Zakat Goes To Campus Chapter Banten Soroti Tata Kelola Zakat dan Peran Anak Muda

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
ZGTC Banten

ZGTC Banten

Forum ZakatZakat Goes To Campus (ZGTC) Chapter Banten yang digelar di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa pada Rabu, 10 Desember 2025, menutup rangkaian roadshow ZGTC tahun ini dengan penekanan pada pentingnya tata kelola zakat dan keterlibatan generasi muda. Acara yang diawali FGD mengenai pengentasan kemiskinan ekstrem di Kota Serang ini menghadirkan unsur pemerintah daerah, akademisi, media, dan lembaga zakat seluruh Banten.

Ketua Bidang 5 FOZ Wilayah Banten, Khoiril Ainul Yaqin, menegaskan bahwa FOZ merupakan “rumah besar gerakan zakat se-Indonesia” yang menaungi puluhan lembaga zakat di Banten. Ia menyoroti banyaknya program sosial yang telah dijalankan LAZ, mulai dari air bersih hingga pembangunan sarana pendidikan. Dalam sambutannya ia menyampaikan, “Jadi amil itu banyak keberkahan dan kemanfaatannya,” sembari berharap ZGTC terus berkembang agar lebih dekat dengan generasi muda di kampus.

Dekan FEB Untirta, Prof. Dr. Tubagus Ismail, mengingatkan bahwa zakat memiliki potensi besar mendukung pembangunan ekonomi, namun belum dikelola secara optimal. Ia menyinggung tumpang tindih antara zakat dan pajak yang disebutnya sebagai masalah struktural. “Kalau tata kelolanya benar, Indonesia mestinya sudah maju,” ujarnya. Menurutnya, sosialisasi zakat di perguruan tinggi berperan penting dalam memperbaiki pemahaman publik dan meningkatkan akuntabilitas.

Dalam keynote speech, Wakil Ketua II DPRD Kota Serang, Muhammad Farhan Azis, menekankan perlunya kolaborasi erat antara lembaga zakat dan pemerintah. Ia menyoroti pengangguran sebagai akar kemiskinan ekstrem dan mengusulkan model intervensi berbasis usia, mulai dari beasiswa, padat karya, hingga jaminan kesehatan. Farhan juga mengingatkan bahwa zakat resmi dapat menjadi pengurang Pajak Penghasilan. “Kebijakan ini sudah berlaku, tapi literasinya harus diperkuat,” jelasnya.

Talkshow yang berlangsung setelahnya menempatkan peran anak muda sebagai isu utama. Kepala Kanwil Kemenag Banten, Dr. H. Amrullah, menegaskan bahwa mahasiswa memiliki ruang luas untuk berkontribusi dalam penguatan ekosistem zakat. “Walaupun sedikit, pasti ada kemampuan untuk berbagi,” ujarnya, menekankan bahwa nilai berbagi harus dibangun sejak muda. Ia juga menyebut bahwa lembaga zakat makin membutuhkan kreativitas generasi digital, terutama dalam literasi dan kampanye publik.

Perwakilan FOZ Banten, Iqbal, menyoroti tantangan profesi amil yang menurutnya membutuhkan ketahanan mental dan konsistensi. “Pertanyaannya bukan hanya mau jadi amil, tapi mau berapa tahun bertahan sebagai amil?” katanya. Ia menekankan bahwa amil kini merupakan profesi tersertifikasi dan menuntut profesionalisme tinggi.

Dosen Ekonomi Syariah Untirta, Mohamad Ainun Najib, menjelaskan bahwa rendahnya literasi zakat menjadi penyebab utama besarnya jarak antara potensi dan realisasi penghimpunan. Sementara itu, Pemimpin Redaksi Kabar Banten, Maksuni Husen, menegaskan bahwa media terutama digital memegang peran strategis untuk mengedukasi publik. “Anak muda hari ini berada 8 sampai 13 jam di internet. Edukasi zakat harus ada di sana,” ujarnya.

Menutup rangkaian kegiatan, para narasumber sepakat bahwa penguatan literasi, perbaikan tata kelola, dan pelibatan anak muda menjadi tiga pilar penting dalam mengoptimalkan zakat sebagai instrumen pembangunan sosial. ZGTC Chapter Banten menegaskan bahwa masa depan zakat tidak hanya bergantung pada lembaga, tetapi pada generasi muda yang mampu membawa gerakan ini lebih adaptif, profesional, dan berkelanjutan.