Forum Zakat, Yogyakarta – Di sebuah sudut Dusun Candi III, Sardonoharjo, Sleman, tawa anak-anak terdengar lebih riuh dari biasanya. Pagi itu terasa berbeda. Tas baru yang masih rapi tergantung di pundak kecil mereka, buku tulis bersih siap diisi dengan harapan baru. Bagi anak-anak yatim di sana, bantuan perlengkapan sekolah bukan sekadar barang, melainkan penyemangat untuk terus melangkah.
Momentum bulan Muharram dimanfaatkan oleh Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) untuk menghadirkan kebahagiaan sederhana tersebut. Pada Kamis, 25 Juni 2026, BMH menyalurkan paket perlengkapan sekolah dan makanan ringan kepada anak-anak yatim di beberapa titik wilayah.
Salah satu penerima manfaat, Aisyah (10), tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Ia bercerita bahwa tas lamanya sudah lama rusak dan sering membuatnya minder saat berangkat sekolah.
“Sekarang aku senang sekali, tasnya bagus. Jadi tambah semangat belajar,” ucapnya pelan, sambil memeluk tas barunya.
Bagi masyarakat setempat, kehadiran program ini bukan hanya bantuan sesaat, tetapi bentuk nyata kepedulian yang menyentuh langsung kebutuhan anak-anak.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada teman-teman BMH Yogyakarta yang telah peduli kepada anak-anak yatim di lingkungan kami. Ini sangat berarti bagi mereka,” ujar Bayu, Ketua RT setempat.
Program seperti ini menjadi salah satu contoh praktik baik lembaga zakat dalam mendukung upaya pengentasan kemiskinan, khususnya melalui pendekatan pendidikan. Dengan memastikan anak-anak yatim tetap memiliki akses belajar yang layak, zakat tidak hanya berfungsi sebagai bantuan konsumtif, tetapi juga investasi jangka panjang bagi masa depan mereka.
Muhammad Nashir, Kepala Divisi Program BMH Yogyakarta, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen lembaga dalam menghadirkan dampak yang berkelanjutan.
“Program ini bukan hanya berbagi perlengkapan sekolah, tapi juga bagian dari ikhtiar kami mendukung peningkatan kualitas hidup anak-anak yatim dan masyarakat prasejahtera. Pendidikan adalah salah satu jalan penting untuk memutus rantai kemiskinan,” jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa keberhasilan program ini tidak lepas dari dukungan para donatur yang terus mempercayakan zakatnya kepada BMH.
“Kami sangat berterima kasih kepada para donatur. Kolaborasi ini yang memungkinkan program-program pemberdayaan seperti ini terus berjalan dan memberi manfaat luas,” tambah Nashir.
Upaya ini sejalan dengan semangat kolaborasi dalam pengentasan kemiskinan yang terus didorong melalui berbagai inisiatif, termasuk Multi Stakeholder Forum (MSF), di mana lembaga zakat, masyarakat, dan berbagai pihak bersinergi menghadirkan solusi nyata bagi kelompok rentan.
Melalui langkah-langkah sederhana namun berdampak seperti ini, zakat membuktikan perannya tidak hanya sebagai kewajiban ibadah, tetapi juga sebagai instrumen sosial yang mampu menghadirkan harapan, bahkan dari sebuah tas sekolah di tangan anak yatim.









