Sekolah Amil Indonesia Gelar Kopdar HR OPZ, Dorong Pemberdayaan Amil Berbasis Strategi dan Budaya

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Kopdar HR OPZ

Forum Zakat, Jakarta Selatan — Sekolah Amil Indonesia menyelenggarakan Kopdar HR OPZ bertajuk “Empowerment Amil: Menggali & Meningkatkan Potensi Amil” pada Rabu, 24 Juni 2026, di Kantor Sekretariat Forum Zakat (FOZ), Jakarta Selatan. Kegiatan ini menjadi ruang diskusi strategis bagi para praktisi SDM lembaga zakat dalam memperkuat peran amil sebagai motor penggerak organisasi.

Acara ini menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Hairunnisa Rahmawati selaku Sekretaris Bidang Pengembangan SDM FOZ, Dimas Pamungkas selaku Kepala Sekolah Amil Indonesia, serta Widodo A sebagai praktisi HR dan Program Dompet Dhuafa.

Dalam diskusi, para peserta membedah berbagai tantangan pengelolaan SDM amil, mulai dari proses rekrutmen, pengembangan kapasitas, hingga membangun budaya organisasi yang kuat. Pendekatan pemberdayaan menjadi fokus utama yang diyakini mampu meningkatkan totalitas dan loyalitas amil.

Kepala Sekolah Amil Indonesia, Dimas Pamungkas, menegaskan bahwa pemberdayaan bukan sekadar konsep, tetapi harus diwujudkan dalam sistem kerja yang nyata.

“Jika mau amil punya totalitas dan loyalitas maka harus diberdayakan,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa pemberdayaan harus tetap berjalan seiring dengan kepatuhan terhadap SOP, serta didukung oleh struktur dan kultur organisasi.

“Ada dua cara agar empowerment berjalan, yaitu melalui struktur organisasi dan kultur organisasi. Organisasi tidak akan maju jika tidak diberi ruang untuk mengemukakan gagasan,” jelas Dimas.

Lebih lanjut, Dimas menjelaskan bahwa pemberdayaan dapat dipantik melalui empat aspek utama, yakni informasi kinerja, sistem penghargaan, akses pengetahuan, dan pemberian kewenangan kepada amil.

“Cara memantik orang berdaya adalah dengan memberikan kekuasaan. Ruang belajar juga harus dibuka agar amil bisa berkembang,” tambahnya.

Sementara itu, dalam sesi diskusi, juga mengemuka pentingnya membangun integritas dan budaya organisasi yang berkelanjutan. Integritas tidak cukup hanya menjadi jargon, melainkan harus ditanamkan sebagai karakter yang melekat pada setiap amil.

“Integritas bukan hanya tentang mencetuskan sesuatu, tetapi bagaimana menanamkan karakter agar tetap terjaga, bahkan ketika amil sudah tidak berada di lembaga,” ungkap salah satu poin diskusi.

Selain itu, peserta juga menyoroti pentingnya keberanian dalam berinovasi serta konsistensi dalam menjalankan strategi organisasi.

“Inovasi tidak akan berdampak jika tidak ada keberanian untuk mengemukakan, dan inovasi harus memberikan implikasi nyata,” menjadi salah satu penekanan dalam forum tersebut.

Kopdar ini juga membuka ruang berbagi pengalaman antar praktisi HR OPZ terkait dinamika di lapangan, seperti menghadapi perbedaan karakter amil, membangun empati terhadap lembaga, hingga menyelaraskan idealisme individu dengan visi organisasi.

Melalui kegiatan ini, Sekolah Amil Indonesia bersama FOZ berharap dapat mendorong penguatan kapasitas SDM amil secara lebih terarah dan berkelanjutan, sehingga mampu meningkatkan kinerja lembaga zakat serta memberikan dampak yang lebih luas, baik secara internal maupun kepada masyarakat penerima manfaat.