MSF Pengentasan Kemiskinan Siap Implementasi di Tiga Desa

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
MSF Siap Implementasi di Tiga Desa

Forum Zakat, Jakarta – Tiga lembaga dari asosiasi FOZ, HFI, dan PFI, yakni Human Initiative, Rumah Zakat, dan DT Peduli, menjadi pengampu pelaksanaan program Multi-Stakeholder Forum (MSF) Pengentasan Kemiskinan di tiga desa. Program kolaborasi lintas sektor ini mulai memasuki tahap implementasi setelah melalui rangkaian perancangan dan asesmen untuk memetakan kebutuhan serta potensi masyarakat desa.

Komitmen tersebut disampaikan dalam kegiatan Soft Launching MSF Pengentasan Kemiskinan di Indofood Tower, Jakarta Pusat, Kamis (29/10/2026). Kegiatan ini mempertemukan pemerintah, lembaga masyarakat, dunia usaha, dan mitra lainnya untuk menyatukan dukungan dalam upaya pengentasan kemiskinan berbasis potensi wilayah.

Dalam program ini, Human Initiative menjadi pengampu di Desa Ciseureuheun, Banten, dengan melibatkan tujuh kolaborator. Rumah Zakat memimpin kolaborasi di Desa Panyingkiran Kidul, Kabupaten Indramayu, bersama enam lembaga. Sementara itu, DT Peduli menjadi pengampu di Desa Karyawangi, Kabupaten Bandung Barat.

Penetapan ketiga desa tersebut merupakan hasil proses penyaringan dan asesmen bertahap dari 450 desa yang diusulkan. Proses seleksi kemudian mengerucut hingga 20 desa prioritas, sebelum tiga desa ditetapkan sebagai lokasi awal implementasi.

Ketiga desa memiliki persoalan dan potensi yang berbeda. Di Desa Ciseureuheun, tantangan utama mencakup akses air bersih, infrastruktur jalan dan jembatan, pemenuhan gizi anak, serta fasilitas sanitasi. Sekitar 700 warga masih mengandalkan air sumur dan air payau. Kebutuhan program di desa ini dirancang dalam peta investasi lima tahun dengan estimasi anggaran Rp3,2 miliar.

Di Desa Panyingkiran Kidul, pendapatan per kapita masyarakat tercatat sebesar Rp560.159 per bulan dengan sekitar 500 kepala keluarga masuk kelompok miskin. Meski 75,2 persen penduduk berada pada usia produktif, ketersediaan unit usaha masih terbatas dan masyarakat menghadapi krisis air musiman. Program lima tahun di desa ini dirancang dengan kebutuhan anggaran Rp2,9 miliar untuk sektor pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, serta iklim dan lingkungan hidup.

Adapun di Desa Karyawangi, 35,2 persen penduduk memiliki pendapatan tidak tetap dan terdapat 1.191 penduduk usia produktif yang menganggur. Desa ini juga menghadapi risiko longsor pada kawasan lereng seluas 2.238 hektare, serta memiliki 1.307 penduduk difabel dan lansia dan 1.847 anak dengan kualitas belajar yang masih terbatas. Peta investasi lima tahun disusun dengan kebutuhan anggaran Rp2,5 miliar.

Dengan demikian, kebutuhan pendanaan untuk implementasi program di tiga desa mencapai Rp8,6 miliar. Pendanaan tersebut diarahkan sebagai investasi program yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing desa, sektor prioritas, serta fokus dan kapasitas para kolaborator.

Program Lead MSF Pengentasan Kemiskinan, Sonny S. Sukada, menjelaskan bahwa fokus MSF tidak hanya membangun kolaborasi, tetapi juga memastikan rencana yang telah disusun dapat dieksekusi dan menghasilkan perubahan nyata di masyarakat. Menurutnya, terdapat tiga pilar penting dalam pelaksanaan program, yaitu kolaborasi dan inisiasi program, pelaksanaan dengan pemanfaatan sumber daya yang tersedia, serta monitoring.

Tahapan program telah berlangsung sejak April hingga September 2026 melalui asesmen langsung di desa untuk memahami kondisi, kebutuhan, dan potensi masyarakat. Memasuki Oktober, ketiga desa mulai memasuki fase penggalangan pendanaan, pemantauan perkembangan secara berkala, serta pengumpulan bukti dan pembelajaran program.

Dalam sambutan, Dyah Tri Kumolosari perwakilan Kemenko PM, menekankan pentingnya konsolidasi sumber daya dari berbagai unsur di luar pemerintah untuk mendukung agenda pengentasan kemiskinan. Ia menyampaikan bahwa upaya tersebut tidak cukup hanya berorientasi pada penurunan angka kemiskinan, tetapi juga perlu membuka peluang bagi keluarga miskin untuk hidup layak dan mengoptimalkan potensinya.

Sementara itu, Rizal Algamar, Ketua PFI, menyampaikan bahwa persoalan kemiskinan masih menjadi tantangan bersama meskipun angka kemiskinan ekstrem telah mengalami penurunan. Karena itu, MSF Pengentasan Kemiskinan dirancang melalui perencanaan yang matang, kolaborasi berbagai pihak, dan dukungan pendanaan yang memadai.

Ke depan, program ini ditargetkan dapat menjangkau hingga 100 desa. Dalam kegiatan tersebut disampaikan bahwa lebih dari sembilan desa telah mengantri untuk menjadi lokasi pelaksanaan berikutnya.

Bagi Forum Zakat, keterlibatan Human Initiative, Rumah Zakat, dan DT Peduli sebagai pengampu menjadi bagian dari kontribusi lembaga anggota dalam agenda pengentasan kemiskinan. Melalui kolaborasi ini, kapasitas dan pengalaman lembaga zakat dalam pendampingan masyarakat dapat terhubung dengan sumber daya pemerintah dan berbagai mitra lainnya.

Kolaborasi MSF diharapkan tidak berhenti pada pelaksanaan program, tetapi mampu membangun ekosistem yang mendorong masyarakat mengembangkan potensi dan kemandiriannya secara berkelanjutan.