
Forum Zakat — CEO OPZ Forum 2025 yang diselenggarakan Forum Zakat (FOZ) pada Rabu (3/12) di Senen, Jakarta Pusat, dimulai dengan sebuah pesan komitmen: kolaborasi penguatan dalam isu kesehatan ibu dan anak menjadi kunci untuk mempercepat penanganan kemiskinan ekstrem di Indonesia. Diskusi panel bersama UNFPA mengawali agenda pagi dengan pemaparan yang menegaskan betapa strategisnya peran filantropi Islam dalam menjangkau kelompok rentan yang belum tersentuh layanan kesehatan.
Sekretaris Umum FOZ, Udhi Tri Kurniawan, membuka forum dengan rasa syukur dan apresiasi kepada pimpinan OPZ dari berbagai wilayah. Ia menekankan bahwa perhatian pada kesehatan ibu dan anak merupakan investasi besar bagi kualitas generasi masa depan. Udhi menjelaskan bahwa pemenuhan nutrisi tidak boleh dimulai setelah anak lahir, melainkan sejak masa kehamilan. Intervensi nutrisi di tahap tersebut dinilainya sangat menentukan tumbuh kembang anak sekaligus mengurangi risiko persoalan kesehatan jangka panjang. Karena itu, FOZ terus mendorong anggotanya untuk memperkuat alokasi dana zakat pada program-program promotif dan preventif, sembari memperluas kolaborasi bersama pemerintah, sektor swasta, masyarakat, dan kampus.
Ucapan terima kasih juga ia sampaikan kepada UNFPA yang dinilai konsisten mendorong penguatan generasi muda Indonesia melalui pendekatan kesehatan reproduksi dan gizi. Udhi berharap setiap program OPZ di berbagai daerah terus menghasilkan dampak nyata dan manfaat yang semakin kuat bagi masyarakat. “Kita ingin semua gerakan ini benar-benar berkorelasi dengan dampak,” ujarnya dalam penutup sambutan.
Perwakilan UNFPA Indonesia, Dr. Verania Andria, mengawali paparannya dengan apresiasi atas peluang berdialog bersama para pemimpin OPZ dari seluruh Indonesia. Ia menyampaikan bahwa UNFPA melihat kerja sama dengan FOZ sebagai langkah penting untuk memperluas jangkauan intervensi kesehatan ibu dan anak. Dr. Verania menyoroti angka kematian ibu di Indonesia yang masih berada pada level mengkhawatirkan, yakni 189 per 100.000 kelahiran hidup, setara dengan negara-negara yang ekonominya lebih kecil dan tetap tergolong angka yang bisa dicegah. Kondisi ini, menurutnya, tidak mencerminkan pertumbuhan ekonomi Indonesia dan menunjukkan adanya kesenjangan yang mendesak untuk ditangani.
Ia menjelaskan bahwa UNFPA menawarkan pendekatan berbasis siklus hidup, mulai dari pencegahan pernikahan usia anak, pendampingan remaja, pemenuhan nutrisi, hingga perawatan pascapersalinan. Pilot project yang dijalankan bersama beberapa LAZ menunjukkan hasil positif, terutama karena kader di lapangan mampu menjangkau ibu hamil yang sebelumnya tidak memiliki akses pemeriksaan rutin. Menurutnya, keberhasilan ini menjadi bukti bahwa model pendampingan berbasis komunitas bisa direplikasi oleh OPZ di berbagai daerah. Dr. Verania juga menilai bahwa OPZ memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam pencapaian target RPJMN dan SDGs, terutama karena kesehatan dan pendidikan disebutnya sebagai dua enabler penting pengentasan kemiskinan ekstrem.
Diskusi berlanjut dengan pemaparan Qurrota A`yun, Direktur Keluarga, Pengasuhan, Perempuan, dan Anak Bappenas, yang menegaskan bahwa penanganan kesehatan ibu-anak tidak dapat bergantung pada pemerintah semata. Keterbatasan fiskal APBN dan APBD membuat sumber pendanaan alternatif seperti zakat, infak, dan sedekah menjadi instrumen yang sangat strategis. Qurrota menyebut angka kematian ibu 189 per 100.000 kelahiran hidup sebagai situasi yang tidak dapat diterima, terlebih sebagian besar kasus sebenarnya bisa dicegah. Ia menjelaskan beragam faktor yang membuat penurunan AKI sulit dicapai, mulai dari anemia, kurang energi kronis pada ibu hamil, kebutuhan ber-KB yang tidak terpenuhi, hingga ketimpangan wilayah yang masih tajam.
Menurut Qurrota, agenda kesehatan ibu dan anak berkaitan erat dengan pendidikan, kemiskinan, dan kesetaraan gender. Ia menekankan bahwa target nasional menurunkan AKI menjadi 77 pada tahun 2030 merupakan tujuan ambisius yang membutuhkan transformasi layanan kesehatan primer dan keterlibatan semua pihak, termasuk OPZ yang dinilainya memiliki fleksibilitas dan kedekatan dengan komunitas. Ia pun mengajak OPZ menjadi mitra strategis menuju visi Indonesia Emas 2045.
Pemaparan dilanjutkan oleh Oldri Sherli Mukuan, Program Analyst UNFPA Indonesia, yang mengingatkan bahwa kesehatan ibu-anak memiliki dampak langsung pada kondisi ekonomi rumah tangga. Ia menegaskan bahwa UNFPA bekerja untuk memastikan tidak ada lagi ibu meninggal karena sebab yang bisa dicegah dan menyoroti pentingnya pemenuhan kebutuhan keluarga berencana. Oldri menggambarkan masih rendahnya tingkat kunjungan pemeriksaan kehamilan di banyak wilayah, ditambah hambatan biaya, jarak, dan keterbatasan fasilitas layanan. Dalam konteks ini, ia menyebut OPZ sebagai pihak yang “tidak bisa ditutup mata karena ada di pelosok,” sehingga dapat menutupi celah yang tidak terjangkau pemerintah.
Oldri juga memaparkan program Kawal Bumil, yang melibatkan kader desa untuk mendampingi ibu hamil, suami, hingga mertua sebagai pengambil keputusan. Program ini mendorong ibu untuk memenuhi standar kunjungan kehamilan dan memperbaiki perilaku kesehatan keluarga. Ia turut menyoroti kreativitas OPZ dalam menjalankan inovasi lapangan seperti dapur gizi dan kebun sayur keluarga, yang terbukti efektif mengajak warga untuk terlibat.
Menutup paparannya, Oldri menekankan pentingnya pendokumentasian kontribusi OPZ sebagai bagian dari sistem pembangunan nasional. Kolaborasi yang kuat, menurutnya, bukan hanya menurunkan risiko kesehatan ibu dan anak, tetapi juga membantu mengurangi beban ekonomi keluarga dan memperkuat fondasi generasi mendatang.
Gelaran CEO OPZ Forum 2025 pun dimulai dengan energi kolaboratif yang kuat. Pesan yang mengemuka jelas: memperkuat kesehatan ibu dan anak bukan sekadar program, tetapi fondasi untuk memutus rantai kemiskinan ekstrem dan membangun Indonesia yang lebih sehat, berdaya, dan siap menyongsong masa depan.









