oleh Bambang Edi Prasetyo, Amil Dompet Dhuafa Cabang Yogyakarta
Forum Zakat – Masih membekas dalam benak saya kondisi rumah salah satu keluarga muda yang saya temui di dusun binaan kami di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Rumah limasan sangat sederhana, dihuni oleh sepasang suami istri. Usia mereka baru menginjak kepala dua dengan tiga anaknya yang semuanya masih balita. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu (gedek) yang sebagian tidak utuh lagi; lantainya tanah tanpa plester semen, genteng tanah liat yang terpasang sebagai atap tampak tak beraturan. Rumah langsung menghadap lahan kering dan berdebu sebagai halaman. Untuk ke sana, kendaraan hanya sampai di jalan utama (jalan kampung), selebihnya kita harus jalan kaki selama ± 30 menit karena tidak ada jalan untuk kendaraan, bahkan sepeda sekalipun.
Kondisi di dalamnya tidak kalah memprihatinkan. Tidak saya temui sekat ruang. Dapur, ruang keluarga, bahkan tempat tidur dan area rumah yang lain, semuanya terbuka. Hanya ada satu dipan yang justru tidak difungsikan sebagai tempat tidur, melainkan untuk menaruh barang-barang, terutama bahan makanan. Satu lembar tikar plastik adalah alas tidur sehari-hari keluarga itu. Semua tidur di tikar itu. Keistimewaan hanya diberikan kepada anak ketiga yang masih bayi. Pada si bungsu diberikan selimut lurik yang dilipat dua kali sebagai alas tidur untuk menyekat dinginnya tikar plastik. Selimut bayi ditutupkan pada tubuhnya untuk melindungi dari dinginnya angin malam yang masuk melalui sela-sela dinding gedek.
Kamar mandi dan toilet saya temukan di luar rumah. Dindingnya terbuat dari terpal biru yang tampak sangat lawas. Toilet masih menggunakan “WC cemplung”. Lantainya berupa tatanan batu yang tidak rata, sehingga di beberapa tempat muncul genangan air. Tidak ada saluran buangan khusus untuk air dari kamar mandi itu, sehingga menimbulkan genangan air di sebaliknya.
Di depan rumah, di tengah halaman tanah, kakak beradik bermain dengan riang. Bekas kaleng susu kental manis yang dijepit belahan bambu tampak seperti mobil- mobilan dalam pandangan mereka. Dari tawa mereka, seolah tidak ada yang berbeda dengan anak lain seusianya. Namun, angka-angka pengukuran di Posyandu tidak bisa berbohong. Hasil pengukuran tinggi badan menunjukkan kakak beradik itu mengalami stunting.
Sebagai amil, menemui hal semacam ini bukanlah kali pertama. Berkali-kali saya menjumpai keluarga yang hidup dalam keterbatasan. Di awal saya mengira stunting hanya tentang kurangnya makanan bergizi karena keterbatasan ekonomi untuk menghadirkannya. Hampir semua kasus stunting yang saya temui di daerah binaan berasal dari keluarga miskin. Saya pikir dengan intervensi program berupa pembagian paket nutrisi atau susu, masalah akan selesai. Ternyata lebih dari itu. Semakin saya turun ke lapangan, semakin saya sadar bahwa persoalannya jauh lebih dalam dan kompleks.
Belakangan saya perhatikan, meskipun muaranya pada faktor ekonomi, latar belakang keluarga pada anak stunting sangat beragam. Ada keluarga yang penghasilannya tidak tentu, sehingga mereka harus benar-benar berhitung antara membeli lauk atau membayar kebutuhan keluarga yang lain. Ada ibu yang sebenarnya ingin memberikan makanan bergizi pada anaknya meski di tengah keterbatasan, tetapi mereka tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang pola makan balita. Ada keluarga dengan pemahaman tentang keturunan yang kurang tepat, sehingga memiliki banyak anak dengan jarak lahir yang pendek. Jumlah anak yang terlalu banyak membuat perhatian orang tua terbagi. Jarak lahir yang terlalu pendek mengakibatkan tubuh ibu tidak memiliki waktu yang cukup untuk bersiap menghadapi kehamilan dan persalinan berikutnya. Ada pula keluarga yang tinggal di rumah dengan sanitasi yang buruk, sehingga anak mudah terserang penyakit. Bahkan tidak sedikit keluarga yang kehilangan semangat karena merasa berjuang sendiri menghadapi kerasnya kehidupan.
Dari sini saya sadar, bahwa stunting tidak hanya masalah gizi. Stunting adalah cermin rapuhnya ketahanan keluarga.
Kesadaran itu semakin kuat setelah saya melakukan penelitian pada keluarga dengan anak stunting di daerah binaan. Penelitian itulah yang menuntun saya mendapat gelar Magister Kesehatan Masyarakat dan semakin memperkukuh pemahaman tentang stunting. Hasil penelitian itu menunjukkan bahwa anak yang tumbuh dalam keluarga dengan ketahanan fisik, ketahanan sosial budaya, dan ketahanan ekonomi yang baik, lebih rendah risikonya mengalami stunting. Lebih lanjut, ketahanan ekonomi keluarga terbukti memberikan efek perlindungan terhadap stunting, ketika diperkuat dengan adanya bantuan sosial.
Bagi saya, penelitian itu bukan hanya karya ilmiah sebagai syarat kelulusan akademik. Penelitian itu membuktikan bahwa apa yang kita usahakan selama ini, dengan membantu para mustahik, terbukti dapat membawa mereka ke kondisi yang lebih baik. Saya seperti menatap kembali wajah-wajah keluarga yang pernah kami dampingi. Saya teringat keluarga yang perlahan bangkit setelah mendapat pelatihan dan modal usaha dari dana zakat. Saya melihat ibu-ibu yang mulai memahami pentingnya ASI eksklusif, pola asuh, pola makan seimbang, higiene dan sanitasi lingkungan setelah mengikuti kelas edukasi kesehatan. Saya mendapati seorang ayah yang mulai menyadari tugas dan fungsinya dalam pengasuhan anak. Saya menyaksikan transformasi bentuk fisik rumah yang tadinya tidak sesuai dengan kaidah kesehatan menjadi rumah yang nyaman dan mendukung kesehatan penghuninya. Perubahan-perubahan kecil itu ternyata memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar bertambahnya pendapatan. Perubahan itu menumbuhkan ketahanan keluarga.
Di titik inilah saya menemukan makna baru menjadi seorang amil. Tugas amil tidak hanya sekadar menghimpun dan menyalurkan zakat. Amil hadir untuk memastikan bahwa zakat benar-benar meningkatkan kapasitas dan mengubah kehidupan. Dana zakat tidak hanya didistribusikan untuk hal-hal konsumtif (meskipun hal ini juga penting), tetapi juga untuk pendampingan peningkatan kapasitas keluarga. Edukasi peran orang tua dalam tumbuh kembang anak, perbaikan sanitasi, dan bahkan menyentuh hal yang lebih luas, yaitu aktivasi kader Posyandu, adalah upaya menghadirkan generasi bangsa yang lebih baik dengan menekan angka stunting.
Dalam hal ini, pemberdayaan dipandang sebagai konteks yang lebih luas. Jika biasanya istilah pemberdayaan digunakan untuk hal-hal “berbau” ekonomi, dalam konteks ini digunakan sebagai pendekatan penyelesaian masalah kesehatan. Pemberdayaan adalah proses memberikan daya atau kemampuan pada individu atau kelompok sasaran agar mereka menjadi mandiri, kuat, dan mampu menyelesaikan masalah hidupnya secara mandiri. Hal ini membuktikan bahwa zakat dapat menjadi instrumen pembangunan masyarakat dengan menghadirkan generasi penerus yang tumbuh dan berkembang secara optimal.
Bahagianya amil adalah kesadaran penuh bahwa dirinya hanyalah perantara kebaikan. Kebahagiaan ini tidak dicapai melalui kepuasan diri sendiri, melainkan melalui keyakinan pada tujuan yang berharga. Bahagia bukan karena menyalurkan dana dalam jumlah besar, melainkan karena melihat senyum lega seorang ibu setelah anaknya sehat, tumbuh, dan berkembang dengan baik. Bahagia ketika mendengar cerita bahwa usaha kecilnya mampu memenuhi kebutuhan gizi keluarganya tanpa lagi bergantung pada bantuan. Bahagia ketika zakat yang dititipkan muzakki benar-benar berubah menjadi harapan bagi keluarga yang sebelumnya hidup dalam keterbatasan dan ketidakberdayaan.
Saya percaya setiap rupiah zakat yang dikelola dengan amanah bukan hanya mengenyangkan perut, tetapi juga menguatkan keluarga. Keluarga adalah unit terkecil yang menyusun masyarakat. Ketika keluarga menjadi tangguh secara fisik, ekonomi, sosial, dan psikologis, anak-anak yang tumbuh dan berkembang di dalamnya memiliki kesempatan lebih besar untuk menjadi sehat, cerdas, dan bermartabat. Pada akhirnya, kebahagiaan seorang amil bukan terletak pada berapa banyak zakat berhasil dihimpun atau disalurkan, melainkan pada seberapa banyak kehidupan berhasil diubah menjadi lebih baik.









