Forum Zakat, Depok – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) berkolaborasi dengan LAZNAS BMH, APCPSI, dan IPSPI menyelenggarakan kuliah umum internasional bertajuk “Social and Community Development Ideas Addressing Extreme Poverty in Indonesia.” Kegiatan ini menjadi ruang diskusi strategis untuk membahas berbagai pendekatan dalam mengatasi kemiskinan ekstrem melalui perspektif pembangunan sosial dan pemberdayaan masyarakat.
Kuliah umum ini menghadirkan Prof. Manohar Pawar, akademisi internasional di bidang pembangunan sosial dan pengembangan masyarakat dari Charles Sturt University, Australia. Kegiatan berlangsung secara hybrid di Auditorium Komunikasi UI dan diikuti oleh peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa, praktisi, hingga peneliti dari berbagai perguruan tinggi.
Dalam paparannya, Prof. Manohar Pawar menekankan bahwa penanganan kemiskinan ekstrem membutuhkan pendekatan yang komprehensif dan berbasis komunitas. Menurutnya, solusi yang efektif harus melibatkan partisipasi aktif masyarakat serta memperkuat kapasitas lokal.
“Pengentasan kemiskinan tidak bisa dilakukan secara parsial. Dibutuhkan pendekatan yang terintegrasi, melibatkan komunitas, serta memperhatikan konteks sosial dan budaya setempat,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa kolaborasi lintas sektor, termasuk antara akademisi, pemerintah, dan organisasi masyarakat, menjadi kunci dalam menciptakan perubahan yang berkelanjutan.
Turut hadir dalam kegiatan ini Dekan FISIP UI, Prof. Evi Fitriani, yang dalam sambutannya menyampaikan pentingnya peran perguruan tinggi dalam merespons isu-isu sosial yang berkembang di masyarakat.
“Kampus tidak hanya menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk berkontribusi dalam menyelesaikan persoalan sosial, termasuk kemiskinan ekstrem,” ungkapnya.
Sementara itu, Wakil Direktur Utama BMH, Rama Wijaya, menilai bahwa sinergi antara lembaga filantropi dan dunia akademik dapat memperkuat efektivitas program pemberdayaan masyarakat.
“Kami melihat bahwa praktik-praktik pemberdayaan yang dilakukan di lapangan perlu didukung oleh kajian akademik agar dampaknya lebih terukur dan berkelanjutan,” ujarnya.
Hal senada disampaikan oleh Ketua Tim Pengabdian Masyarakat, Prof. Fentiny Nugroho, yang menekankan pentingnya integrasi antara riset, pengabdian masyarakat, dan praktik pemberdayaan.
“Kolaborasi seperti ini membuka peluang untuk mengembangkan model intervensi sosial yang tidak hanya berbasis teori, tetapi juga relevan dengan kebutuhan masyarakat,” jelasnya.
Melalui kegiatan ini, diharapkan terjadi pertukaran gagasan dan praktik baik antar pemangku kepentingan dalam upaya memperkuat strategi pengentasan kemiskinan ekstrem di Indonesia. Sinergi antara akademisi, lembaga filantropi, dan organisasi profesi diharapkan mampu melahirkan inovasi serta pendekatan baru yang lebih efektif dan berkelanjutan.
Ke depan, kolaborasi semacam ini diharapkan dapat terus diperluas, sehingga kontribusi nyata dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat dapat semakin dirasakan secara luas.









