Oleh Imam Nawawi, Anggota Bidang Inovasi & Literasi Forum Zakat/Kepala Humas LAZNAS BMH
Forum Zakat – Sebagian orang kadang kurang mau sungguh-sungguh mendalami latar belakang mengapa dalam Islam ada zakat, infak dan sedekah (ZIS). Lalu, apa korelasi syariat ZIS itu bagi kelangsungan stabilitas sosial ekonomi umat? Menurut BAZNAS, zakat juga bisa berperan sebagai instrumen yang mampu mengurangi disparitas ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan sosial secara keseluruhan.
Kalau kita timbang dengan realitas sosial, ekonomi dan politik terkini, kita akan menemukan keserakahan pada sebagian besar mereka yang punya jabatan. Secara langsung, baik warga biasa atau pejabat, cenderung ingin mendapatkan harta dan benda lebih besar, lebih banyak. Alhasil, kejahatan tidak saja merajalela di kalangan elit, tapi juga warga biasa.
Akhirnya, negeri ini sangat mungkin terjerat pada lingkaran kejahatan. Puncaknya kita semua sulit mewujudkan kesejahteraan dan keadilan bagi semua. Padahal melalui zakat, kita dapat membantu langsung orang yang kesulitan, mengentaskan kemiskinan, dan menguatkan daya beli masyarakat.
ZIS Selamatkan Semua
Zakat, infak, dan sedekah mampu menyelamatkan semua, baik mereka yang mengeluarkan maupun yang menerima. Bagi muzakki (orang yang mau membayar zakat) zakat menjadi pembersih harta, pencerah jiwa, sehingga sifat kebinatangan berupa kerakusan bisa terkendali. Secara sosial dana zakat itu dapat menyelamatkan hidup masyarakat dhuafa dan fakir miskin.
Bukankah ini bukti bahwa dengan taat zakat, seorang Muslim yang juga warga negara Indonesia terlibat dalam menjaga kebaikan dalam kehidupan sosial ekonomi?
Pujian Allah untuk Muslim yang Infak
Kalau zakat ada syarat dan ketentuan, serta kriteria siapa yang muzakki dan siapa yang mustahik. Infak bisa dilakukan oleh siapa saja. Baik itu orang kaya, bahkan orang biasa-biasa pun boleh melakukannya. Seorang kolega pernah mengatakan kepadaku, boleh jadi Indonesia ini masih tegak karena keberkahan dari amal berupa infak. Infak ini mampu menggerakkan pembangunan hingga ekonomi yang berkelanjutan.
Seorang dai di pedalaman, ia tak akan mampu berdiri sendiri. Dana infaklah yang membuat mereka tetap teguh berkiprah di sana. Besarnya antusiasme orang berinfak juga membuat anak-anak yatim dan dhuafa tetap mendapat “perlindungan”. Bahkan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah, Allah memujinya dengan orang yang mau menolong agama-Nya. Orang yang mau memberikan pinjaman yang baik kepada Allah.
Padahal Allah tidak butuh bantuan manusia. Namun, begitulah Allah memberikan kemuliaan kepada hamba-hamba-Nya yang mau berinfak.
Kekuatan Ekonomi
Namun demikian, tidak berarti kita cukup memandang itu sebagai anugerah dan kita perlu merawatnya. Cara merawat kebaikan dari ZIS ini adalah dengan menguatkan ekonomi umat. Umat Islam harus maju usahanya, tinggi pendidikannya, sehingga dampak ZIS bisa semakin tinggi dan merata.
Dalam konteks ini tentu saja pemerintah tidak bisa sebatas memfasilitasi, tapi juga mendorong kesejahteraan umat. Budaya hidup gemar infak, sedekah dan mau membayar zakat harus menjadi arus baru. Budayakan untuk hidup bersahaja, misalnya pakai jam tangan, kendalikan untuk tak bermewah-mewah.
Masak iya, untuk jam tangan saja harganya sampai Rp 2 miliar, tapi banyak rakyat tak bisa sekolah. Kalau itu hasil tunjangan dari pajak rakyat, apakah pantas jadi kebanggaan. Bahkan yang pengusaha sekalipun kalau dia Muslim, semestinya mampu mengerem hasrat yang seperti itu.
Dalam kata yang lain, zakat, infak dan sedekah adalah solusi langsung untuk kita sadar bahwa harta memang amanah. Harta bukan kepemilikan yang membuat kita gelap mata. Memandang orang lain hina karena tak berharta. Sebaliknya memandang kemuliaan berdasarkan kekayaan. Hidup pun menjadi serakah, lebih buruk dari seekor singa di belantara hutan.
Mari kembali pada pilar penting pembangunan ini: ZIS. Zakat dan infak adalah jembatan hati. Saat seorang muslim mengulurkan tangan, saat itulah mereka merajut benang persaudaraan dengan mereka yang mungkin tak pernah bersua. Lebih dari sekadar berbagi rezeki, ini adalah sebuah keindahan membangun rasa nyaman, saling menguatkan, dan menemukan arti syukur yang sesungguhnya. Melalui ZIS Allah mengharapkan kita menyalurkan kemampuan untuk memberdayakan sesama.
Maha suci Allah yang memberikan kita jalan keluar hebat berupa amalan zakat, infak dan sedekah.









