Research Hub FOZ Sulap Lumpur Bencana Jadi Material Bangunan, Inovasi Riset untuk Pemulihan Aceh Tamiang

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
riset lumpur Aceh

Forum Zakat, Aceh Tamiang — Di tengah upaya pemulihan pascabencana banjir bandang yang melanda wilayah Aceh dan sebagian Sumatera Utara, sebuah pendekatan inovatif tengah dikembangkan untuk menjawab persoalan yang selama ini dianggap tak terselesaikan: tumpukan lumpur bencana.

Research Hub Forum Zakat melalui program riset Mud to Bricks berupaya mengubah limbah lumpur menjadi material bangunan yang bermanfaat. Pada Jumat (8/05/2026), Project Coordinator riset, Humairoh Anahdi, menjelaskan bahwa program ini lahir dari kondisi lapangan yang menunjukkan skala besar limbah pascabencana yang tidak mungkin hanya dipindahkan atau dibuang.

“Ketika bencana terjadi, kita melihat langsung bahwa lumpur ini tersebar di puluhan desa dan tidak memungkinkan untuk dipindahkan begitu saja. Kalau dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain, masalahnya tidak akan selesai,” ujarnya.

Selama ini, penanganan limbah pascabencana masih berfokus pada pembersihan dan pembuangan. Padahal, menurut berbagai kajian pengelolaan limbah bencana, pendekatan tersebut tidak hanya membutuhkan biaya besar, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak lingkungan lanjutan jika tidak dikelola secara berkelanjutan .

Di Aceh Tamiang sendiri, pemerintah telah menurunkan ribuan alat berat untuk membersihkan material lumpur. Namun, upaya tersebut dinilai belum cukup menjadi solusi jangka panjang. Selain biaya operasional yang tinggi, lumpur tidak bisa dibuang ke sungai atau laut karena hanya akan memindahkan masalah ke wilayah lain.

Melihat kondisi tersebut, riset ini mengusung pendekatan circular economy, yakni mengubah limbah menjadi sumber daya produktif. Lumpur yang sebelumnya dianggap sebagai beban, akan diolah menjadi dua jenis material bangunan: bata ringan (foam brick) dan bata merah.

“Target utama kami adalah agar lumpur ini tidak lagi dibuang, tetapi dimanfaatkan menjadi material yang bisa digunakan kembali oleh masyarakat,” jelas Humairoh.

Program ini dinilai sangat penting karena dampak lumpur tidak hanya berhenti pada aspek lingkungan. Dari sisi kesehatan, lumpur yang mengering dapat menjadi sumber penyakit seperti ISPA, sementara kondisi sanitasi yang terganggu berisiko menyebabkan diare. Di sisi lain, aktivitas ekonomi masyarakat juga terhambat, bahkan banyak lahan pertanian yang tertutup lumpur dan kehilangan fungsi.

Dalam proposal riset disebutkan bahwa limbah pascabencana tidak hanya menghambat proses tanggap darurat, tetapi juga berpotensi memberikan dampak jangka panjang terhadap lingkungan dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat jika tidak ditangani secara tepat .

Lebih dari sekadar inovasi teknis, program ini juga dirancang untuk mendorong pemulihan sosial ekonomi masyarakat. Melalui pelibatan warga terdampak dalam proses produksi bata, diharapkan tercipta peluang kerja baru sekaligus meningkatkan kapasitas masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya lokal.

Pendekatan ini sejalan dengan berbagai kajian global yang menekankan pentingnya melibatkan masyarakat dalam proses rehabilitasi pascabencana untuk mempercepat pemulihan dan memperkuat kemandirian ekonomi lokal .

Dalam implementasinya, riset ini melibatkan kolaborasi lintas lembaga, antara lain Universitas Syiah Kuala sebagai pelaksana riset teknis, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebagai penguat metodologi dan validasi ilmiah, serta lembaga filantropi yang berperan dalam pendampingan masyarakat dan dukungan lapangan.

Meski demikian, pelaksanaan program tidak lepas dari berbagai tantangan. Salah satu tantangan terbesar adalah efisiensi biaya operasional, mulai dari transportasi hingga kebutuhan lapangan. Oleh karena itu, tim riset juga tengah mengupayakan keterlibatan pemimpin lokal dan mitra strategis di Aceh Tamiang untuk memastikan keberlanjutan program.

Di sisi lain, respons dari para pemangku kepentingan menunjukkan dukungan positif. Bagi pemerintah daerah dan lembaga terkait, program ini dinilai sebagai solusi yang lebih efektif dibandingkan sekadar memindahkan lumpur, yang membutuhkan biaya besar untuk operasional alat berat setiap harinya.

Ke depan, riset ini tidak hanya menargetkan terciptanya produk batu bata berbasis lumpur, tetapi juga model implementasi yang dapat direplikasi di wilayah terdampak bencana lainnya. Dengan demikian, limbah pascabencana tidak lagi dipandang sebagai masalah, melainkan sebagai peluang untuk membangun kembali kehidupan yang lebih berkelanjutan.