Ketika Sepasang Sepatu dan Bantuan Pangan Menjadi Harapan Baru Bagi Masyarakat di Pelosok Negeri

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
bantuan sepatu dan pangan BMM

Forum Zakat, NTB – Bagi sebagian orang, sepasang sepatu baru mungkin hanya pelengkap untuk memulai hari pertama sekolah. Bagi sebagian lainnya, satu kaleng rendang atau sekarung beras hanyalah kebutuhan sehari-hari yang mudah didapat. Namun di pelosok Indonesia, benda-benda sederhana itu sering kali menjadi harapan yang telah lama dinantikan.

Di sebuah desa transmigrasi di Kecamatan Tarano, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, puluhan santri Pondok Darurrosyidin datang ke sekolah dengan sandal jepit yang sudah usang. Sebagian bahkan tidak lagi memiliki alas kaki yang layak. Bukan karena mereka tidak ingin memiliki sepatu, melainkan karena keterbatasan ekonomi keluarga yang mayoritas bekerja sebagai petani tembakau yang menggantungkan hasil panen pada musim hujan sehingga pendapatan mereka tidak menentu.

Sama halnya dengan warga di Desa Dedeta, Kecamatan Loloda, Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara. Untuk membeli sepatu sekolah maupun perlengkapan pendidikan lainnya warga harus menempuh perjalanan laut hingga enam jam menuju kota. Jarak yang jauh dan biaya transportasi yang tinggi membuat banyak keluarga memilih menunda membeli sepatu baru bagi anak-anak mereka.

Melalui Program Sepatu Impian, Bank Muamalat bersama Baitulmaal Muamalat (BMM) menyalurkan 50 pasang Sepatu Impian kepada anak-anak di Desa Dedeta serta 63 pasang sepatu kepada santri Pondok Darurrosyidin sebagai bekal menyambut tahun ajaran baru.

Komitmen BMM dalam menjangkau masyarakat pelosok juga diwujudkan melalui distribusi bantuan kemanusiaan di wilayah pesisir Banten. Bantuan disalurkan di PAUD Al Islah, Desa Margaluyu, Kabupaten Serang, serta Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin, Kabupaten Pandeglang, berupa 100 mushaf Al-Qur’an, 100 paket Qurban Rendang Kaleng, 34 paket makanan bergizi untuk anak yatim dan dhuafa, 20 paket beras bagi lansia, serta santunan untuk 15 guru ngaji yang telah mengabdikan diri mengajar secara sukarela di pelosok.

Bagi BMM, setiap bantuan yang disalurkan bukan sekadar memenuhi kebutuhan sesaat. Sepasang sepatu diharapkan menjadi langkah awal bagi anak-anak untuk terus bersekolah dengan percaya diri. Mushaf Al-Qur’an diharapkan dapat mendukung proses pembelajaran dan pembinaan keagamaan masyarakat.

“Setiap bantuan yang diberikan merupakan kebutuhan utama yang harus dipenuhi untuk menjaga kelangsungan hidup para penerima manfaat,” ujar Tegar Sangga Barkah selaku Direktur Eksekutif BMM.

Sementara itu, Imam Teguh Saptono selaku Pembina Yayasan BMM mengatakan, melalui berbagai program sosial yang menjangkau daerah pelosok, wilayah pesisir, serta masyarakat prasejahtera, BMM terus berupaya memastikan amanah para donatur menghadirkan dampak yang berkelanjutan. 

“Sebab, di balik setiap bantuan yang diberikan, selalu ada harapan yang tumbuh, agar anak-anak tetap bersekolah, para guru terus mengabdi, dan masyarakat pelosok memiliki keyakinan bahwa mereka tidak pernah berjalan sendiri,” kata Imam.