Forum Zakat – Di tengah tantangan pengangguran dan kesenjangan ekonomi yang masih melingkupi jutaan penduduk Indonesia, muncul sebuah gerakan kolaboratif Paradaya Movement. Lebih dari sekadar pelatihan vokasional, Paradaya menjadi titik temu antara harapan, keterampilan, dan akses kerja menjadi sebuah jembatan dari mustahik menuju muzakki.
Gerakan ini diprakarsai oleh PT Paragon Corp bersama Forum Zakat dan Sekolah Amil Indonesia (SAI), dengan melibatkan 15 Organisasi Pengelola Zakat (OPZ) mitra dari berbagai wilayah. Forum Zakat dan SAI berperan sebagai fasilitator program, melakukan profiling dan penguatan kapasitas OPZ, sementara Paragon mendukung dari sisi pembiayaan dan membangun jalinan antara industri dengan sumber daya manusia potensial dari kalangan dhuafa.
Dalam gelaran Paradaya 2.0 di Paragon Community Hub, Jakarta Selatan, Rabu (28/5/2025), tercermin semangat baru dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis zakat. Acara ini menghadirkan tokoh-tokoh lintas sektor, termasuk Menteri Ketenagakerjaan RI Prof. Yassierli, Ph.D., Deputi I Kemenko PMK Bapak Leontinus Edison, Ketua Umum Forum Zakat Wildhan Dewayana, hingga Group CEO Paragon Harman Subakat.
Paradaya telah menjangkau 864 penerima manfaat di 20 provinsi. Dari jumlah tersebut, 483 orang telah berhasil bekerja, 291 siap kerja, dan sisanya masih dalam tahap validasi. Angka ini menunjukkan rasio keberhasilan program di atas 50% menjadi sebuah pencapaian yang signifikan bagi upaya pemberdayaan terstruktur.
Cerita sukses seperti Muhammad Idris, kini seorang Barista Leader setelah sebelumnya tak kunjung mendapat kerja, dan Rosita yang kini mengelola usaha bakery di bawah binaan Sinergi Foundation, menjadi bukti nyata bahwa Paradaya bukan sekadar pelatihan, melainkan pembuka jalan menuju kemandirian dan martabat.
“Yang membuat Paradaya berbeda adalah pendekatan kolaboratifnya. Bukan hanya soal pelatihan vokasi, tapi kita bangun sistem dari hulu ke hilir dari asesmen, pelatihan, magang, hingga penempatan kerja dan pendampingan,” jelas Head of CSR Paragon, Suci Hedrina. Hal ini diperkuat dalam talkshow yang dimoderatori Adrian Maulana, di mana para narasumber menekankan bahwa keberlanjutan adalah kunci dan zakat adalah energi sosial yang wajib dimaksimalkan.
Menteri Ketenagakerjaan dalam sambutannya menyebut, pengangguran di Indonesia per 2024 tercatat sebanyak 7,28 juta, terutama usia muda. Menurutnya, program seperti Paradaya dapat menjadi model enterprise yang mampu menjawab langsung tantangan tersebut. “Kuncinya adalah kolaborasi dan refleksi dari apa yang sudah dikerjakan,” ujarnya.
Paradaya bukan solusi instan, tapi adalah sebuah strategi yang easy to amplify—mudah direplikasi, dibesarkan, dan disesuaikan. FOZ dan SAI berharap gerakan ini bisa menjadi model pemberdayaan nasional berbasis zakat, yang menghubungkan potensi umat dengan kebutuhan riil industri.
“Pemberdaya adalah key player,” ungkap Aditya Warman dari BPJS Ketenagakerjaan di akhir acara. “Hargai langkah kecil, karena di sanalah letak visi besar dimulai.









