Bukan Soal Siapa yang Paling Hebat, Ruang Amil Hadir untuk Saling Menguatkan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Ruang Amil Bandung

Forum Zakat, Bandung — Menjadi amil tidak selalu mudah. Di balik program yang berjalan, target yang dikejar, dan berbagai tuntutan lembaga, ada orang-orang yang sama-sama sedang belajar, bertumbuh, dan berjuang menjalankan amanah di jalan zakat.

Kesadaran itulah yang dibawa Sekolah Amil Indonesia melalui Ruang Amil sekaligus agenda Amil Book Club Chapter Bandung yang digelar pada Selasa (28/7/2026). Kegiatan ini mempertemukan para amil dari sejumlah lembaga zakat di Bandung, di antaranya Rumah Amal Salman, Explore Humanity, dan LAZNAS Abulyatama.

Ruang Amil dirancang sebagai ruang perjumpaan bagi para amil, tanpa membatasi status atau posisi mereka di lembaga. Sebab, bagi Sekolah Amil Indonesia, amil juga membutuhkan ruang untuk berkumpul, berbagi pengalaman, dan menemukan energi baru dari sesama yang menjalani profesi yang sama.

Ruang tersebut bukan dibangun untuk mempertontonkan keunggulan masing-masing lembaga. Justru sebaliknya, para amil diajak menyadari bahwa di lembaga lain pun ada orang-orang yang menghadapi tantangan, belajar dari kesalahan, dan terus berusaha memberikan yang terbaik bagi masyarakat.

“Ruang Amil bukan ruang untuk saling unjuk kehebatan lembaga masing-masing. Kami ingin memberikan ruang bahwa amil perlu berkumpul bersama, saling menguatkan bahwa ada amil dari lembaga lain yang juga sedang sama-sama berjuang,” menjadi semangat yang dibawa dalam pertemuan tersebut.

Pada pertemuan Chapter Bandung kali ini, Kepala Sekolah Amil Indonesia Dimas Pamungkas menjadi narasumber dengan membawa materi tentang Growth Setting. Materi tersebut kemudian menjadi bahan diskusi bersama para peserta.

Growth Setting mengajak peserta melihat kembali bagaimana seseorang menetapkan goals dalam proses pertumbuhan dirinya. Tujuan tidak ditempatkan semata-mata sebagai garis akhir yang harus dicapai, tetapi dapat menjadi kekuatan yang mendorong seseorang untuk terus bertumbuh.

Bagi para amil, cara pandang ini menjadi relevan. Sebab perjalanan mengelola zakat tidak selalu berjalan lurus. Ada target yang tercapai, ada pula yang belum. Ada program yang berhasil, ada yang harus dievaluasi. Dalam proses tersebut, kemampuan untuk terus bertumbuh menjadi bagian penting dari perjalanan seorang amil.

Amaliah Nur Afifah, amil dari Rumah Amal Salman, merasakan langsung manfaat dari ruang perjumpaan tersebut. Menurutnya, kesempatan bertemu dan berdiskusi dengan amil dari berbagai lembaga memberikan pengalaman sekaligus perspektif baru.

Ia mengaku bersyukur dapat mengikuti Ruang Amil dan Amil Book Club karena kegiatan tersebut memberinya kesempatan untuk bertemu dengan para amil dari lembaga zakat lainnya.

Pertemuan itu tidak hanya memperluas jejaring, tetapi juga membuka sudut pandang baru melalui percakapan antarpeserta. Berbagai pengalaman yang dibagikan membuat proses belajar tidak hanya berlangsung dari narasumber kepada peserta, tetapi juga tumbuh dari interaksi antarsesama amil.

Materi Growth Setting menjadi salah satu hal yang paling berkesan bagi Amaliah. Ia melihat goals bukan sebagai tujuan akhir yang justru dapat membebani proses, melainkan sebagai kekuatan untuk terus berkembang.

Pada akhirnya, Ruang Amil ingin mengingatkan bahwa perjalanan seorang amil tidak harus dijalani sendirian. Ada banyak amil lain yang memiliki keresahan, tantangan, dan semangat perjuangan yang serupa.

Dari ruang-ruang perjumpaan seperti inilah, para amil dapat saling belajar tanpa perlu membandingkan siapa yang paling unggul. Karena ketika para amil saling menguatkan, yang tumbuh bukan hanya individu, tetapi juga ekosistem gerakan zakat secara keseluruhan.