Mendorong Generasi Muda Berdaya: Zakat Jadi Mesin Percepatan Akses Kerja Lewat Paradaya Movement

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Paradaya Movement jadi percepatan akses kerja

Paradaya Movement jadi percepatan akses kerja

Oleh Raden Muhammad Budi Hartono
(Project Officer Sekolah Amil Indonesia & Mahasiswa Pascasarjana IAI SEBI)

Forum Zakat — Tingkat pengangguran anak muda di Indonesia kembali menjadi sorotan. Berdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) BPS, pengangguran usia 15–24 tahun menembus 16,16%, jauh di atas rata-rata nasional yang hanya 4,76%. Dari total 44,26 juta penduduk usia muda, sekitar 3,6 juta orang tercatat menganggur hampir setengah dari total penganggur nasional.

Masalah ini tak berdiri sendiri. Minimnya lapangan kerja, kesenjangan keterampilan, serta ketidaksesuaian pendidikan dengan kebutuhan industri membuat anak muda semakin sulit menembus pasar kerja. Sekitar 60,93% anak muda hanya berpendidikan SMA, sementara pelatihan vokasi masih terbatas. Situasi pasca pandemi memperburuk kondisi: persaingan kerja makin ketat dan 22,25% anak muda masuk kategori NEET (Not in Education, Employment, or Training). Jika tidak ditangani, kondisi ini bisa menjadi ancaman bagi keberlanjutan pembangunan nasional dan target-target SDGs. Diperlukan pendekatan baru yang lebih berkelanjutan—bukan hanya intervensi jangka pendek.

Dalam beberapa tahun terakhir, pengelolaan zakat mengalami transformasi besar. Banyak lembaga mulai menggeser pendekatan dari charity-based menjadi empowerment-based, dimana zakat bukan hanya memenuhi kebutuhan jangka pendek, tetapi menjadi investasi sosial yang membuat mustahik mandiri. Pendekatan ini sangat relevan untuk generasi muda yang menghadapi ketimpangan akses kerja dan keterampilan.

Melihat urgensi itu, ParagonCorp menghadirkan inovasi besar melalui Paradaya Movement (Gerakan Percepatan Masyarakat Muda Berdaya), sebuah model baru pengelolaan zakat yang fokus pada peningkatan keterampilan, pendampingan vokasi, dan pembukaan akses kerja bagi pemuda miskin. Inisiatif ini merupakan kolaborasi dengan Forum Zakat (FOZ) dan berbagai Organisasi Pengelola Zakat (OPZ) dari seluruh Indonesia.

Di batch pertama, 13 OPZ terlibat dari 11 provinsi telah memberikan pelatihan dan pendampingan kepada 923 penerima manfaat di lebih dari 50 bidang kerja. Tidak hanya melatih, tapi juga mempertemukan peserta dengan off-taker atau pemberi kerja. Program terbukti efektif; 672 dari 923 peserta berhasil bekerja atau berwirausaha mandiri. Pada tahun 2025, Paradaya memasuki batch kedua dengan skala lebih besar dengan 15 OPZ kolaborator dan 1.316 penerima manfaat serta penyebaran di lebih banyak wilayah Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa ketika zakat dikelola secara produktif, ia bukan hanya menurunkan angka kemiskinan, tetapi menjadi katalis transformasi ekonomi pemuda.

Indonesia sedang berada pada masa bonus demografi, di mana jumlah penduduk usia produktif lebih besar dibanding kelompok lain. Namun, bonus ini bisa menjadi “beban demografi” jika jutaan pemuda tidak mendapatkan akses kerja. Model Paradaya Movement membuktikan bahwa pelibatan multipihak ditambah pendekatan vokasi dan mentoring berkelanjutan mampu menurunkan angka pengangguran dan meningkatkan daya saing pemuda. Jika direplikasi oleh perusahaan lain, lembaga zakat, maupun pemerintah daerah, model ini bisa menjadi salah satu motor penggerak ekonomi baru berbasis ekosistem zakat.

Dengan potensi zakat nasional mencapai Rp327 triliun, skala dampaknya dapat berlipat ganda menjadi kekuatan besar dalam membangun kemandirian ekonomi umat.

Paradaya Movement bukan sekadar program vokasi, tetapi blueprint masa depan pemberdayaan pemuda. Model ini menunjukkan bagaimana zakat dapat menjadi:

  • Mesin akselerasi akses kerja,
  • Jembatan antara skill dan kebutuhan industri,
  • Solusi nyata mengurangi pengangguran,
  • Serta ruang kolaborasi lintas sektor untuk menciptakan perubahan.

Jika gerakan seperti ini diperluas, bukan mustahil Indonesia bukan hanya keluar dari krisis pengangguran pemuda, tetapi justru melahirkan generasi emas yang mampu menciptakan lapangan kerja baru dan menjadi motor pertumbuhan ekonomi nasional.