Forum Zakat – Isu kemanusiaan di Palestina kembali menjadi pembahasan dalam sesi Urun Rembuk Menembus Blokade Gaza, bagian dari Zakat Goes to Campus yang digelar di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI) pada Kamis (30/10). Kegiatan ini menghadirkan Agung Nurwijoyo, M.Sc. selaku pakar Timur Tengah dan akademisi UI, Wanda Hamidah sebagai aktivis kemanusiaan, serta Irvan Nugraha, CEO Rumah Zakat yang menjadi salah satu anggota Forum Organisasi Zakat (FOZ).
Dalam sambutannya, Irvan Nugraha menyampaikan apresiasi kepada Fakultas Hukum UI yang telah memfasilitasi kegiatan tersebut, sembari menegaskan bahwa gerakan zakat bukan hanya tentang penyaluran dana sosial, melainkan juga tentang perjuangan kemanusiaan. “Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan fatwa bahwa zakat boleh disalurkan ke Palestina. Ini bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual kita,” ujarnya.
Irvan menilai pentingnya peran mahasiswa dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat tertindas, termasuk rakyat Palestina, serta menyerukan agar dunia akademik menjadi bagian dari perjuangan global melawan ketidakadilan. Ia juga menyinggung gerakan global seperti Sumud Flotilla sebagai simbol perlawanan terhadap blokade Gaza dan menceritakan kisah pemuda-pemuda Gaza yang tetap berjuang di tengah keterbatasan. “Perjuangan kemerdekaan Palestina bukan hanya milik mereka, tapi juga tanggung jawab kemanusiaan kita semua,” tutupnya.
Sama halnya, aktivis kemanusiaan Wanda Hamidah yang baru kembali dari perjalanan bersama Sumud Flotilla menegaskan bahwa membela Palestina bukan semata-mata soal politik, tetapi soal akidah dan kemanusiaan. “Palestina bukan hanya soal tanah, tapi tentang iman. Zionisme menjajah dengan ide kekuasaan dan uang, bukan agama,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa genosida terhadap rakyat Palestina telah berlangsung hampir delapan dekade, namun baru dua tahun terakhir dunia mulai sadar karena dominasi media internasional yang menutupi kebenaran. Wanda menyerukan agar perjuangan dilakukan dengan kekuatan ilmu, iman, dan persatuan, bukan dengan kekerasan.
Mengutip QS Al-Anfal ayat 60, Wanda menekankan pentingnya mempersiapkan kekuatan yang dimiliki untuk melawan penjajahan, termasuk melalui pengetahuan dan akhlak. Ia menolak keras gagasan two-state solution dengan menyatakan bahwa tidak pernah ada bangsa yang hidup damai dengan penjajahnya. Sebagai bentuk aksi nyata, Wanda menyerukan boikot terhadap produk-produk yang terafiliasi dengan Zionis seperti McDonald’s, Danone, Starbucks, Netflix, dan Spotify. “Boikot adalah jihad sosial kita. Kalau melihat kezaliman, jangan diam. Mulailah dari hal kecil: berdonasi, berdiskusi, dan menekan pemerintah agar bersuara untuk Palestina,” ujarnya yang disambut tepuk tangan peserta.
Pakar Timur Tengah dan akademisi UI, Agung Nurwijoyo, menambahkan bahwa isu penindasan terhadap Palestina tidak bisa dilepaskan dari konteks geopolitik global yang sarat kepentingan politik dan ekonomi negara adidaya. “Israel itu ditopang oleh kekuatan ekonomi, militer, dan politik di semua panggung dunia. Karena itu, perjuangan Palestina adalah perjuangan global melawan hegemoni,” jelasnya. Ia mengingatkan bahwa Indonesia memiliki tradisi panjang dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa-bangsa tertindas sejak Konferensi Asia Afrika 1955 dan Gerakan Non-Blok 1961, serta menilai bahwa isu Palestina kini kembali menjadi pusat perhatian dunia.
Agung menjelaskan bahwa dukungan simbolik terhadap Palestina perlu diwujudkan menjadi kekuatan nyata melalui advokasi hukum, tekanan publik, dan gerakan boikot. “Kesadaran hati nurani dunia mulai bangkit. Tapi dukungan simbolik tidak cukup jika tidak diikuti tindakan nyata,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa Indonesia tidak memiliki urgensi untuk menormalisasi hubungan dengan Israel, dan kebijakan luar negeri harus tetap berpihak pada kemerdekaan Palestina. “Kita tidak perlu menormalisasi hubungan dengan penjajah. Sebagai masyarakat, teruslah membaca, berdonasi, bersuara, berdoa, dan memboikot,” katanya.
Ia juga menekankan peran penting kampus sebagai pusat pengetahuan, riset, dan advokasi. “Knowledge is power,” ujarnya, mengajak mahasiswa menjadikan kampus sebagai ruang solidaritas lintas bangsa. Menurutnya, perang di Gaza telah membuat isu Palestina kembali menjadi perhatian utama dunia dan menjadi simbol keteguhan perlawanan rakyat tertindas. Mengutip seniman Palestina Rafif Ziyadah, Agung menutup dengan kalimat, “We teach life, sir,” sebagai refleksi keteguhan rakyat Palestina yang tetap hidup dan mengajarkan makna perjuangan kepada dunia.
Acara diakhiri dengan seruan lantang “Free Palestine!” dipandu narasumber. Dari ruang Auditorium Djokosoetono Fakultas Hukum UI, suara solidaritas untuk Gaza menggema, menegaskan bahwa perjuangan untuk kemanusiaan tak akan berhenti di batas wilayah, tetapi akan terus hidup di hati generasi muda Indonesia.









