Zakat Goes To Campus Chapter Semarang Tekankan Peran Strategis Anak Muda di Era Digital

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Zakat Goes To Campus Chapter Semarang

Zakat Goes To Campus Chapter Semarang

Forum ZakatZakat Goes To Campus (ZGTC) Chapter Semarang yang diselenggarakan di Universitas Diponegoro pada Jumat, 5 Desember 2025, menegaskan pentingnya peran generasi muda dalam mewujudkan gerakan zakat yang berkelanjutan di era digital. Talkshow bertema “Peran Strategis Generasi Muda untuk Gerakan Zakat yang Berkelanjutan di Era Digital” menghadirkan Ketua Prodi Ekonomi Syariah UNDIP Ariza Fuadi dan Pimpinan Bidang Pengembangan Ekosistem FOZ Yeni Nurjannah.

Dalam paparannya, para pembicara menekankan rendahnya literasi zakat di kalangan anak muda serta besarnya potensi zakat nasional yang baru tergarap sekitar 10 persen dari total Rp327 triliun. Kondisi ini menunjukkan adanya jarak antara potensi dan realisasi penghimpunan. “Kesempatan zakat di Indonesia sangat besar, tapi gap-nya juga besar. Bahkan orang terdekat kita masih banyak yang menyalurkan zakat lewat masjid, bukan lembaga zakat,” ujar salah satu narasumber dalam sesi tanya jawab.

Ariza Fuadi mengingatkan bahwa pengelolaan zakat tidak boleh bergantung pada momentum bencana semata. “Ketika berbicara tentang zakat, itu soal keberlanjutan. Penghimpunan harus setiap hari, karena banyak orang yang ingin berzakat tetapi tidak tahu caranya. Lembaga zakat harus responsif dan melakukan kampanye secara terus-menerus,” ujarnya. Ia juga menyoroti pentingnya interpretasi dan ketepatan program agar pentasarufan atau penyaluran benar-benar menyasar delapan asnaf secara berkelanjutan.

Sementara itu, Yeni Nurjannah menegaskan bahwa profesi amil menuntut kompetensi yang tidak sederhana. “Amil itu bukan pekerjaan mudah. Mereka harus menjadi sociopreneur yang menjalankan program sosial, konsultan keuangan bagi muzakki, sekaligus dai maupun daiyah. Mengedukasi tentang kebaikan itu juga bagian dari dakwah,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa lembaga zakat memiliki sistem asesmen yang memastikan bantuan tersalurkan kepada pihak yang benar-benar membutuhkan, sehingga pembayaran ZIS melalui lembaga tetap menjadi pilihan utama.

Sejumlah mahasiswa juga menanyakan arah penelitian zakat yang relevan. Para pembicara mendorong peneliti untuk turun langsung ke lapangan karena dinamika zakat sering kali berkaitan dengan budaya setempat. “Tantangannya sering kali soal adat. Lembaga ingin memberi kemudahan, tapi budaya masyarakat berbeda. Makanya amil harus kreatif, membaca situasi, dan mengeksekusi program dengan pendekatan sosial budaya,” ujar Pimpinan Bidang Pengembangan Ekosistem FOZ Yeni Nurjannah.

Diskusi juga menyoroti tantangan tata kelola, termasuk kebutuhan regulasi yang adaptif dan transparansi berbasis digital. Audit terbuka, pelaporan real-time, serta strategi branding dianggap penting agar zakat tetap relevan di era globalisasi. Kolaborasi lintas lembaga juga ditekankan mengingat lembaga amil zakat tidak bisa bekerja sendirian dalam menyelesaikan masalah kemiskinan. “Jangan capek jadi orang baik,” pesan Ariza menutup penjelasannya.

Menjelang akhir acara, narasumber mengingatkan bahwa banyaknya potensi zakat hanya dapat dioptimalkan jika literasi dan kesadaran masyarakat meningkat. Pemerintah memang tidak mewajibkan warganya berzakat, namun lembaga zakat selalu berada di garis depan ketika terjadi masalah sosial, termasuk respons bencana di Sumatera dan Aceh baru-baru ini.

Acara ditutup dengan penegasan bahwa generasi muda memegang peran sentral dalam keberlanjutan gerakan zakat. Anak muda bisa mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing, baik melalui gagasan, waktu, atau keterampilan. Kesimpulan talkshow merumuskan dua kunci utama: literasi dan kolaborasi. Keduanya diyakini mampu memperkuat tata kelola zakat nasional, sekaligus memastikan zakat terus relevan dan memberikan dampak berkelanjutan.