Multi-Stakeholder Forum Matangkan Implementasi Program Desa, Tiga Lokasi Masuki Tahap Awal

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Multi Stakeholder Forum

Forum Zakat, Jakarta — Kolaborasi lintas sektor dalam pengentasan kemiskinan terus bergerak menuju tahap implementasi. Multi-Stakeholder Forum (MSF) Aliansi Filantropi yang digagas oleh Forum Zakat (FOZ), Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI), dan Humanitarian Forum Indonesia (HFI) kini memasuki fase asesmen lapangan sebagai bagian dari realisasi program desa terpadu.

Sejak akhir 2024, ketiga asosiasi tersebut membangun konsolidasi strategis bersama pemerintah, sektor swasta, akademisi, serta mitra pembangunan untuk menyelaraskan agenda pengentasan kemiskinan yang lebih terstruktur dan berbasis dampak bersama. Proses tersebut ditandai dengan dialog strategis bersama Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat pada Desember 2024, penandatanganan Piagam MSF Aliansi Filantropi pada Juli 2025, serta Nota Kesepahaman pada Agustus 2025 yang memperkuat komitmen kolaborasi lintas sektor menuju Indonesia Emas 2045.

Sepanjang 2025 hingga awal 2026, MSF menyelenggarakan serangkaian workshop sektoral yang membahas pengentasan kemiskinan, pemberdayaan ekonomi, kesehatan, pendidikan, iklim dan lingkungan hidup, serta kampanye dan komunikasi. Pendekatan ini menegaskan transisi dari pola kerja yang terfragmentasi menuju model ko-kreasi program dengan kerangka dampak bersama (collective impact).

Tiga Lokasi Implementasi Tahap Awal

Memasuki tahun 2026, MSF memulai tahap asesmen di tiga desa yang ditetapkan sebagai Lokasi Implementasi Tahap Awal, yaitu:

  1. Desa Mekarwangi, Kecamatan Langkaplancar, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat
  2. Desa Ciseureuheun, Kecamatan Cigeulis, Kabupaten Pandeglang, Banten
  3. Desa Karyawangi, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat

Tahap asesmen dilakukan untuk memetakan kondisi sosial-ekonomi masyarakat, kualitas infrastruktur dasar, layanan pendidikan dan kesehatan, potensi ekonomi lokal, hingga aspek ketahanan lingkungan. Hasil pemetaan tersebut akan menjadi dasar penyusunan desain intervensi terpadu yang kontekstual, terukur, dan selaras dengan rencana pembangunan desa.

Pendekatan ini memastikan bahwa intervensi tidak bersifat generik, melainkan berbasis kebutuhan riil masyarakat dan dapat direplikasi secara bertahap di wilayah lain.

Kerangka Strategis 2025–2030

MSF dibangun di atas tiga pilar utama: kolaborasi lintas sektor dan inisiasi program, mobilisasi sumber daya dan komunikasi, serta penguatan kapasitas lembaga dan sistem Monitoring, Evaluation & Learning (MEL). Kerangka strategis 2025-2030 menempatkan desa sebagai simpul utama intervensi, dengan fokus pada pengurangan kemiskinan, penguatan ekonomi lokal, peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan, serta ketahanan terhadap risiko iklim.

Peluncuran Multi-Stakeholder Forum Nasional direncanakan pada kuartal kedua 2026 sebagai tonggak penguatan ekosistem filantropi kolaboratif di Indonesia. Melalui pendekatan ko-kreasi dan aksi kolektif, MSF diharapkan menjadi jembatan strategis antara pemerintah, filantropi, dunia usaha, dan komunitas dalam mempercepat penghapusan kemiskinan ekstrem serta mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

Dengan memasuki tahap implementasi awal ini, MSF Aliansi Filantropi menegaskan bahwa kolaborasi tidak berhenti pada komitmen formal, melainkan bergerak menuju kerja nyata di tingkat desa sebagai fondasi pembangunan sosial yang inklusif dan berkelanjutan.