Wakil Ketua Bidang V FOZ Tekankan Peran Strategis OPZ Memperkuat Kesehatan Ibu Anak, Wujudkan Kesejahteraan Ekonomi

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Peran Strategis OPZ Memperkuat Kesehatan Ibu Anak

Peran Strategis OPZ Memperkuat Kesehatan Ibu Anak

Forum Zakat – Wakil Ketua Bidang V Forum Zakat, Humairoh Anahdi memaparkan perspektif posisi gerakan zakat dalam penguatan kesehatan ibu dan anak korelasi pemberdayaan ekonomi. Hal ini disampaikan pada gelaran awal CEO OPZ Forum 2025 di Senen, Jakarta Pusat.

Humairoh Anahdi mengungkapkan posisi lembaga zakat sebenarnya sudah masuk dalam ekosistem kesehatan, tetapi “mungkin belum bisa mengganti peran sistem kesehatan,” karena perspektif sebagian lembaga zakat masih melihat sehat sebatas kondisi tidak sakit. Ia menekankan bahwa sehat harus dimaknai sebagai kondisi produktif, dengan menyatakan, “Sehat itu bukan tidak sakit… sehat itu produktif.” Pandangan ini penting karena produktivitas berkaitan langsung dengan kemampuan keluar dari kemiskinan.

Dalam diskusi panel juga membahas tantangan persepsi dan praktik kesehatan di OPZ. Banyak lembaga zakat menilai kesehatan hanya dari pendekatan kuratif dan fasilitas, padahal menurutnya, “Penyuluhan itu juga program kesehatan,” dan banyak OPZ sudah melakukan upaya promotif, preventif, hingga rehabilitatif namun tidak terdokumentasi sebagai bagian dari sistem kesehatan nasional. Beliau menekankan bahwa kontribusi OPZ sering tidak terlihat karena “tidak tercatat”, sehingga tidak masuk dalam kebijakan formal.

Kesehatan juga berkaitan dengan konteks kemiskinan multidimensi. Ketika menjelaskan hubungan kesehatan, kemiskinan, dan ekonomi rumah tangga, Humairoh menyampaikan bahwa pandemi Covid-19 membuka mata banyak pihak. “Orang sekaya apa pun kalau tidak bisa bekerja, dia masuk kategori miskin,” ujarnya, merujuk pada keputusan MUI yang membuka ruang penggunaan dana zakat di bidang kesehatan. Menurut beliau, kesehatan dan kemiskinan saling mempengaruhi dua arah: “kesehatan bisa mengentaskan kemiskinan, dan kemiskinan memperburuk kesehatan.”

Dalam konteks program Zakat Infak, dan Sedekah (ZIS), Humairoh menyoroti ragam program kesehatan yang telah dilakukan OPZ, mulai dari emergency response, medical check-up, klinik, program stunting, hingga edukasi gizi. Meski begitu, ia menegaskan bahwa keberhasilan program sangat dipengaruhi kapasitas amil dan visi lembaga. 

Beliau menutup pemaparannya dengan menekankan bahwa OPZ memiliki kekuatan besar karena kedekatannya dengan masyarakat, termasuk daerah terpencil. Namun tantangannya adalah menjelaskan kepada manajemen bahwa program promotif dan preventif memang tidak terlihat hasilnya secara instan, tetapi sangat mempengaruhi status kesehatan dan status kemiskinan jangka panjang. Menurutnya, “Lembaga zakat itu paling kenal orang-orang miskin,” sehingga peran OPZ sangat strategis dalam memperkuat kesehatan ibu dan anak sekaligus meningkatkan kesejahteraan keluarga.