Indonesia Berdaya Hadirkan Selasar Hangat, Salurkan Zakat Fitrah Jangkau Provinsi dengan Kemiskinan Tertinggi

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Selasar Hangat Indonesia Berdaya

Forum Zakat, Jakarta – Gerakan kolaborasi nasional Indonesia Berdaya kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung upaya pengentasan kemiskinan ekstrem di Indonesia melalui sinergi lintas sektor. Kegiatan puncak ini berlangsung pada Kamis, 12 Maret 2026 di Jakarta International Velodrome, dengan menghadirkan berbagai pemangku kepentingan dari unsur pemerintah, lembaga zakat, filantropi, serta tokoh nasional.

Ketua Umum Forum Zakat, Wildhan Dewayana, menyampaikan bahwa platform Indonesia Berdaya merupakan wujud nyata kolaborasi berbagai pihak dalam menghadapi tantangan kemiskinan ekstrem yang tidak dapat diselesaikan secara sendiri-sendiri. Ia menekankan bahwa potensi zakat nasional yang diperkirakan mencapai Rp327 triliun masih terealisasi sekitar Rp44 triliun atau sekitar 13 persen, sehingga diperlukan penguatan kerja sama lintas sektor untuk mengoptimalkan potensi tersebut.

Melalui gerakan ini, Indonesia Berdaya menyatukan berbagai unsur mulai dari pemerintah, Forum Zakat, Majelis Ulama Indonesia, hingga lembaga filantropi. Wildhan juga menyampaikan bahwa dalam rangkaian program Indonesia Berdaya telah disalurkan bantuan senilai Rp437 miliar yang menjangkau 117 titik kantong kemiskinan ekstrem dengan sekitar 3 juta penerima manfaat dari kelompok fakir dan miskin.

Kegiatan penyaluran Selasar Hangat ini dilaksanakan secara serentak di delapan provinsi dengan tingkat kemiskinan tertinggi, yaitu Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Lampung, dan Banten. Selain itu, program juga menjangkau wilayah yang terdampak bencana di kawasan Sumatera, termasuk Aceh dan Sumatera Barat, sebagai bagian dari upaya memperluas jangkauan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Ketua Badan Amil Zakat Nasional terpilih, Sodik Mudjahid, menegaskan bahwa dalam ajaran Islam, upaya mengentaskan kemiskinan merupakan bagian dari tanggung jawab bersama umat. Ia menilai kolaborasi menjadi kunci penting agar pengelolaan zakat dapat memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat.

Menurutnya, komitmen untuk memberantas kemiskinan juga sejalan dengan agenda pembangunan nasional, termasuk dalam visi Asta Cita yang menempatkan pengentasan kemiskinan sebagai prioritas. Karena itu, optimalisasi zakat dan penguatan kerja sama antar lembaga menjadi langkah strategis untuk mempercepat upaya tersebut.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia, Rusdi Kirana, menyampaikan rasa syukur atas kondisi Indonesia sebagai negara yang menjunjung tinggi nilai toleransi di tengah kemajemukan masyarakatnya. Menurutnya, semangat saling menghormati menjadi fondasi penting dalam memperkuat kerja sama sosial, termasuk dalam upaya bersama mengatasi persoalan kemiskinan.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar, menekankan pentingnya memperkuat sinergi dan kolaborasi berbasis data agar program pengentasan kemiskinan dapat berjalan lebih tepat sasaran. Ia menyampaikan bahwa kemiskinan ekstrem harus diatasi secara serius melalui kerja bersama berbagai pihak.

“Ramadhan adalah momentum penuh keberkahan untuk memperkuat sinergi. Kita harus memastikan program zakat, infak, dan sedekah tidak berhenti di bulan Ramadhan saja, tetapi terus mendorong masyarakat agar bangkit, mandiri, dan berdaya,” ujarnya.

Ia juga mengajak seluruh pihak untuk memastikan bahwa berbagai program sosial benar-benar menjangkau masyarakat yang membutuhkan, sekaligus menjadi bagian dari upaya berkelanjutan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Melalui gerakan Indonesia Berdaya, kolaborasi antara pemerintah, lembaga zakat, dan sektor filantropi diharapkan terus berkembang sehingga mampu memperluas jangkauan manfaat serta mempercepat terwujudnya masyarakat Indonesia yang lebih berdaya dan sejahtera.