Forum Zakat — Forum Zakat Wilayah Jawa Barat (FOZ Jabar) sukses menyelenggarakan Workshop Digital Fundraising: Trust Building & Gen Z Engagement, bertempat di Daarul Hajj Pesantren Daarut Tauhid, Kota Bandung. Kegiatan ini menjadi wadah kolaborasi antarlembaga zakat untuk memperkuat strategi penghimpunan dana di era digital, khususnya dalam menjangkau dan membangun kepercayaan generasi Z sebagai kelompok donatur baru yang tengah tumbuh pesat.
Workshop dibuka dengan sambutan dari Ketua FOZ Jabar, Jajang Nurjaman, yang menekankan pentingnya transformasi digital lembaga zakat agar tetap relevan dan dipercaya publik. “Kepercayaan adalah modal sosial utama lembaga zakat. Di era digital, trust harus dibangun bukan hanya lewat akuntabilitas laporan, tetapi juga lewat cara kita berkomunikasi dan berinteraksi dengan publik,” ungkap Jajang.
Selain itu, kegiatan diisi juga dengan sosialisasi terkait Syarikat Amil Indonesia (Syamil) yang diisi oleh pengurus Syamil pusat disampaikan kepada seluruh member Forum Zakat Jawa Barat.
Kegiatan diisi dengan dua sesi utama, yaitu sesi pertama bersama Bambang Suherman, praktisi zakat nasional, yang membawakan materi “Membangun Kepercayaan dan Loyalitas Gen Z.” Ia menyoroti bagaimana generasi Z, yang lahir antara 1997–2012, memiliki karakter digital-native, kritis terhadap transparansi, dan lebih memilih lembaga yang autentik serta berdampak sosial nyata.
Sesi kedua menghadirkan Trisna Hadi, Digital Marketer sekaligus CEO PT Digital Impact Nusantara, yang memaparkan strategi digital fundraising berbasis data dan storytelling. Ia mengungkap, “Lebih dari 60% donatur digital saat ini berasal dari Gen Z dan millennial. Mereka tidak sekadar berdonasi, tapi ingin menjadi bagian dari gerakan perubahan sosial. Karena itu, komunikasi lembaga zakat harus humanis, ringan, dan penuh cerita.”
Data yang dibagikan dalam sesi ini menunjukkan bahwa meski nilai rata-rata donasi Gen Z lebih kecil dibanding milenial (sekitar Rp80 ribu per donasi), frekuensi dan loyalitas mereka terus meningkat. Tren penggunaan e-wallet dan preferensi terhadap kampanye digital yang transparan juga menandai perubahan besar dalam pola filantropi di Indonesia.
Selain memperkaya wawasan, workshop ini juga menjadi ruang diskusi interaktif bagi peserta yang berasal dari berbagai lembaga amil zakat, relawan digital, dan perwakilan komunitas filantropi. Para peserta berbagi pengalaman dan merumuskan langkah kolaboratif dalam memperkuat trust building serta engagement dengan publik muda.
Kegiatan ini dihadiri oleh lebih dari 70 peserta yang mewakili lebih dari 40 lembaga se-Jawa Barat. Melalui kegiatan ini, FOZ Jabar menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan kapasitas lembaga zakat dalam menghadapi tantangan digitalisasi dan perubahan perilaku donatur. “Kami ingin menjadikan workshop ini sebagai langkah awal menuju ekosistem zakat yang lebih transparan, adaptif, dan dekat dengan generasi muda,” tutup Jajang Nurjaman.









