Forum Zakat, Pontianak — Menjadi amil berarti menjalani lebih dari satu peran dalam waktu yang bersamaan. Ada amanah yang harus dituntaskan di tempat kerja, tetapi di saat yang sama ada keluarga yang juga membutuhkan kehadiran.
Lalu, apakah keduanya harus selalu dipertentangkan?
Pertanyaan tersebut menjadi bagian dari pembahasan Ruang Amil x Amil Book Club Chapter Pontianak yang digelar pada Jumat (7/8/2026). Kegiatan yang diinisiasi Sekolah Amil Indonesia ini mempertemukan para 21 amil dari berbagai lembaga zakat di Kalimantan Barat dalam ruang belajar dan diskusi bersama.
Berbeda dengan pertemuan sebelumnya, Chapter Pontianak berlangsung dengan antusiasme yang lebih ramai. Para amil dari berbagai lembaga zakat hadir dan mengikuti diskusi yang dipandu oleh Kepala Sekolah Amil Indonesia, Dimas Pamungkas.
Lembaga zakat di antaranya, Baitulmaal Munzalan Indonesia (BMI), YAKESMA Kalbar, Dompet Dhuafa Kalbar, LAZISMU Kalbar, Dompet Ummat, Baitulmaal Saudara Seiman, serta umum.
Kali ini, Dimas membawa tema Connected Productivity, sebuah pembahasan tentang bagaimana seseorang dapat menghubungkan berbagai peran dalam kehidupannya agar dapat berjalan secara lebih selaras.
Produktif Tanpa Harus Mengorbankan Salah Satunya
Dalam keseharian, pekerjaan dan keluarga kerap ditempatkan seolah berada di dua sisi yang berbeda. Ketika pekerjaan sedang padat, keluarga dianggap harus menunggu. Sebaliknya, ketika keluarga membutuhkan perhatian, pekerjaan seakan menjadi hal yang harus dikorbankan.
Melalui Connected Productivity, para amil diajak melihat persoalan tersebut dari sudut pandang yang berbeda.
Kerja dan keluarga tidak harus selalu dibenturkan. Keduanya dapat berjalan beriringan ketika seseorang mampu menemukan cara untuk menghubungkan peran dan tanggung jawab yang dimilikinya.
Pembahasan ini menjadi relevan bagi para amil yang sehari-hari menjalankan berbagai amanah sekaligus. Produktivitas tidak semata-mata berbicara tentang seberapa banyak pekerjaan yang dapat diselesaikan, tetapi juga bagaimana seseorang menjalani berbagai perannya secara utuh.
Ruang diskusi kemudian menjadi tempat para peserta untuk merefleksikan kembali hubungan antara peran profesional dan kehidupan personal. Alih-alih mencari cara untuk memilih salah satunya, peserta diajak menemukan pola yang memungkinkan keduanya saling mendukung.
Di sinilah konsep “connected” menjadi penting. Pekerjaan dan keluarga tidak dilihat sebagai dua dunia yang harus dipisahkan secara kaku, melainkan sebagai bagian dari kehidupan yang dapat saling terhubung.
Ruang Bertemu, Ruang Bertumbuh
Semangat tersebut sejalan dengan gagasan yang dibawa Sekolah Amil Indonesia melalui Ruang Amil. Forum ini tidak hanya menghadirkan materi, tetapi juga menyediakan ruang bagi para amil untuk bertemu, bertukar pengalaman, dan belajar dari perjalanan satu sama lain.
Chapter Pontianak kembali memperlihatkan bahwa kebutuhan untuk berkumpul dan belajar bersama tidak berhenti pada batas lembaga. Para amil datang dari berbagai latar belakang lembaga zakat, tetapi memiliki tantangan yang sama sebagai insan yang menjalankan amanah di dunia perzakatan.
Dalam ruang seperti ini, pengalaman tidak hanya datang dari materi yang disampaikan narasumber. Percakapan antarpeserta, pengalaman di lapangan, hingga refleksi atas kehidupan sehari-hari menjadi bagian dari proses belajar.
Connected Productivity pun akhirnya tidak berhenti sebagai pembahasan tentang bagaimana bekerja lebih produktif. Lebih jauh, ia mengajak para amil melihat kembali bagaimana mereka menjalani seluruh peran yang dimiliki; sebagai pekerja, anggota keluarga, dan bagian dari gerakan zakat.
Sebab menjadi produktif bukan berarti harus terus bergerak tanpa jeda. Produktivitas juga berarti mampu menghubungkan apa yang kita kerjakan dengan kehidupan yang ingin kita jalani.
Dari Pontianak, Ruang Amil kembali menghadirkan satu pengingat sederhana: kita tidak harus memilih antara menjadi baik di tempat kerja atau hadir untuk keluarga. Dengan cara yang tepat, keduanya bisa tumbuh bersama.









