Mengubah Limbah Jadi Sedekah, Ruang Tengah FOZ Kupas Praktik Baik Zakat Peduli Lingkungan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Ruang Tengah Sedekah Limbah

Forum Zakat, Jakarta — Persoalan sampah tidak hanya berkaitan dengan kebersihan lingkungan. Ketika tidak dikelola dengan baik, sampah dapat menjadi persoalan sosial sekaligus kehilangan peluang untuk menjadi sumber daya yang bernilai. Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Ruang Tengah Kolaborasi Forum Zakat (FOZ) yang digelar secara daring pada Senin (24/8/2026).

Mengangkat tema “Sedekah Alternatif Limbah Rumahan: Gerakan Zakat Peduli Lingkungan”, Ruang Tengah kali ini menghadirkan praktik program lingkungan dari tiga lembaga anggota FOZ, yakni Itqan Peduli, LAZ Rumah Sosial Kutub, dan Zakat Sukses. Ketiganya berbagi pengalaman dalam mengembangkan program yang menghubungkan kepedulian lingkungan dengan pemberdayaan masyarakat.

Forum tersebut menghadirkan Edwin Gafitra Setiawan, S.H., MBA., CWC., CEO Itqan Peduli; Muhammad Rizki Akbar, Manajer Pendistribusian dan Pendayagunaan Zakat Sukses sekaligus Founder Sekolah Sampah Indonesia; serta M. Abdel Achrian, Program Development LAZ Rumah Sosial Kutub.

Salah satu praktik yang dibagikan dalam forum adalah Maggoz Farm Integrated Farming yang dikembangkan melalui Sekolah Sampah Indonesia. Program ini mengolah sampah organik dan sisa makanan menggunakan maggot Black Soldier Fly (BSF), kemudian menghubungkannya dengan pertanian terpadu.

Model tersebut membangun sebuah siklus: masyarakat memilah sampah organik, sampah diolah menjadi pakan ternak dan pupuk tanaman, sementara hasil pertanian kembali memberikan manfaat bagi masyarakat. Warga sekitar juga memperoleh akses telur ayam dengan harga murah dan sayuran bagi mereka yang rutin menyetorkan sampah.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dapat dikembangkan lebih jauh dari sekadar aktivitas lingkungan. Ketika dikelola melalui pendekatan pemberdayaan, sampah dapat menjadi pintu masuk untuk membangun ketahanan pangan, menciptakan keterampilan baru, sekaligus menggerakkan partisipasi masyarakat.

Data yang dipaparkan dalam Ruang Tengah menunjukkan urgensi pendekatan tersebut. Berdasarkan data SIPSN Juni 2025 yang dipaparkan, 40,26 persen sampah nasional belum terkelola dengan baik, 39,26 persen timbul sampah merupakan sisa makanan, dan 53,74 persen sumber utama sampah berasal dari rumah tangga.

Karena sebagian besar sampah berasal dari rumah tangga, intervensi pun diarahkan dari titik yang paling dekat dengan sumbernya. Salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah BESTie Green Corps, yang menempatkan ibu rumah tangga sebagai subjek sekaligus penggerak edukasi pengelolaan sampah di lingkungan masing-masing.

Peserta mengikuti delapan kali pertemuan selama dua bulan melalui pemaparan, diskusi kelompok, simulasi, dan praktik. Materinya mencakup go green mindset, prinsip zero waste, pemilahan sampah, pengolahan sampah organik dan anorganik, hingga urban farming.

Menariknya, peserta tidak hanya diposisikan sebagai penerima manfaat. Pada akhir program, mereka diarahkan untuk bertransformasi menjadi trainer yang dapat membawa pengetahuan tersebut ke lingkungan masing-masing. Peserta menyusun action plan, mulai dari mengedukasi ibu-ibu lain melalui pengajian RT, menggerakkan tetangga untuk memilah sampah, hingga menginisiasi kegiatan pengolahan sampah di lingkungannya.

Hingga tahap yang dipaparkan dalam forum, program tersebut telah meluluskan 43 ibu rumah tangga sebagai trainer, membekali peserta dengan 20 keterampilan baru, dilaksanakan di dua lokasi binaan, serta dilanjutkan dengan pendampingan selama empat bulan setelah pelatihan.

Melalui Ruang Tengah, Forum Zakat mempertemukan berbagai pengalaman program dari lembaga anggota agar praktik baik tidak berhenti di satu tempat. Model yang telah teruji dapat dipelajari, dikembangkan, bahkan direplikasi oleh lembaga zakat lainnya sesuai konteks wilayah masing-masing.

Sekolah Sampah Indonesia sendiri membuka ruang kolaborasi bagi OPZ anggota FOZ yang ingin mereplikasi model tersebut.

Pada akhirnya, mengubah limbah menjadi sedekah bukan hanya tentang memindahkan sampah dari tempat pembuangan. Lebih dari itu, gerakan tersebut menunjukkan bagaimana dana dan program zakat dapat mengambil peran dalam menjawab persoalan lingkungan sekaligus membangun keberdayaan masyarakat, dari sampah yang semula dianggap tak bernilai, menjadi manfaat yang kembali dirasakan bersama.