Bilal Khaled Ajak Penggiat Media Kemanusiaan Indonesia Jaga Kebenaran Lewat Dokumentasi

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Forum Zakat – Di sebuah ruangan konferensi Hotel Santika Premiere, Slipi, Jakarta Barat, suasana Jumat pagi (7/11/2025) terasa khusyuk. Para peserta workshop & sharing session “War Coverage” yang digelar Rumah Zakat duduk menyimak kisah dari seorang jurnalis yang telah menyaksikan hidup di tengah reruntuhan Gaza. Namanya Bilal Khaled, foto jurnalis Palestina sekaligus koresponden Al Jazeera.

Bagi Bilal, foto bukan sekadar hasil jepretan kamera. Ia adalah saksi sejarah rekaman peristiwa yang bisa mengubah cara dunia memandang kemanusiaan. Ia mengingatkan bagaimana satu foto bisa mengguncang dunia. Seperti gambar Mohammed Ad Dhuroh, anak Palestina yang tewas tertembak meski telah menyerahkan diri, atau potret anak-anak Vietnam yang berlari ketakutan dari serangan napalm, yang akhirnya memicu tekanan global hingga perang berakhir.

“Dari dokumentasi, lahir aksi simpatik. Dari satu foto, dunia bisa tersentuh,” ujarnya, membuat ruangan sejenak hening.

Namun di era digital, perjuangan itu tidak mudah. Bilal bercerita tentang context stripping  bagaimana media menghapus konteks untuk menggiring opini dan relabeling, ketika korban dijadikan pelaku dalam narasi berita. Ia mencontohkan laporan media internasional yang kerap menuding pemuda Palestina sebagai penyerang, padahal mereka sedang berjuang mempertahankan hidup.

Di sisi lain, pembatasan konten di media sosial juga menjadi tantangan. “Meta sering membatasi konten Palestina,” kata Bilal. “Tapi kita bisa menyiasatinya. Gunakan kata yang disamarkan. Sampaikan kebenaran dengan cara yang cerdas.”

Bilal juga menyoroti dilema yang sering muncul di kalangan lembaga kemanusiaan, apakah etis menampilkan foto korban di publikasi? Menurutnya, tidak perlu ragu. “Itu bukan penghinaan. Foto adalah bagian dari narasi untuk laporan penyaluran, arsip lembaga, dan tanggung jawab kepada donatur. Justru publik perlu tahu bahwa bantuan sampai ke tangan yang membutuhkan.”

Di akhir sesi, Bilal mengajak peserta untuk memperkuat narasi kemanusiaan lewat kolaborasi. Salah satunya dengan melibatkan influencer, agar pesan tentang Palestina bisa menjangkau publik lebih luas. Ketika tokoh publik bicara, muncul dorongan sosial, kalau mereka peduli, masa saya tidak?

Ia menutup dengan pesan yang sederhana tapi dalam, “Kita harus terlibat dalam wacana emosional dan publik. Karena di balik setiap foto, ada nyawa, ada kisah, ada kebenaran yang menunggu untuk disuarakan.”

Dari ruang konferensi yang sejuk itu, peserta pulang membawa pesan hangat dari Gaza, bahwa di tengah perang, dokumentasi bukan sekadar pekerjaan, melainkan bentuk perjuangan untuk kemanusiaan.