panggung pembuktian dampak zakat, serta memperkenalkan program nasional “Ramadhan Berdaya” yang akan berjalan di delapan provinsi dengan minimal empat titik dampingan di tiap provinsi. Program ini menekankan pemberdayaan dan penguatan layanan dasar agar Ramadhan menjadi “bulan percepatan pemberdayaan, bukan hanya konsumsi spiritual.”

Ketua Umum FOZ menutup sambutan dengan apresiasi kepada peserta Zakat Awards 2025, disertai ajakan untuk terus melangkah bersama “harmoni, kompak, berdampak” serta keyakinan bahwa dari forum inilah ikhtiar besar “menipiskan habis kemiskinan ekstrem di Indonesia” dapat dimulai.