Forum Zakat Dorong Penguatan SDM Amil, Menteri Ketenagakerjaan Ajak OPZ Bangun Organisasi “People-Centric”

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Penguatan SDM Amil

Forum Zakat — Forum Zakat (FOZ) menegaskan pentingnya penguatan sumber daya manusia (SDM) amil sebagai kunci pembangunan sistem zakat yang profesional, berdaya saing, dan berdampak luas bagi masyarakat. Pesan ini mengemuka dalam pembukaan gelaran HRD OPZ Forum 2025 yang diselenggarakan oleh FOZ bersama para anggota di Jakarta, Selasa (21/10).

Mengusung tema “Peran Strategis OPZ dalam Membangun SDM Amil yang Profesional dan Berdaya Saing”, acara ini dihadiri berbagai pimpinan lembaga zakat nasional, akademisi, dan pemangku kebijakan. HRD Forum menjadi ajang berbagi strategi pengelolaan SDM dan tata kelola kelembagaan zakat di tengah perubahan sosial dan teknologi yang cepat.

Dalam sambutan pembuka, Ketua Umum Forum Zakat, Wildhan Dewayana, juga menyampaikan bahwa zakat memiliki potensi besar untuk menjadi instrumen strategis dalam membangun umat dan peradaban, sekaligus menjadi syiar Islam yang perlu dikembangkan melalui peningkatan kompetensi sumber daya manusia.

“Zakat bukan hanya kewajiban ibadah, tetapi juga kekuatan sosial ekonomi umat. Untuk memaksimalkan potensi ini, amil sebagai arsitek sistem zakat harus terus dirawat dan dikembangkan,” ujar Wildhan.

Ia menyoroti meningkatnya tuntutan terhadap OPZ dalam hal akuntabilitas, pengukuran dampak sosial-ekonomi, integritas, dan kepatuhan syariah. Karena itu, menurutnya, HRD OPZ Forum dihadirkan sebagai ruang untuk menegaskan kembali peran strategis amil dalam merancang sistem zakat yang kokoh, transparan, dan terpercaya.

Dalam keynote speech bertema “Masa Depan SDM Amil Zakat: Adaptif, Inklusif, Profesional”, Menteri Ketenagakerjaan RI, Prof. Yassierli, Ph.D., mengajak para pengelola zakat untuk meninggalkan cara lama dan membangun pola kerja baru yang lebih adaptif serta berpusat pada manusia (people-centric approach).

“Kita tidak bisa berharap hasil yang berbeda jika terus menggunakan cara lama. OPZ perlu pendekatan baru dalam mengelola SDM agar bisa menghadapi tantangan zaman,” ujar Yassierli.

Ia menekankan pentingnya mindset crisis bagi para pemimpin SDM di OPZ agar mampu membaca dinamika zaman yang serba cepat (VUCA world). Dengan potensi zakat nasional mencapai Rp300 triliun namun realisasi masih kecil, Yassierli mendorong lembaga zakat untuk bertransformasi melalui digitalisasi dan pendekatan berbasis data.

“Data bukan hanya alat administratif, tapi sarana membangun hubungan yang lebih personal dengan muzakki. Setelah ada kedekatan, barulah kepercayaan bisa tumbuh,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya governance dan transparansi, mencontohkan kisah Nabi Yusuf sebagai teladan tentang kekuatan kepercayaan (trust). Selain itu, tren demografi yang didominasi milenial dan Gen Z menuntut OPZ untuk lebih inklusif dan terbuka.

“Anak muda mencari makna, bukan sekadar pekerjaan. OPZ harus menyesuaikan struktur agar lebih kolaboratif dan menghargai keseimbangan hidup. Kita harus beralih dari pola memerintah menjadi pola melibatkan,” tutupnya.