ZGTC Malang Hari Kedua Angkat Isu Palestina, Ajak Mahasiswa UB Bergerak dari Empati ke Aksi

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

ZGTC Malang Hari Kedua Angkat Isu Palestina

Forum ZakatZakat Goes to Campus (ZGTC) Chapter Malang memasuki hari kedua penyelenggaraan di Universitas Brawijaya dengan diskusi yang lebih intens dan emosional mengenai situasi kemanusiaan di Palestina pada Selasa (25/11). Mengusung tema “Urun Rembuk: Bangun Kembali Gaza”, Forum Zakat (FOZ) menghadirkan aktivis kemanusiaan Wanda Hamidah, Branch Manager Rumah Zakat Elwien Roosdhianna, dan akademisi FEB UB Aji Purbra Trapsila, S.E.I., M.E.I., Ph.D sebagai pemantik dialog bersama ratusan mahasiswa dari berbagai fakultas.

Diskusi dibuka dengan pemaparan Aji Purbra yang menyoroti dampak boikot terhadap produk-produk yang diasosiasikan mendukung Israel. Ia menyebut boikot sebagai bentuk sikap moral, namun menegaskan perlunya melihat dampak ekonominya secara holistik. Banyak pekerja lokal terdampak penutupan gerai, sehingga peran zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF) menjadi penting dalam menampung pengangguran dan memperkuat UMKM. Ia menambahkan bahwa kemandirian ekonomi dapat dibangun melalui substitusi teknologi dan penguatan ekosistem wakaf produktif. “Kita punya kekuatan ekonomi. Tapi solusi tidak bisa instan. Ini butuh perencanaan dan peran lembaga zakat untuk memberdayakan masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Elwien Roosdhianna memaparkan bagaimana lembaga kemanusiaan Indonesia terus berupaya mengirim bantuan ke Palestina meski akses sangat terbatas. Bantuan harus melalui jalur darat, udara, hingga rencana penyaluran via laut yang menghadapi tantangan izin, biaya tinggi, dan situasi keamanan. 

Ia menyampaikan bahwa lembaganya telah bekerja sama dengan FOZ, Baznas, hingga TNI dalam beberapa misi airdrop. “Kami tidak bisa memastikan semua bantuan tiba 100 persen, tetapi usaha untuk memastikan donasi masyarakat Indonesia sampai kepada saudara-saudara kita di Gaza tidak pernah berhenti,” kata Elwien. Ia juga menyoroti pentingnya dukungan untuk pendidikan darurat: tenda sekolah, hafalan anak-anak, akses air bersih, dan adopsi kelompok belajar yang sangat bergantung pada dukungan donatur.

Paparan kemudian beralih kepada Wanda Hamidah yang memberi narasi historis dan emosional mengenai kondisi Palestina. Ia menekankan bahwa genosida dan kolonialisme terhadap rakyat Palestina sudah berlangsung lebih dari satu abad, tetapi dunia dibutakan oleh narasi dan propaganda yang dibentuk negara-negara barat. Wanda menyoroti bagaimana setiap perjanjian yang disepakati justru semakin mempersempit wilayah Palestina. “Kita terlalu lama termakan propaganda. Dunia melihat apa yang diizinkan untuk terlihat,” ujarnya. Ia menyampaikan bahwa perlawanan terhadap zionisme bukan hanya fisik, tetapi juga melawan sistem global yang memelihara ketidakadilan. Karena itu, ia mendorong generasi muda untuk kritis terhadap sistem ekonomi, perbankan, dan arsitektur kekuasaan yang menopang keberlanjutan kolonialisme.

Dalam sesi tanya jawab, mahasiswa bertanya mengenai kontribusi yang dapat dilakukan selain donasi. Elwien menjelaskan bahwa kontribusi bisa dalam bentuk apa pun, tidak selalu materi: berbagi ilmu, mendukung pendidikan, dan memperluas kesadaran publik. Sementara itu, Wanda menekankan bahwa advokasi dan keberanian intelektual merupakan langkah awal yang penting. “Kita bisa mulai dari petisi, aksi damai, dan kritik akademik. Bebaskan dulu pikiran kita dari sistem yang menjerat,” ujarnya. Ia menekankan bahwa membela Palestina bukanlah sebatas membela satu bangsa, tetapi membela kemanusiaan dan bahwa isu HAM di Palestina sangat berkait dengan isu HAM di Indonesia.

Aji Purbra menambahkan bahwa dari perspektif ekonomi, boikot dan gerakan masyarakat sipil perlu dibarengi analisis empiris dan kebijakan yang memperkuat kemandirian nasional. Ia menyebutkan perlunya pemberdayaan UMKM oleh Baznas dan lembaga zakat nasional, serta edukasi literasi ekonomi di kalangan mahasiswa agar gerakan solidaritas tidak berhenti pada simbol semata.

Menutup acara, ketiga narasumber memberikan pesan yang sama: terus bersuara, terus peduli, dan terus bergerak. Aji Purbra menegaskan seruan “Free Palestine” yang disambut lantang oleh peserta. 

Elwien mengajak mahasiswa untuk konsisten menyuarakan informasi yang benar di media sosial serta berdonasi melalui lembaga resmi yang terakreditasi, bahkan meski nominalnya kecil. Sementara, Wanda menekankan bahwa perjuangan membela Palestina turut dimulai dari keberpihakan pada warga sekitar yang hak-haknya terampas. “Jika Palestina dibiarkan, ketidakadilan yang sama akan menyusul kita. Ini bukan isu jauh. Ini isu dunia yang saling terhubung,” tegasnya.

Hari kedua ZGTC Malang menegaskan bahwa generasi muda Indonesia memiliki energi besar dalam isu kemanusiaan global. FOZ berharap diskusi ini tidak hanya membangkitkan empati, tetapi juga memicu aksi nyata melalui edukasi, solidaritas sosial, dan penguatan ekosistem zakat sebagai instrumen pemberdayaan umat dan kemandirian bangsa.